Tampilkan postingan dengan label Dalil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalil. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Oktober 2015

GP Ansor Pragaan Langsungkan Dzikir Maulid dan Haul Gus Dur

Sumenep, PPQ Al-Amin Purwokerto. Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Pragaan, Sumenep Madura, Jawa Timur melangsungkan acara dzikir maulidurrasul Nabi Muhammad SAW dan haul almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Rabu (30/12). Acara dimulai dengan tahlil khusus Gus Dur dan shalawat Nabi. Dalam kesempatan tersebut, GP Ansor Pragaan berkomitmen terus menghidupkan ibadah zikir.

Acara yang ditempatkan di lantai 2 gedung MWCNU Pragaan itu dihadiri Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Sumenep Muhri Zaen, ketua dan pengurus ranting GP Ansor se-kecamatan Pragaan.

GP Ansor Pragaan Langsungkan Dzikir Maulid dan Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pragaan Langsungkan Dzikir Maulid dan Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)


GP Ansor Pragaan Langsungkan Dzikir Maulid dan Haul Gus Dur

Dalam sambutannya, Muhri Zaen menekankan supaya PAC GP Ansor dan ranting getol menghidupkan kegiatan majelis zikir dan shalawat rijalul Ansor.

Sementara itu, Ketua PAC GP Ansor Pragaan Moh Qudsi menyatakan, dalam acara itu, pihaknya mendatangkan KH Moh Zuhri Abdul Mughni (Rais MWCNU Pragaan) dan Ust Abd Wasith (PC GP Ansor Sumenep) sebagai pemberi taushiyah.

PPQ Al-Amin Purwokerto

"Melalui acara ini, kita harapkan bisa mendapat syafaat Nabi dan berkah keilmuan Gus Dur," tegasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

PPQ Al-Amin Purwokerto

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64657/gp-ansor-pragaan-langsungkan-dzikir-maulid-dan-haul-gus-dur

Senin, 02 Februari 2015

Toleransi di Indonesia Tak Lepas dari Peran NU

Jember, PPQ Al-Amin Purwokerto

Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch. Eksan mengatakan, sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia mengemban amanah untuk mewujudkan demkokrasi yang rahmatal lilalamin. Sukses tidaknya Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar juga menjadi pertaruhan NU.

Sebab, kata dia, warga NU merupakan penghuni mayoritas di negeri ini. Kalau bicara Indonesia, maka bicara umat Islam. Kalau bicara umat Islam, otomaris bersinggungan dengan NU, jelasnya saat memberikan taushiyah pada malam tasayakuran Kemerdekaan RI di Balai Desa Baban, Kecamaan Silo, Jember, Jawa Timur, Senin (26/9).

Toleransi di Indonesia Tak Lepas dari Peran NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Toleransi di Indonesia Tak Lepas dari Peran NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Toleransi di Indonesia Tak Lepas dari Peran NU

Oleh karena itu, penulis buku Kiai Muchit, Kiai Kelana itu berharap agar NU ikut mendorong Indonesia agar menjadi negara demokrasi yang menghargai pluralisme dan menjunjung tinggi toleransi sehingga semua warga negara yang berbeda latar belakang suku dan agamanya, merasa terpayungi sebagaimana yang selama ini terjadi. Dengan demikian, maka nama NU pasti harum di mata dunia.

Demokrasi Indonesia, pluralisme dan toleransi yang tinggi, tak bisa lepas dari peran NU, ucapnya.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Menurutnya, banyak negara yang salut dengan kerukunan yang terjadi di Indonesia. Padahal, latar belakang penduduk Indonesia sangat majemuk, dan potensial menimbulkan gesekan. Bayangkan, di negara-negara Timur Tengah yang warganya hanya terdiri dari sekian suku, namun ternyata tak pernah aman. Perang saudara terus menghantui. Tak ada keamanan, apalagi kedamaian.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Dari sisi kerukunan dan kekompakan, kita bangga menjadi warga Indonesia. Karena yang mendirikan bangsa ini juga banyak tokoh NU seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Wahid Hasyim dan sebagainya, yang mereka telah menanam pondasi kerukunan dan toleransi dan sampai sekarang buahnya masih kita rasakan, urainya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71533/toleransi-di-indonesia-tak-lepas-dari-peran-nu

PPQ Al-Amin Purwokerto

Sabtu, 13 Desember 2014

Umat Islam Perlu Bersikap Arif atas Pernyataan Maaf Paus

Jakarta, PPQ Al-Amin Purwokerto. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr Maskuri Abdillah meminta agar umat Islam khususnya di Indonesia bersikap arif menerima pernyataan maaf Paus Benediktus XVI atas pidatonya, 12 September lalu, sehingga tidak memunculkan rekasi yang mengarah pada tindakan anarkis.

Sebagai umat Islam, kita patut menerima pernyataan maaf Paus (Benediktus XVI) tersebut. Apalagi umat katolik di Inodonesia juga sudah menyatakan permintaan maaf yang tulus atas pernyataan Paus, ungkap Maskuri Abdillah kepada PPQ Al-Amin Purwokerto di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, 164 Jakarta, Rabu (20/9).

Pembantu Rektor UIN Jakarta itu juga merasa optimis dengan sikap yang ditunjukkan NU dan Muhammadiyah. menurutnya, sikap kedua ormas keagamaan terbesar di Indonesia itu akan diiukti oleh sejumlah kelompok yang tidak puas atas permintaan maaf tulus Paus.Saya kira dengan adanya sikap yang ditunjukkan NU dan Muhammadiyah untuk menerima permintaan maaf Paus, maka itu sudah cukup mewakili sehingga tidak perlu bagi sejumlah pihak (kelompok yang tidak puas) misalnya untuk melakukan tindakan anarkis yang akhirnya merugikan kita semua, terangnya.

Umat Islam Perlu Bersikap Arif atas Pernyataan Maaf Paus (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Perlu Bersikap Arif atas Pernyataan Maaf Paus (Sumber Gambar : Nu Online)


Umat Islam Perlu Bersikap Arif atas Pernyataan Maaf Paus

Kontroversi dan reaksi atas Paus Benediktus XVI muncul menyusul pernyataannya dalam kuliah umum di Universitas Regensburg, Bavaria, Jerman, 12 September lalu, saat Paus menelaah perbedaan Islam dan Kristen secara historis dan filosofis, dan hubungan kekerasan dengan agama.

Paus Benediktus XVI kemudian secara implisit menyebutkan keterkaitan Islam dengan kekerasan, khususnya dengan jihad atau perang suci.

Paus juga mengutip pernyataan Kaisar Bizantium, Manuel II Palaeologos ((1341-1391) saat berdialog dengan seorang Persia terpelajar yang menyatakan bahwa inovasi yang diperkenalkan oleh Nabi Muhammad adalah kejahatan dan tidak berperikemanusiaan (evil and inhuman). (dar)

PPQ Al-Amin Purwokerto

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/5305/umat-islam-perlu-bersikap-arif-atas-pernyataan-maaf-paus

PPQ Al-Amin Purwokerto

PPQ Al-Amin Purwokerto

Senin, 19 Mei 2014

Pagar Nusa Pamekasan Bekali Santri Keterampilan Bela Diri

Pamekasan, PPQ Al-Amin Purwokerto. Pagar Nusa Pamekasan tampak gencar menjaring anggota baru. Salah satunya dengan menyasar para santri di lingkungan pesantren yang tersebar di tiga belas kecamatan. Pesantren Sumber Anom Pamekasan tak luput dari bidikan Pagar Nusa.

Para santri asuhan Ketua PCNU Pamekasan KH Taufiq Hasyim diajari keterampilan bela diri oleh pelatih dari Pagar Nusa Pamekasan, Selasa (8/11) malam.

Pagar Nusa Pamekasan Bekali Santri Keterampilan Bela Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Pamekasan Bekali Santri Keterampilan Bela Diri (Sumber Gambar : Nu Online)


Pagar Nusa Pamekasan Bekali Santri Keterampilan Bela Diri

Para santri terlihat antusias menjalani latihan bela diri. Tak satu pun dari mereka yang menyerah, selalu semangat dari awal hingga akhir latihan.

Ketua Pagar Nusa Salman Al-Farizi menegaskan, latihan tersebut dimaksudkan guna membekali para santri keterampilan bela diri. Harapannya, mereka bisa menjadi benteng utama kelak dalam mempertahankan NKRI dan memperjuangkan paham Ahlussunnah wal Jamaah.

PPQ Al-Amin Purwokerto

"Sebatas bela diri, bukan untuk melukai atau mencederai orang lain," terang Salman Al-Farizi.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Mantan Ketua IPNU Pamekasan ini menargetkan, seluruh santri di puluhan pesantren di Kabupaten Pamekasan bisa menjadi kader Pagar Nusa. Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan ketelatenan dan keseriusan para pengurus dan pelatih dalam menggembleng para santri di lingkungan pesantren.

"Alhamdulillah, Pengasuh Sumber Anom yang merupakan Ketua PCNU Pamekasan KH Taufiq Hasyim sangat mengapresiasi program kami. Buktinya, ia dengan antusias mendorong santrinya bergabung dengan Pagar Nusa PCNU Pamekasan," tukasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72777/pagar-nusa-pamekasan-bekali-santri-keterampilan-bela-diri

PPQ Al-Amin Purwokerto

Kamis, 15 Mei 2014

For pesantren, 1945 Constitution is a mitsaqan ghalidhan

Jombang, PPQ Al-Amin Purwokerto. In dealing with the national cureent conditions, Tebuireng Islamic boarding school (pesantren) and the Hasyim Asyari University (Unhasy) called for the so-called National Messages of Pesantren Tebuireng as part of the ulema concern over the conditions facing the nation.

The purposeful messages were read by the younger brother of the late KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) on the sidelines of a meeting held in Pesantren Tebuireng on Sunday (5/2).

For pesantren, 1945 Constitution is a mitsaqan ghalidhan (Sumber Gambar : Nu Online)
For pesantren, 1945 Constitution is a mitsaqan ghalidhan (Sumber Gambar : Nu Online)


For pesantren, 1945 Constitution is a mitsaqan ghalidhan

At the scholarly event aimed at inaugurating the Center for KHM Hasyim Asyari Thought, the leader of Pesantren Tebuireng, Gus Sholah, said that Indonesia was such a very ideal masterpiece of the nations founding fathers. However, the nations 71 years journey is not sufficient to realize the ideals of independence.

PPQ Al-Amin Purwokerto

"We still face many fundamental problems that must be solved," said Gus Sholah who is also one of the grandchildren of the founder of Nahdlatul Ulama (NU).

For pesantren, the Preamble of the 1945 Constitution is the mitsaqan ghalidhan (solid agreement) of the founding fathers being the basis of building the state as the embodiment of the ideals of the Indonesian nation. It underlines the basic goal of establishing the state and Pancasila.

"Therefore, the 1945 Constitution is a necessity that could no longer be changed," he said.

PPQ Al-Amin Purwokerto

According to Gus Sholah, the Indonesian and Islamic spirit initially contested, could successfully be integrated by the founding fathers.

"The combination that is a major factor of the nations unity and could be the potential to become a model for the world has to be upheld and preserved," he said, adding that there should be firm measures in dealing with any possible threat posed by those willing to undermine the national and Islamic spirit.

Present also at the occasion were former Minister of Religious Affairs Prof. Dr. M. Tholhah Hasan and Director of the Graduate School of UIN Jakarta Prof. Dr. Masykuri Abdillah, Vice Rector of Unhasy Haris Supratno, Deputy Leader of Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz. (Ibn Nawawi / Masdar)

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75220/for-pesantren-1945-constitution-is-a-mitsaqan-ghalidhan

PPQ Al-Amin Purwokerto

Selasa, 28 Januari 2014

Apa Sebab KH Zainul Arifin Kurang Dikenal di Tanah Kelahirannya?

Medan, PPQ Al-Amin Purwokerto. Sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr Phil lchwan Azhari MS mengatakan, sekalipun Zainul Arifin atau lengkapnya Kiai Haji Zainul Arifin Pohan sudah ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional asal Sumatera Utara (Sumut) sejak tahun 1963, dan namanya sudah diabadikan menjadi nama jalan di Kampung Madras (Kampung Keling) Medan, dan kota-kota lainnya, tapi sosok tokoh NU ini kurang dikenal oleh sebagian besar orang terdidik di Sumut termasuk warga NU.

"Pembelajaran sejarah yang terlalu Jakartasentris telah menyebabkan tokoh seperti Zainul Arifin kurang dikenal di tanah kelahirannya sendiri. Karenanya, perlawanan dan koreksi terhadap memori nasional perlu dilakukan," kata Ichwan saat menjadi narasumber pada seminar Peringatan 70 Tahun Resolusi Jihad yang digelar di aula kantor PWNU, Jl Sei Batanghari 52 Medan, Sumut, Kamis (22/10).

Apa Sebab KH Zainul Arifin Kurang Dikenal di Tanah Kelahirannya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Sebab KH Zainul Arifin Kurang Dikenal di Tanah Kelahirannya? (Sumber Gambar : Nu Online)


Apa Sebab KH Zainul Arifin Kurang Dikenal di Tanah Kelahirannya?

Dalam seminar yang digelar dalam rangkaian Hari Santri Nasional ini, juga berbicara Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPR RI Drs H Marwan Dasopang. Seminar dipandu Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (UNUSU) Medan Prof Dr Ir Ahmad Rafiqi Tantawi MS.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Hadir dalam seminar itu, Ketua PWNU Sumut Drs H Afifuddin Lubis MSi, Wakil Rais Syuriah PWNU KH Drs Imron Hasibuan, tokoh senior NU HM Kamaluddin Lubis, para pengurus NU Sumut, PCNU se-Sumut, pengurus badan otonom NU dan civitas akademika UNUSU.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Padahal, kata Ichwan Azhari, sebelum menjadi Panglima Lasykar Hizbullah di Pulau Jawa, kemudian menjadi wakil perdana menteri Indonesia, ketua DPR-GR, dan politisi Nahdlatul Ulama (NU), Zainul justru lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 2 September 1909 dan menghabiskan masa kecilnya di Sumut.

"Zainul Airfin menempuh pendidikan di Pesantren Musthafawiyah Purbabaru, Mandailing. Kendati dia sekolah agama, tapi ia piawai berbahasa Belanda dan Jepang. Dia tokoh inspiratif, karena mampu menepis imej bahwa santri hanya bisa berbahasa Arab dan pakai kain sarung serta tidak bisa bersaing dengan dunia modern," ungkap Ketua Pusat Studi Sejarah dan llmu-ilmu Sosial (Pussis) Unimed ini.

Perjuangan komandan Hizbullah

Peraih doktor sejarah budaya Universitas Hamburg, Jerman ini mengatakan, Zainul justru mendapat pelatihan pertama oleh tentara Jepang. Karena kemenonjolan dan ketangkasannya, membuat dia diangkat sebagai komandan batalion dan kemudian menjadi Panglima Hizbullah, suatu wadah perjuangan pemuda Islam 1942-1945.

Anggotanya yang ribuan orang sebagian besar mengikuti pendidikan militer gaya Jepang di Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat, membuat Zainul Arifin sangat disegani baik oleh tentara Belanda maupun Jepang. Apalagi dia punya pasukan yang terlatih dan militan.

"Zainul kerap kerap melakukan inspeksi pasukan terutama di basis-basis perjuangan umat Islam, yaitu di pondok-pondok pesantren. Konsolidasi yang terus-menerus dengan peningkatan keterampilan bertempur membuat Hizbullah menjadi lasykar rakyat yang disegani dan berwibawa," tutur Wakil Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Sumatera Utara ini.

Dikatakan, Zainul Arifin adalah seorang ahli strategi militer yang luar biasa. Karenanya, ketika TNI menjadi tentara profesional, Zainul Arifin dipercayakan melakukan restrukturisasi ABRI di era Presiden Soekarno.

"Kalau Bung Tomo yang memimpin peristiwa 10 November 1945 di Surabaya adalah orator di radio dan mimbar. Sedangkan Zainul Arifin langsung memimpin pertempuran melawan penjajah. Karenanya, Zainul Arifin merupakan aset penting bangsa Indonesia dan NU. Dia ahli strategi militer yang luar biasa," ucap Ichwan Azhari.

Ichwan kemudian meminta Anggota DPR Marwan Dasopang agar menggaungkan pelurusan sejarah tentang Zainul Arifin di DPR. "Jangan lagi pembalajaran sejarah terlalu Jakartasentris sehingga menyebabkan tokoh seperti Zainul Arifin tidak dikenal di tanah kelahirannya sendiri," tandasnya.

Anggota DPR RI H Marwan Dasopang mengatakan, paparan dari sejarawan Ichwan Azhari telah menggelitik dan membuka mata kita, bahwa peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober tidak main-main. Artinya, ada tokoh NU dari Sumut, yakni Zainul Arifin yang menjadi motor pertempuran melawan kolonialisme. Pasukan tempur yang dipakai Bung Tomo melawan penjajah di Jawa Timur ternyata pasukan Hizbullah yang dipimpin tokoh NU asal Sumut Zainul Arifin.

"Karenanya, saya akan membawa sejarah ini ke DPR agar dimasukkan dalam buku sejarah nasional. Saya akan mendorong Komisi X agar kiprah Zainul Arifin dimasukkan dalam sejarah nasional sehingga menjadi bagian dari penggalan-penggalan sejarah yang utuh dalam mempertahankan kemerdekaan RI," kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB ini.

Sedangkan Ketua PWNU Sumut H Afifuddin Lubis kepada wartawan mengatakan, seminar ini digelar untuk mengungkap benang merah yang kuat antara Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dengan peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya.

"Resolusi Jihad yang difatwakan Hadratus Syekh KH Hasyim Asyaari menjadi motivasi kuat bagi masyarakat Jawa Timur untuk melaksanakan perang melawan kolonialisme yang mencoba bercokol kembali di Republik Indonesia," tutur Afifuddin yang didampingi Ketua Panitia Seminar Ir Baharuddin Berutu dan Wakil Sekretaris PWNU Sumut Drs H Khairuddin Hutasuhut.

Dia menyampaikan terimakasih kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. "Ini menegaskan kembali, bahwa santri dan ulama berjasa besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI," tandasnya. (Hamdani Nasution/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63049/apa-sebab-kh-zainul-arifin-kurang-dikenal-di-tanah-kelahirannya

Senin, 16 Desember 2013

Refleksi Harlah ke-91: NU Tak Cukup Dioperasikan dari Meja Kantor

PPQ Al-Amin Purwokerto - Tidak terasa, usia Nahdlatul Ulama (NU) memasuki 91 tahun menurut hitungan kalender miladiyah. Usia yang bukan lagi remaja atau dewasa. NU sudah tua dan benar-benar tua. Oleh sebab itu, gerakannya sudah mengalami dinamika yang beragam.

Catatan 2017 menunjukkan bahwa prestasi NU sebagai organisasi kemasyarakatan sudah luar biasa. Ini dibuktikan dengan makin bertambahnya jumlah Pimpinan Cabang Istimewa di Timur Tengah, Afrika dan Eropa. Jejaring NU ke luar negeri juga sudah tertata secara rapi.

Dari catatan data organisasi NU yang sudah resmi berdiri: 34 Pengurus Wilayah (tingkat Provinsi), 27 Pimpinan Cabang Istimewa (berada di luar negeri), 500 lebih Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) dan 32.000 lebih Majelis Wakil Cabang (tingkat Kecamatan).

Refleksi Harlah ke-91: NU Tak Cukup Dioperasikan dari Meja Kantor - PPQ Al-Amin Purwokerto
Refleksi Harlah ke-91: NU Tak Cukup Dioperasikan dari Meja Kantor - PPQ Al-Amin Purwokerto


Refleksi Harlah ke-91: NU Tak Cukup Dioperasikan dari Meja Kantor

Gerakan Islam Nusantara turut mengantarkan kekhasan NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan ciri moderat. Diakui bahwa NU yang dulunya dikatakan tradisional dan konservatif, hari ini sudah tidak begitu saja dikatakan demikian.

Nyatanya NU mau dan terbuka mengejar ketertinggalan dengan melakukan moderasi dan modernisasi kelembagaan sesuai dengan visi ahlussunnah wal jama'ah annahdliyyah. Generasi muda NU dengan arahan para ulama pesantren sudah mulai menunjukkan arah gerakan pendidikan inklusif.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Kebesaran NU sebagai organisasi Islam ini seiring dengan mandat pendiriannya, yakni NU sebagai garda depan organisasi dakwah dan pendidikan bagi umat Islam Indonesia. Maka mengusung tema Islam Nusantara dalam Muktamar NU 33 di Jombang menjadi sangat tepat.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Suasana Indonesia sekarang sudah makin jelas sekali. Arus radikalisme dan wahabisme sudah mulai makin nyata menjadi gerakan taqiyyah (terselubung) dan mudzaharah (demonstrasi). Dua model gerakan itu sudah bisa dilihat dengan pola masing-masing.

Sejak NU berdiri lewat Komite Hijaz sudah jelas, bagaimana negosiasi para Kyai kepada Raja Saudi agar memberikan lima hal: kebebasan bermadzhab, mempertahankan situs bersejarah, membuat biaya haji terjangkau, menulis hukum yang berlaku di Hijaz dan menerima utusan ulama Indonesia dengan jawaban resmi Raja Saudi.

Lewat perjuangan itulah, ulama Nusantara kemudian mendirikan organisasi NU pada 31 Januari 1926. Arah tujuan NU menjadi semakin jelas hingga usianya ke-91 yaitu sebagai penerus perjuangan ulama ahlussunnah wal jama'ah.

Tugas berat yang dipikul NU hari ini adalah pada penguatan ideologi keagamaan dan kebangsaan. Dua program penguatan ideologi ini menjadi sangat penting dalam mempertahankan predikat NU sebagai organisasi terbesar Islam Nusantara ini.

Oleh sebab itu, 91 tahun usia NU mengantarkan bagaimana dibutuhkan langkah-langkah nyata dalam penguatan ideologi dimaksud agar kekhasan NU tidak hilang. Hal ini penting sekali, mengingat perkembangan pemikiran jam'iyyah dan jama'ah NU sudah mulai cepat akibat arus globalisasi.

Modal utama penguatan ideologi ini bertumpu pada kekuatan nasehat para Kyai di Syuriyah dan Musytasyar dengan mengawal dasar-dasar keNUan. Sedangkan Tanfidziyah melaksanakan perintah Kyai dan menyatu dengan jama'ah NU yang berada di kampung-kampung.

Kesan NU struktural dan kultural yang selama ini didengungkan tidak akan ada lagi sepanjang pengurus NU mau dan benar-benar rajin turun ke basis. NU bukan organisasi yang cukup dioperasikan dari meja kantor, tapi NU harus dekat dengan jama'ahnya. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

M. Rikza Chamami, dosen UIN Walisongo dan Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

Baca: NU Pasca Aksi 212

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/refleksi-harlah-ke-91-nu-tak-cukup-dioperasikan-dari-meja-kantor.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PPQ Al-Amin Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PPQ Al-Amin Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PPQ Al-Amin Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock