Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 November 2015

Peringati Harlah ke-89 NU, PMII IAI Nurul Jadid Gelar Istighotsah

Probolinggo, PPQ Al-Amin Purwokerto. Bertempat di Aula SMA Nurul Jadid, Pengurus Komisariat PMII Institut Agama Islam Nurul Jadid (IAI NJ) gelar Peringatan Hari Lahir ke-89 NU yang dikemas dengan Istighotsah Untuk Bangsa bada sholat Jumat kemarin (30/01).

Kegiatan yang bertema NKRI, Aswaja dan Masa Depan Nadlatul Ulama itu dihadiri puluhan kader PMII baik dari rayon dan delegasi beberapa komisariat se-Probolinggo.

Peringati Harlah ke-89 NU, PMII IAI Nurul Jadid Gelar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah ke-89 NU, PMII IAI Nurul Jadid Gelar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)


Peringati Harlah ke-89 NU, PMII IAI Nurul Jadid Gelar Istighotsah

Ruslan ketua PMII IAI NJ mengatakan, PMII tidak ada begitu saja. PMII lahir dari orangtua bernama NU.

Sebagai anak yang berakhlak, kita patut memperingati. Toh walaupun berbeda Jasmani, tapi rohani kita tetap satu, yakni Aswaja, katanya.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Muhammad Towil Ketua Umum PMII Cabang Probolinggo dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan tersebut. Towil bangga masih ada pengurus komisariat PMII yang memperingati hari lahir NU. Ini berarti kader masih ingat darimana PMII lahir. Towil menambahkan, peringatan hari lahir ini adalah momen untuk meneladani tokoh-tokoh NU. Menjadi spirit buat kader PMII mencontoh tokoh-tokoh NU.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Kiai Moh. Zuhri Zaini Wakil RAis Syuriyah PWNU Jawa Timur yang hadir dalam kesempatan itu mengutarakan, PMII adalah anak kandung NU yang sudah dewasa. Jangan sekali-kali lupakan ayahnya. Kiai Zuhri menambahkan, PMII termasuk anak sholeh, anak yang lahir lalu mendoakan orang tuanya. Sedang dewasa ini banyak anak yang durhaka.

Ini sesuatu yang luar biasa. Kadang-kadang orang-orang NU saja lupa, tapi PMII walaupun muda tapi masih ingat, imbuh Kiai Zuhri.

Memperingati berarti mensyukuri. Selain tasyakuran tapi juga bagaimana kita dapat mewarisi nilai-nilai para pendahulu kita, pesan Kiai yang juga tercatat sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut, Kiai Maimun Makki Wafi selaku pembina komisariat PMII IAI NJ, Kiai Tauhidullah Badri pengasuh PP Badridduja, Kraksaan Probolinggo sebagai penceramah, dan Kiai Najiburrahman Wahid Wakil Ketua yayasan PP Nurul Jadid yang mimpin Istighotsah untuk Bangsa, dan. (beny/mukafi niam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57324/peringati-harlah-ke-89-nu-pmii-iai-nurul-jadid-gelar-istighotsah

PPQ Al-Amin Purwokerto

Jumat, 21 Agustus 2015

Gus Dur dan Imam Bushiri yang Mencari Kanjeng Nabi

PPQ Al-Amin Purwokerto - Ketika pertama kali mendengarkan madah Al-Burdah indah yang didendangkan Gus Dur (Allahu yarhamuh) di sebuah channel tivi, tak terasa tetes air mata menetes pelan dari kedua mata saya. Lama sekali saya tercenung dan termenung. Entah mengapa, mendengarkan madah nabawiyyah indah menyayat hati yang disenandungkan Gus Dur dengan sepenuh hati itu , yang terbayangkan oleh saya seakan Gus Dur sedang bersimpuh dan berdoa dengan sepenuh hati kepada Allah Swt. dengan tetes mata meleleh deras.

Huwa al-habibu al-ladzi, turja syafa‘atuhu

Gus Dur dan Imam Bushiri yang Mencari Kanjeng Nabi - PPQ Al-Amin Purwokerto
Gus Dur dan Imam Bushiri yang Mencari Kanjeng Nabi - PPQ Al-Amin Purwokerto


Gus Dur dan Imam Bushiri yang Mencari Kanjeng Nabi

Min kulli haulin min al-ahwali muqtahimi

---

Ya Rabbi bi al-Musthafa, balligh maqashidana

Waghfir lana ma madha, ya wasi‘ al-karami

---

Maulaya shalli wa sallim da’iman abada

‘Ala habibika khairi al-khalqi kullihimi --- Dialah sang kekasih yang syafaatnya dinanti senantiasa

(Dalam menghadapi) segala derita dan petaka yang menerpa

---

Wahai Tuhan, demi Al-Musthafa (Muhammad Saw.)

Antarkanlah kami dalam menggapai cita-cita

Juga, ampunilah kami dari segala dosa

Wahai Yang Mahaluas dalam menganugerahkan karunia

--- Tuhan kami, shalawat dan salam kiranya tercurahkan senantiasa

Kepada kekasih-Mu yang tiada manusia mana pun kuasa menyetarainya

Madah indah yang disenandungkan Gus Dur di atas sejatinya adalah penggalan dari madah Al-Burdah yang digubah Abu ‘Abdullah Syarafuddin Muhammad bin Sa‘id Al-Shanhaji Ad-Dalashi Al-Bushiri, seorang penyair yang wafat pada 681 H/1279 M di Mesir.

Nah, madah dengan judul Al-Kawakib Al-Duriyah fi Madh Khair Al-Bariyyah itu sendiri sejatinya merupakan kasidah yang berisi pujian, kisah kelahiran, mi‘raj, perjuangan, dan doa bagi Nabi Muhammad Saw.

Karya yang terdiri dari 162 bait dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, antara lain ke dalam bahasa Latin (1175 H/1761 M), Inggris oleh J.W. Redhouse (1299 H/1881 M), Perancis oleh de Sacy (1238 H/1822), Italia oleh Giuseppe Gabrieli (1319 H/1901 M), dan Jerman oleh Vincenz von Rosenzweig-Schawanau (1240 H/1824 M), di samping berbagai bahasa di dunia Islam, lahir selepas melintasi proses yang menarik. (Baca juga: Perjalanan Mencari Ijazah Burdah Habib Qodir)

Suatu saat Al-Bushiri berhasrat sekali menggubah madah panjang untuk Rasul Saw. Ketika ia mulai menggubah karyanya itu, ia jatuh sakit dan kemudian kelumpuhan menimpa dirinya. Tapi, hal itu tidak menghalanginya untuk melanjutkan upayanya itu, seraya berdoa kiranya Allah Swt. menyembuhkan kelumpuhan yang menimpa dirinya.

Kemudian, suatu peristiwa aneh menimpa dirinya. Selama berbulan-bulan ia merasakan bahwa sesuatu akan terjadi pada dirinya. Manakala makan, ia lebih suka menyendiri, untuk menantikan sesuatu yang bakal terjadi. Manakala tidur, ia suka mencari kamar yang terpencil dan kemudian menantikan sesuatu yang menggelitik perasaannya.

Tapi, bukan kematian yang ia nanti-nantikan. Perasaannya mengatakan, seorang tamu agung bakal mengunjunginya. Tamu agung berasal dari sebuah negeri nun jauh dan membawa pesan khusus kepadanya. Kondisi ini membuat karyanya tidak kunjung rampung.

Dari manakah datangnya perasaan serupa itu? Al-Bushiri sendiri tidak mengetahuinya. Tapi, ia senantiasa merasa, ia harus menanti dalam keadaan bersih dan suci. Lahir dan batin. Lantas, pada suatu malam, dalam mimpi, datanglah sang tamu yang ia nanti-nantikan.

Tutur Al-Bushiri tentang peristiwa itu, “Dalam mimpi itu aku bertemu dengan Nabi Saw. Beliau kemudian mengusap-usapkan tangan beliau di pinggangku dan menyerahkan sepotong baju (burdah) kepadaku. Dalam pertemuan itu, tiba-tiba aku berhasil merampungkan gubahanku. Aku pun mendendangkannya di hadapan beliau. Kemudian aku terbangun. Tiba-tiba aku berdiri dan mampu berjalan lagi. Gubahanku itu kemudian kunamakan dengan Al-Burdah.”

Mengapa hati saya sangat tergetar, sehingga tetes air mata pelan membasahi kedua pipi saya, ketika mendengarkan pertama kali Gus Dur menyenandungkan madah yang indah itu? Hal itu mengingatkan pertemuan pertama saya dengan Gus Dur ketika saya kembali ke tanah air selepas menimba ilmu di Mesir, dini hari pada 23 Februari 1984.

Selepas dua hari berada di Jakarta, saya pun menemui Gus Dur di Ciganjur (dekat Gudang Peluru, Cilandak, bukan di Jl. Warung Sila). Gus Dur adalah tokoh pertama yang saya temui di Indonesia. Dalam pertemuan itu, saya membawakan sebuah buku menarik, karya Dr. Muhammad Jabir Al-Anshari, Tahawwulat Al-Fikr wa Al-Siyasah fi Al-Syarq Al-‘Arabi, 1930-1970 (diterbitkan oleh Al-Majlis Al-Wathani li Al-Tsaqafah wa Al-Funun wa Al-Adab pada 1980) yang telah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (satu kopi terjemahan karya itu saya serahkan kepada Gus Dur, satu kopi saya pinjamkan kepada Cak Dr. Amal Fathullah Zarkasyi yang kini menjadi seorang kiai yang memimpin Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur).

Begitu menerima buku dan terjemahan karya itu, lama Gus Dur membolak-balik “oleh-oleh” saya dari Mesir itu. Lantas, Gus Dur bertanya kepada saya, “Anda tentu telah membaca dan menelaaah karya ini. Apa kelebihan karya ini dibandingkan dengan karya Albert Hourani, Arabic Thought in the Liberal Age 1789-1939? Saya ingin pandangan Anda yang paling obyektif?”

“Gus,” jawab saya agak kebingungan, karena menerima pertanyaan yang tak terduga itu. “Dua karya itu memang merupakan dua karya menarik tentang cikal bakal pembaharuan Islam di Timur Tengah dan perkembangannya serta dan para tokoh-tokohnya. Tapi, menurut saya, dalam karya Dr. Muhammad Jabir Al-Anshari ada suatu tesis menarik yang tidak saya temukan dalam karya Albert Hourani maupun karya-karya lain tentang gerakan pembaharuan Islam di Timur Tengah…”

“Apa itu?” tanya Gus Dur penuh perhatian.

“Begini, Gus,” jawab saya, "semua pembaharu Muslim terkemuka di Timur Tengah, seperti halnya Thaha Husain, Muhammad Husain Haikal, dan Al-‘Aqqad, akhirnya mengakhiri “pengembaraan” mereka, sebelum mereka berpulang, pada suatu titik yang mirip: mereka akhirnya kembali ke pemikiran moderat yang berada di tengah-tengah pelbagai arus pemikiran Islam yang sedang berkembang di kawasan itu. Menariknya, kembalinya mereka ke pemikiran moderat itu senantiasa mereka tandai dengan penulisan karya mereka tentang Rasulullah Saw. Hal itu seakan memberikan isyarat bahwa mereka kembali ke ‘lingkungan Rasul Saw.’"

Mendengar jawaban saya demikian, Gus Dur termangu lama. Dan, kemudian Gus Dur berucap pelan, “Saya pun akan demikian. Suatu ketika, sebelum berpulang, saya pun akan ‘mencari Kanjeng Nabi Saw.’ dahulu….”

Kemudian, kami pun terlibat dalam perbincangan panjang hingga menjelang jam delapan pagi. Karena itu, tiga hari yang lalu, ketika mendengarkan madah nabawiyyah menyayat hati yang didendangkan Gus Dur tersebut, saya teringat pertemuan saya dengannya pada 1984 itu, seraya bergumam pelan, “Gus, kiranya Kanjeng Nabi Saw. memberikan syafaatnya kepadamu…” [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Ditulis pada 2 Januari 2010 pukul 10:27. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/12/gus-dur-albushuri-dan-mencari-kanjeng.html

Rabu, 20 Februari 2013

Pembela Agama Atau Dibela oleh Agama (Refleksi Demo 4 Nov)

PPQ Al-Amin Purwokerto - Dengan sebegitu besarnya aksi yang digalang dan ajakan yang menggunakan istilah 'Jihad', maka wajarlah bagi seorang muslim untuk bertanya; apakah Islam telah dirugikan? Apakah Islam telah terhina?

Pembela Agama Atau Dibela oleh Agama (Refleksi Demo 4 Nov) - PPQ Al-Amin Purwokerto
Pembela Agama Atau Dibela oleh Agama (Refleksi Demo 4 Nov) - PPQ Al-Amin Purwokerto


Pembela Agama Atau Dibela oleh Agama (Refleksi Demo 4 Nov)

Suatu hakikat yang pasti, yaitu bahwa; Islam tidak berkurang kesuciannya sedikitpun oleh cemoohan siapapun selama sepanjang masa, semenjak hari Rasulullah dimusuhi dan ayat-ayat suci diperolok kaum kafir, Islam tetap jaya.

Islam tidak ternista saat Nabi dituduh penyair gila dan para sahabatnya dilempari batu. Islam tidak terhina saat Kaisar dan Kisra merobek surat yang berisi ayat suci dan pesan yang dikirim oleh sang Nabi.

Tetapi, Islam ternodai saat penganutnya membudayakan korupsi. Islam direndahkan kala penganutnya menjadi kasar dan kurang ajar hanya karena merasa benar. Islam sedih saat penganutnya saling tuduh dan saling memusuhi. Islam tersakiti saat namanya menjadi produk jual beli, sementara ajarannya hanya digunakan untuk tujuan materi.

Islam malu saat umatnya mengaku membela ayat suci, sementara Kitab-Nya berdebu dalam lemari. Al-Qur'an sedih bukan karena ejekan orang luar namun oleh kita-kita yang hanya membaca tetapi tak mempelajari, atau mempelajari tapi tak mau mengerti.

Saudara-saudaraku, ingatlah bahwa setiap ayat itu menjadi suci bukan saat lidahmu berteriak murka, tetapi saat ia menyerap dalam hati menjadi cahaya. Ayat menjadi suci bukan saat dadamu panas berdendam, tetapi saat kalbu damai karena tersiram makna yang dalam.

Ayat menjadi suci bukan hanya saat tubuhmu gusar berteriak 'Allahu Akbar' tetapi saat raga pasrah bersandar sementara jiwa gemetar memahami makna Allah Maha Besar.

Wahai Saudaraku, Agamalah yang akan membela jikalau kita memuliakan dengan mengamalkan ajaran-Nya.

Bersyukurlah saudaraku, bahwa Islam sedang dalam keadaan aman dan tentram beribadah dengan tenang di negeri ini. Kemanapun kita pergi ada masjid yang tak pernah sunyi. Tiada yang memerangi atau membantai satu kelompok terhadap yang lainnya.

Tetapi lihatlah keadaan di Timur Tengah saat ini. Takbir telah menjadi teriakan muslim membunuh muslim lainnya. Seruan suci jihad telah menjadi panggilan untuk membantai sesama manusia sebangsa dan setanah airnya. 5 tahun lebih Timteng terus dikacaukan.

Sadarkah kita bahwa selama ini upaya musuh-musuh agama yang sebenarnya tak bisa mengganggu kestabilan dan keamanan Indonesia padahal sudah lama negeri ini dijadikan target juga, demi meruntuhkan kesatuannya dan keislamannya dari dalam.

Coba renungkan dan tanyalah kembali ke dalam hati nurani, sebenarnya apa yang hendak diperjuangkan. Nama Islam? Pengikutnya? Ajarannya? Keutuhannya? Semuanya itu ada di tangan kalian sendiri.

Bukankah Islam adalah rahmat untuk semua dan setiap muslim bersaudara? Jika benar mau berjuang unjuk rasa demi agama, maka dimanakah semangat kalian saat ada unjuk rasa untuk Palestina yang mana Al-Quds suci terus dinista?

Dimanakah kesatuan kalian saat ayat-ayat suci diplesetkan menjadi ayat-ayat setan dan Nabi dihina oleh Salman Rushdi? Apakah ada ajakan jihad atau demo besar depan kedutaan yang melindungi si penista?

Dimanakah tuntutan kalian kemarin lalu saat pemuda pemudi Jakarta mengkonsumsi arak di depan toko-toko mini market dan di hadapan khalayak umum dan anak-anak? Dimanakah gerakan kalian saat sebagian pejabat terbukti korupsi besar-besaran memakan harta rakyat dan anak yatim?

Dimanakah aksi kalian saat Amerika menjajah Irak, Afghanistan dan Yaman? Dimanakah ghirah kalian saat suatu perusahaan membangun club bar berbentuk Ka'bah dan menamakan Mecca di New York?

Dimanakah aksi kalian saat perusahaan Nike menempatkan nama Allah di alas sepatu buatannya? Apakah kalian berdemo besar dan menuntut perusahaan itu ditutup di Indonesia?

Jika semua yang lebih menistakan agama itu tiada yang menggerakkan secara besar-besaran, lalu tidakkah kalian bertanya mengapa untuk yang 4 November 2016 ini menjadi sebegitu dibesarkan? Hanya karena salah kata yang mana maksud menista atau tidaknya pun masih diperdebatkan?

Saya bukanlah siapa-siapa, hanya seorang hamba muslim seperti kalian, tetapi ingatlah banyak sekali alim ulama dan ahli agama yang tidak mendukung Aksi demo ini bukan karena mereka kurang beriman atau tidak mau membela, tetapi karena mereka tahu bahwa umat dan amarahnya adalah gerakan yang ampuh untuk merubah catur kekuasaan.

Maka janganlah sebegitu mudah terprovokasi karena pada akhirnya yang akan menduduki jabatan tidak bekerja atas nama Islam dan juga bukan untuk menjaga agama.

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/pembela-agama-atau-yang-dibela-oleh-agama.html

Kamis, 24 Januari 2013

Dubes Jerman Ingin Belajar Islam ala NU

Jakarta, PPQ Al-Amin Purwokerto. Dubes Jerman untuk Indonesia Georg Witschel mengunjungi kantor PBNU jalan Kramat Raya, Kamis (5/11) sore. Kepada pengurus PBNU, Georg menyampaikan keresahan bahwa Islam yang hari ini sering dikaitkan dengan kekerasan, membuat resah negara-negara di mana Islam baru berkembang seperti Jerman.

Menurutnya, Jerman adalah negara eropa di mana perkembangan agama Islam sangat pesat. Meski tak sereligius Indonesia, lebih dari 2000 masjid sudah berdiri di Jerman, menandakan negara ini bukanlah sekuler. Sebab itu Duta Besar Jerman untuk Indonesia bersilaturahmi ke kantor PBNU dalam rangka belajar kepada Indonesia khususnya NU terkait cara berislam.

Dubes Jerman Ingin Belajar Islam ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Jerman Ingin Belajar Islam ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Dubes Jerman Ingin Belajar Islam ala NU

Dubes Jerman mengatakan bahwa Islam yang ada di Indonesia tidak seperti yang ada di Timur Tengah. Di sini Islam tidak hanya dapat bersinergi dengan sesama Islam tetapi non Islam bahkan negara. Di sisi lain NU juga menjadi garda depan dalam membela kelompok-kelompok minoritas tidak hanya muslim juga non muslim. Sebab itu kita ingin belajar dari NU. Jerman memunyai kesamaan dengan Indonesia, bahwa kebebasan beragama dilindungi oleh negara, katanya.

Di kesempatan yang sama Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengawali pernyataan bahwa NU mengecam kekerasan baik sesama Islam maupun sebaliknya. NU bukanlah Islam Arab, Timur Tengah ataupun Barat. NU menghargai keberagaman, melindungi minoritas, dan menjaga tradisi seperti yang diterapkan Rasulullah dalam Piagam Madinah, sambungnya.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Di akhir pertemuan Dubes Jerman meminta izin kepada PBNU untuk bersedia menjadi pembicara dalam konferensi Internasional, Desember nanti di Jakarta bersama pakar dari Maroko dan Tunisia mengenai radikalisme agama.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Sambung Kang Said, PBNU mendukung langkah pemerintah Jerman dan bersedia memberikan bantuan pendidikan mengenai cara berislam yang saling menghargai, menjaga tradisi lokal, toleran dan cinta damai. Tak hanya itu Kang Said juga menawarkan kepada para takmir masjid yang ada di Jerman untuk belajar dan menambah wawasan keislaman di perguruan tinggi milik NU. Kita mempunyai progam studi Islam Nusantara, Islam yang menghargai nilai-nilai tradisi tuturnya.

Rombongan disambut hangat oleh Kiai Said beserta pengurus teras PBNU. Terlihat Sekjen PBNU Helmi Faisal Z, Ketua PBNU KH Marsyudi Syuhud, Ketua PBNU KH Abdul Manan, Bendahara Umum Bina Suhendra, dan Wasekjend Imam Pituduh. Pertemuan ditutup dengan penyerahan plakat NU kepada Dubes Jerman. (Faridur Rohman/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63342/dubes-jerman-ingin-belajar-islam-ala-nu

PPQ Al-Amin Purwokerto

Selasa, 28 Agustus 2012

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil

Mataram, PPQ Al-Amin Purwokerto. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah mempersiapkan beberapa agenda menjelang diselenggarakannya Konfrensi Wilayah (Konferwil) VIII di Pulau Lombok, 10-20 April mendatang.

Konfrensi kali ini dikemas dengan beberapa agenda penting yang menyakut tentang keberadaan organisasi dan mamfaat bagi masyarkat umum, kata ketua panitia, Ismul Basar, usai rapat panitia, Jumat (13/3), di Mataram.

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)


Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil

Agenda-agenda tersebut antara lain Gerakan Pesantren Hijau dan Pengobatan Gratis yang akan dipusatkan di Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok timur.

Selain itu, kaderisasi juga sedang digencarkan, di antaranya Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) yang akan berpusat di Kabupaten Lombok Utara dan Pelatihan Kepemimpinan Lanjut (PKL) di Pondok Pesantren Abhariah Jerneng Kabupaten Lombok Barat.

PPQ Al-Amin Purwokerto

PW GP Ansor NTB menjadwalkan pula acara diskusi publik bertajuk Talk Show Teologi Islam dan Peluralisme. Konferwil VIII GP Ansor NTB rencananya berlangsung di Kota Mataram, ibu kota NTB. (Hadi/Mahbib)

PPQ Al-Amin Purwokerto

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58171/ansor-ntb-siapkan-sejumlah-kegiatan-pra-konferwil

PPQ Al-Amin Purwokerto

Senin, 03 Oktober 2011

Menyegarkan Peran Kebudayaan NU

Sejak didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H, NU lebih banyak berbaur dengan masyarakat bawah di pedesaan. Sehingga tidak heran bila NU lekat dengan bahasa tradisional.

Meski sekarang ini terus mengalami perkembangan yang sangat signifikan, sebagai respon NU terhadap perkembangan dunia modern. Namun NU tetaplah organisasi yang getol mempertahankan tradisi-tradisi Nusantara, asalkan manfaatnya jelas dan bisa diselaraskan dengan ninai-nilai keislaman.

Menyegarkan Peran Kebudayaan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyegarkan Peran Kebudayaan NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Menyegarkan Peran Kebudayaan NU

Salah satu contoh konkret yang bisa kita lihat sampai saat ini adalah budaya tahlilan. Meski ormas-ormas lain gencar menuduh tahlilan bidah, karean tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, namun NU tetap kuat dengan perinsipnya, selama mengandung maslahah bagi masyarakat dan bisa diselaraskan dengan nilai-nilai ke-Islaman, tanpa masalah.

Dalam sejarah Nusantara masa lalu, tahlilan berasal dari upacara pribadatan (selamatan) yang dilakukan nenak moyang bangsa Indonesia yang mayoritas dari mereka adalah penganut agama Hindu dan Budha. Upacara tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan doa kepada orang yang telah meninggal dunia.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Namun secara praktis tahlilan yang dilakukan oleh nenek moyang terdahulu dengan tahlilan yang dilakukan oleh warga NU jauh berbeda, yakni menganti semua bacaan upacara selamatan tersebut dengan bacaan-bacaan-bacaan Al-Quran, Shalawat dan dzikir-dzikir kepada Allah SWT. Manfatnya, selain mendekatkan diri kepada Allah SWT. budaya tahlilan juga merekatkan relasi sosial masyarakat.

Itu hanya salah satu contoh bahwa NU begitu menghargai kebudayaan Nusantara. Selama mengandung maslahah dan bisa diselaraskan dengan ajaran Islam, kebudayaan apapun harus tetap dipertahankan. Sebab kebudayaan merupakan kekayaan bangsa yang harganya begitu mahal. Bahkan suatu bangsa tanpa kebudayaan tak bernilai di mata dunia internasional.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Di tengah kemajuan teknologi yang berkembang begitu pesat, NU harus mampu memainkan perannya secara siginifikan di bidang kebudayaan. Agar aset-aset kekayaan bangsa Indonesia tidak tergerus oleh budaya global yang notabene banyak dipengaruhi budaya-budaya Barat. Terutama menyangkut kerekatan relasi sosial antarsesama bangsa.

Kemajuan teknologi yang begitu pesat menjadi ancaman serius bagi budaya silaturrahim yang sejak dulu telah membudaya di bumi Nusantara. Komunikasi melalui HP, Facebook, Twiter dan yang sejenis, perlahan tapi pasti telah merusak tatanan kebudayaan Nusantara. Meski secara jujur kita akui ada hal positifnya. Hanya saja jangan sampai kita terlelap dalam gelamur kebudayaan modern, sehingga lupa akar kebudayaan Nusantara yang mestinya kita lestarikan.

Hal mendasar yang begitu terasa jauh saat ini dari realitas dilingkungan kita adalah budaya gotong royong. Dulu budaya ini mengakar kuat dalam tradisi Nusantara. Sekarang hanya tinggal kenangan, sebab masyarakat sibuk dengan ambisi individualismenya masing-masing dan mengukur segalanya dengan upah (uang). Di desa sekalipun kita sangat sulit menemukan budaya gotong royong dilakukan oleh warga. Sementara gotong royong dahulu begitu akrab didengar di pedesaan.

Suatu contoh, di masa lalu orang desa yang hendak memperbaiki kandang hewan peliharaan hanya butuh kentongan sebagai alat bunyi yang menandakan bahwa keluarga tersebut sedang butuh bantuan, sehingga ketika kentongan tersebut bunyikan warga datang berhamburan untuk membantunya. Kemudian mereka berbaur bersama begitu akrab tanpa tanpa berharap upah. Sekarang budaya seperti ini sudah tidak jelas rimbanya.

Oleh karena itu, NU sebagai organisasi sosial keagamaan harus bisa memainkan perannya secara signifikan dalam rangka menjaga dan melestarikan kebudayaan Nusantara. Jangan sampai aset kebudayaan yang begitu banyak dimiliki Indonesia di masa lalu hilang ditelan globalisasi budaya. Negara kita dikenal dengan negara multikultural, kita tidak ingin julukan ini hanya manis di masa lalu, namun sekarang kita hanya gigit jari karena kelalaian dalam menjaga kebudayaan tersebut.

* Penulis adalah Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Bidik Misi (Ambisi) dan Pustakawan Pesantren Mahasiswa (Pesma) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42651/menyegarkan-peran-kebudayaan-nu

PPQ Al-Amin Purwokerto

Jumat, 15 Desember 2006

IPNU Tasikmalaya Ajak Remaja Cermat Pilih Komunitas dan Organisasi

Tasikmalaya, PPQ Al-Amin Purwokerto. Pelajar muslim diimbau untuk teliti memilih komunitas dan organisasi terutama keagamaan. Di tengah keterbukaan jaringan banyak komunitas keagamaan mengarahkan anggotanya ke arah paham dan praktik beragama yang tidak sesuai dengan paham Aswaja dan dasar-dasar kebangsaan.

Demikian disampaikan oleh Ketua IPNU Kabupaten Tasikmalaya Fikri Nursamsi saat seminar Peningkatan Wawasan Pelajar Muslim Nusantara di Kecamatan Salopa di Aula MWCNU Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (20/1).

IPNU Tasikmalaya Ajak Remaja Cermat Pilih Komunitas dan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Tasikmalaya Ajak Remaja Cermat Pilih Komunitas dan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU Tasikmalaya Ajak Remaja Cermat Pilih Komunitas dan Organisasi

Ia khawatir salah pergaulan remaja terjerumus pada Radikalisme. Pasalnya jiwa muda sedang mencari jati dirinya. Salah masuk organisasi yang akhirnya terjerumus, kita akan mengalami kesulitan keluar dari radikalisme ini.

Saya atas nama IPNU Kabupaten Tasikmalaya mengimbau semua pelajar khususnya pelajar Tasikmalaya supaya bisa menelusuri dan mencari tahu sejarah, ideologi, gerakan dan sebagainya sebelum masuk pada organisasi tersebut., kata Fikri.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Pelajar hari ini adalah pemimpin di masa yang akan datang. Karena itu jangan jerumuskan masa depan kita pada gerakan dan paham yang belum tentu dan aneh yang akhirnya membuat masa depan kita suram, pesan Fikri.

Menurutnya, pelajar muslim harus berwawasan luas agar bisa memilih dan menyaring paham atau gagasan yang tidak sesuai dengan apa yang diperjuangkan guru kita, para kiai NU. (Husni Mubarok/Alhafiz K)

PPQ Al-Amin Purwokerto

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65168/ipnu-tasikmalaya-ajak-remaja-cermat-pilih-komunitas-dan-organisasi

PPQ Al-Amin Purwokerto

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PPQ Al-Amin Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PPQ Al-Amin Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PPQ Al-Amin Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock