Tampilkan postingan dengan label Risalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risalah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2015

Dalil Tahlilan dan Sedekah Kepada Mayit

Hukum Tahlilan - Dalil tahlilan Jumlah Hari 3, 7, 25, 40, 100, 360 (setahun) & 1000 hari dari kitab Ahlusunnah (bukan kitab dari Agama Hindu). Silakan baca lebih lanjut.

Dalil Tahlilan dan Sedekah Kepada Mayit
Dalil Tahlilan dan Sedekah Kepada Mayit


قال النبي صلى الله عليه وسلم الدعاء والصدقة هدية إلى الموتى وقال عمر : الصدقة بعد الدفنى ثوابها إلى ثلاثة أيام والصدقة فى ثلاثة أيام يبقى ثوابها إلى سبعة أيام والصدقة يوم السابع يبقى ثوابها إلى خمس وعشرين يوما ومن الخمس وعشرين إلى أربعين يوما ومن الأربعين إلى مائة ومن المائة إلى سنة ومن السنة إلى ألف عام

Rasulullah saw bersabda: "Doa dan shodaqoh yang dihadiahkan kepada mayyit." Umar berkata: "Shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh tujuh hari akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari."

Jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25, 40, 100, setahun & 1000 hari) jelas ada dalilnya, sejak kapan agama Hindu ada Tahlilan? (Baca PPQ Al-Amin Purwokerto: Hukum Urutan Bacaan Tahlil dalam Islam)

Berkumpul mengirim doa adalah bentuk shodaqoh buat mayyit.

فلما احتضرعمر أمر صهيبا أن يصلي بالناس ثلاثة أيام ، وأمر أن يجعل للناس طعام ، فيطعموا حتى يستخلفوا إنسانا ، فلما رجعوا من الجنازة جئ بالطعام ووضعت الموائد ! فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه ، فقال العباس بن عبد المطلب : أيها الناس إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد مات فأكلنا بعده وشربنا ومات أبو بكر فأكلنا بعده وشربنا وإنه لابد من الاجل فكلوا من هذا الطعام ، ثم مد العباس يده فأكل ومد الناس أيديهم فأكلوا

Ketika Umar akan wafat, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama tiga hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan – hidangan disuguhkan, orang-orang tak mau makan karena sedih. Lalu Abbas bin Abdulmuttalib mengucap ini:

"Wahai hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang – orang pun mengulurkan tangannya masing - masing dan makan."

[Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul Ummaal fi Sunanil Aqwaal wal Af’al Juz 13 hlm 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wat Taarikh Juz 1 hal 110]

Kemudian dalam kitab Imam As Suyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi:

قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام

Imam Thawus berkata: "Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut."

عن عبيد بن عمير قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق, فاما المؤمن فيفتن سبعا واماالمنافق فيفتن اربعين صباحا

Dari Ubaid bin Umair ia berkata: "Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari."

Dalam tafsir Ibn Katsir (Abul Fida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 Surat aN-Najm (IV/236: Dar el Quthb). Ia mengatakan Imam Syafi'i berkata bahwa tidak sampai pahala itu, tapi di akhir-akhir beliau berkomentar lagi:

فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما ومنصوص من الشارع عليهما

Bacaan Al-Quran yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai. Menurut Imam Syafi'i pada waktu beliau masih di Madinah dan di Baghdad, qaul beliau sama dengan Imam Malik dan Imam Hanafi, bahwa bcaan al-Quran tidak sampai ke mayit.

Setelah beliau pindah ke mesir, beliau ralat perkataan itu dengan mengatakan bacaan Al-Quran yang dihadiahkan ke mayit itu sampai dengan ditambah berdoa "Allahumma awshil....dst.". Lalu murid beliau, Imam Ahmad dan kumpulan murid-murid Imam Syafi'i yang lain berfatwa bahwa bacaan Al-Quran sampai. (Baca PPQ Al-Amin Purwokerto: Kontroversi Tahlilan Menurut Islam)

Pandangan Hanabilah

Syaikhul Islam Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibn Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan:

اَمَّا الصَّدَقَةُ عَنِ الْمَيِّتِ فَـِانَّهُ يَنْـتَـفِعُ بِهَا بِاتِّـفَاقِ الْمُسْلِمِيْنَ. وَقَدْ وَرَدَتْ بِذٰلِكَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَحَا دِيْثُ صَحِيْحَةٌ مِثْلُ قَوْلِ سَعْدٍ ( يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِّيْ اُفْتـُلِتـَتْ نَفْسُهَا وَاَرَاهَا لَوْ تَـكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ يَنْـفَـعُهَا اَنْ اَتَـصَدَّقَ عَنْهَا ؟ فَقَالَ: نَـعَمْ , وَكَذٰلِكَ يَـنْـفَـعُهُ الْحَجُّ عَنْهُ وَاْلاُ ضْحِيَةُ عَنْهُ وَالْعِتْقُ عَنْهُ وَالدُّعَاءُ وَاْلاِسْتِـْغفَارُ لَهُ بِلاَ نِزاَعٍ بَيْنَ اْلأَئِمَّةِ .

“Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”. (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/314-315)

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan Al-Qur’an kepada mayit:

فَاِذَا اُهْدِيَ لِمَيِّتٍ ثَوَابُ صِياَمٍ اَوْ صَلاَةٍ اَوْ قِرَئَةٍ جَازَ ذَلِكَ

Artinya: “Jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (Al-Qur’an/kalimah thayyibah), maka hukumnya diperbolehkan”. (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322).

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan;

يُسْـتَـحَبُّ اَنْ يَـمْكُثَ عَلىَ اْلقَبْرِ بَعْدَ الدُّفْنِ سَاعَـةً يَدْعُوْ لِلْمَيِّتِ وَيَسْتَغْفِرُلَهُ. نَـصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِىُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ قَالوُا: يُسْـتَـحَبُّ اَنْ يَـقْرَأَ عِنْدَهُ شَيْئٌ مِنَ اْلقُرْأَنِ وَاِنْ خَتَمُوْا اْلقُرْأَنَ كَانَ اَفْضَلُ . (المجموع جز ٥ ص ٢٥٨)

“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”. Pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat Al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai mengkhatamkan Al-Qur’an”.

Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;

وَيُـسْـتَحَبُّ لِلزَّائِرِ اَنْ يُسَلِّمَ عَلىَ اْلمَقَابِرِ وَيَدْعُوْ لِمَنْ يَزُوْرُهُ وَلِجَمِيْعِ اَهْلِ اْلمَقْبَرَةِ. وَاْلاَفْضَلُ اَنْ يَكُوْنَ السَّلاَمُ وَالدُّعَاءُ بِمَا ثَبـَتَ مِنَ اْلحَدِيْثِ وَيُسْـتَـحَبُّ اَنْ يَقْرَأَ مِنَ اْلقُرْأٰنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوْ لَهُمْ عَقِبَهَا وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّاِفعِىُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ. (المجموع جز 5 ص 258)

“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur. Salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)

Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal:

قَالَ: وَلاَ بَأْسَ بِالْقِراَءَةِ عِنْدَ اْلقَبْرِ . وَقَدْ رُوِيَ عَنْ اَحْمَدَ اَنَّـهُ قَالَ: اِذاَ دَخَلْتمُ الْمَقَابِرَ اِقْرَئُوْا اَيـَةَ اْلكُـْرسِىِّ ثَلاَثَ مِرَارٍ وَقُلْ هُوَ الله ُاَحَدٌ ثُمَّ قُلْ اَللَّهُمَّ اِنَّ فَضْلَهُ ِلأَهْلِ الْمَقَابِرِ .

Artinya: “al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat Al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur." (al-Mughny II/566). Baca PPQ Al-Amin Purwokerto: Tahlilan Itu Bertauhid, Bukan Bid'ah)

Dalam al-Adzkar dijelaskan lebih spesifik lagi seperti di bawah ini:

وَذَهَبَ اَحْمَدُ ْبنُ حَنْبَلٍ وَجَمَاعَةٌ مِنَ اْلعُلَمَاءِ وَجَمَاعَةٌ مِنْ اَصْحَابِ الشَّاِفـِعى اِلىَ اَنـَّهُ يَـصِلُ . فَاْلاِ خْتِـيَارُ اَنْ يَـقُوْلَ الْقَارِئُ بَعْدَ فِرَاغِهِ: اَللََّهُمَّ اَوْصِلْ ثَـوَابَ مَا قَـرأْ تـُهُ اِلَى فُلاَنٍ . وَالله ُاَعْلَمُ

Artinya: Imam Ahmad bin Hambal dan golongan ulama’ dan sebagian dari sahabat Syafi’i menyatakan bahwa pahala do’a adalah sampai kepada mayit. Dan menurut pendapat yang terpilih: “Hendaknya orang yang membaca al-Qur’an setelah selesai untuk mengiringi bacaannya dengan do’a:

اَللََّهُمَّ اَوْصِلْ ثَـوَابَ مَا قَـرأْ تـُهُ اِلَى فُلاَنٍ

Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaan al-Qur’an yang telah aku baca kepada si fulan (mayit)”. (al-Adzkar al-Nawawi hlm. 150) [PPQ Al-Amin Purwokerto/ed]

Wallahul muwaffiq.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/dalil-tahlilan-dan-sedekah-kepada-mayit.html

Kamis, 11 Desember 2014

Bupati Subang Hadiri Ansor Bershalawat

Subang, PPQ Al-Amin Purwokerto. Bupati Subang Ojang Sohandi mengajak masyarakat untuk kembali mempererat sikap toleransi dan kepedulian antar sesama.

Hal itu ditegaskan Ojang dalam serangkaian acara Ansor Bershalawat yang dilaksanakan oleh Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Subang di Halaman Masjid Al-Muhtadin, Desa Kertajaya, Tambak dahan (Sabtu/18/05/2013).

Bupati Subang Hadiri Ansor Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Subang Hadiri Ansor Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)


Bupati Subang Hadiri Ansor Bershalawat

Menurut Ojang nilai-nilai kemanusiaan yang sudah menjadi karakter bangsa Indonesia harus benar-benar dipertahankan dengan lebih mempererat rasa toleransi dan kepedulian antar sesama.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Karakter suatu bangsa tentu tercermin dari sikap masyarakatnya. Nah, karakter saling tolong menolong, toleransi dan gotong royong sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Dan kita tentunya harus mempertahankannya untuk mengimbangi kemajuan zaman ini, tegas Ojang.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Gerakan Pemuda Ansor Cabang Subang Asep Alamsyah Heridinata,bahwa salah satu tujuan dari acara tersebut untuk mempererat ukhuwah dan tali persaudaraan.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Tujuan dari acara ini tiada untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang terjewantahkan dalam serangkaian kegiatan doa bersama. Mudah-mudahan keberkahan menyertai kita semua dalam menjalankan aktivitas keseharian, papar Asep.

Selain diisi shalawat dan doa bersama, acara tersebut diisi juga serangkaian kegiatan, diantaranya pagelaran musik islami, launching penanaman seribu pohon, dan pengajian umum.

Acara tersebut dihadiri oleh ribuan jamaah Muslimat NU. Selain itu,dihadiri juga oleh Ketua Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Barat, Hendrik Kurniawan, Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama Cabang Subang, KH Mussa Muttaqien dan KH Mujahidin Fatawi, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Subang, Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Cabang Subang.

Tampil sebagai penceramah Habib Mushtafa dari Purwakarta.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Ade Mahmoedin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44586/bupati-subang-hadiri-ansor-bershalawat

PPQ Al-Amin Purwokerto

Senin, 19 Mei 2014

Pagar Nusa Pamekasan Bekali Santri Keterampilan Bela Diri

Pamekasan, PPQ Al-Amin Purwokerto. Pagar Nusa Pamekasan tampak gencar menjaring anggota baru. Salah satunya dengan menyasar para santri di lingkungan pesantren yang tersebar di tiga belas kecamatan. Pesantren Sumber Anom Pamekasan tak luput dari bidikan Pagar Nusa.

Para santri asuhan Ketua PCNU Pamekasan KH Taufiq Hasyim diajari keterampilan bela diri oleh pelatih dari Pagar Nusa Pamekasan, Selasa (8/11) malam.

Pagar Nusa Pamekasan Bekali Santri Keterampilan Bela Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Pamekasan Bekali Santri Keterampilan Bela Diri (Sumber Gambar : Nu Online)


Pagar Nusa Pamekasan Bekali Santri Keterampilan Bela Diri

Para santri terlihat antusias menjalani latihan bela diri. Tak satu pun dari mereka yang menyerah, selalu semangat dari awal hingga akhir latihan.

Ketua Pagar Nusa Salman Al-Farizi menegaskan, latihan tersebut dimaksudkan guna membekali para santri keterampilan bela diri. Harapannya, mereka bisa menjadi benteng utama kelak dalam mempertahankan NKRI dan memperjuangkan paham Ahlussunnah wal Jamaah.

PPQ Al-Amin Purwokerto

"Sebatas bela diri, bukan untuk melukai atau mencederai orang lain," terang Salman Al-Farizi.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Mantan Ketua IPNU Pamekasan ini menargetkan, seluruh santri di puluhan pesantren di Kabupaten Pamekasan bisa menjadi kader Pagar Nusa. Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan ketelatenan dan keseriusan para pengurus dan pelatih dalam menggembleng para santri di lingkungan pesantren.

"Alhamdulillah, Pengasuh Sumber Anom yang merupakan Ketua PCNU Pamekasan KH Taufiq Hasyim sangat mengapresiasi program kami. Buktinya, ia dengan antusias mendorong santrinya bergabung dengan Pagar Nusa PCNU Pamekasan," tukasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72777/pagar-nusa-pamekasan-bekali-santri-keterampilan-bela-diri

PPQ Al-Amin Purwokerto

Rabu, 02 April 2014

10 Jaminan Hidup Bagi Penggemar Shalawat Nabi Muhammad

PPQ Al-Amin Purwokerto - Al-Imam al-Quthub Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dari Jeddah adalah salah satu guru Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan. Salah satu di antara mutiara hikmah dan nasihat Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf adalah:

10 Jaminan Hidup Bagi Penggemar Shalawat Nabi Muhammad
10 Jaminan Hidup Bagi Penggemar Shalawat Nabi Muhammad


من أكثر الصلاة والسلام على النبي صلى الله عليه وآله وسلم كانت له عشر ضمانات: ضمان بنجاح مطلبه. ضمان بالموت على لاإله إلا الله . ضمان برؤياء النبي ﷺ ضمان بالسعادة في الدنيا. ضمان بالبركة في اﻷولاد. ضمان بتيسير المعاش. ضمان بالحفظ من عناء الدنيا ونصبها. ضمان بالقرب منه صلى الله عليه وآله وسلم. ضمان بالرعاية الكبرى من المولى سبحانه وتعالى. ضمان بالرضا من المولى سبحانه وتعالى ومن النبي صلى الله عليه وآله وسلم.

Ada 10 jaminan bagi orang yang gemar membaca shalawat Nabi Muhammad Saw.:

1. Harapan dan keinginannya akan terwujud.

2. Matinya akan mendapatkan husnul khatimah.

3. Mempermudah baginya untuk mimpi bertemu Nabi Muhammad Saw.

4. Bahagia hidupnya.

5. Barokah anak-anaknya.

6. Lancar rizkinya.

7. Selamat dari himpitan dan kesusahan dunia.

8. Dekat dengan Nabi Muhammad Saw.

9. Mendapat perlindungan khusus dari Allah Swt.

10. Mendapat Ridha dari Allah Ta'ala dan Nabi Muhammad Saw.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Semoga kita digolongkan oleh Allah Swt. salah satu dari hamba-hambaNya yang gemar membaca shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Amin. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Foto: Al-Imam Al-Quthb Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah bersama Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan. Sumber: Habib Muhdor bin Ahmad Assegaf Pemalang

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/10-jaminan-hidup-bagi-penggemar-shalawat-nabi-muhammad.html

Rabu, 26 Juni 2013

Surat Untuk Alumni Perbandingan Madzhab

PPQ Al-Amin Purwokerto  - Kawan, Indonesia tahun 2016 ini berbeda dengan tahun 1991 ketika kita mulai masuk kampus IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan belajar di jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum.

Surat Untuk Alumni Perbandingan Madzhab
Surat Untuk Alumni Perbandingan Madzhab


Dulu kita asyik belajar dan berdiskusi berbagai pendapat ulama, bahkan yang di luar 4 mazhab. Tidak ada yang kafir-mengkafirkan, apalagi sampai berujung kekerasan. Kita hanya tertawa geli membaca sejumlah pendapat yang terasa ganjil dan syadz. Tapi kita menikmati argumentasi para ulama klasik itu dan kita salut dengan cara mereka mengajukan argumen.

Mendukung satu pendapat dalam mazhab Maliki tidak otomatis membuat kita pindah ke mazhab maliki. Pada topik lain boleh jadi kita mendukung mazhab Hanafi --dan toh ibadah ritual kita tetap berpatokan pada mazhab Syafi'i.

Indonesia di tahun 2016 ini meluas gerakan yang menganggap seolah mazhab-mazhab itu keliru semua dan yang benar adalah yang berpegang pada Al-Qur'an dan Hadis yang sahih. Seolah para imam mazhab itu tidak merujuk kepada dua sumber utama tersebut. Kalau ada pendapat lain yang mereka belum pernah dengar mereka langsung vonis dengan berbagai label: JIL, syi'ah, dll

Ada apa dengan Indonesia tahun 2016 ini? Kenapa mereka begitu mudah menyalahkan pendapat orang lain. Bahkan pendapat yang dilontarkan oleh otoritas keagamaan seperti guru besar keislaman, para ulama yang santun dan samudera ilmu, para kiai pengasuh pondok, langsung dilecehkan kalau mereka tidak setuju dg pandangan para guru besar dan ulama tsb. Tidak ada sikap hormat sama sekali.

Kata mereka toh para profesor dan ulama itu manusia biasa yang bisa salah. Iya betul para tokoh itu bisa saja salah, tapi dibanding keilmuan para ulama dan profesor tsb kita ini bisa apa? Kalau toh berbeda pandangan tetaplah bantah dg santun dan argumentatif. Tapi Indonesia tahun 2016 ini tidak butuh argumen. Yang ada adalah caci maki hanya karena kita berbeda pandangan.

Masalah sunni-syi'ah sudah demikian parah diskusinya saat ini. Ini jelas berbeda tahun 90-an saat kita kuliah dulu dimana kita bisa berdiskusi santai tentang aliran Islam Syi'ah baik dari sudut Ushul al fiqh maupun fiqhnya. Sekarang kita harus siap dimaki-maki di media sosial dan kena tuduhan syi'ah atau liberal.

Bahkan pernyataan seorang Syekhul Azhar pun dilecehkan oleh anak kemarin sore. Pernyataan otoritas keilmuan tertinggi di dunia Sunni itu dipelintir kesana kemari sesuai kepentingan masing-masing. Buat kita alumni PMH, pernyataan Syekhul Azhar itu pernyataan standar yg dikeluarkan oleh seorang alim.

Dulu kita membahas berbagai ide pembaruan hukum Islam dengan serius dan semangat. Pemikiran para tokoh yang terkadang aneh bin ajaib itu kita bahas untuk memahami argumen mereka; bukan mencari-cari kesalahan mereka. Diskusi di luar kelas, khususnya di forum diskusi juga ramai. Duduk lesehan sambil menghisap rokok dan berdebat panjang dengan kawan di kost itu hal biasa buat kita di tahun 90-an.

Beruntunglah kita mengalami masa-masa itu kawan. Indonesia tahun 2016 tidak sama dengan saat kita dulu belajar di jurusan PMH.

Tabik,

Nadirsyah Hosen, alumnus Perbandingan Mazhab dan Hukum IAIN Syarif Hidayatullah yang sekarang mengajar di Monash Law School

Oleh Prof. Nadirsyah

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/surat-untuk-alumni-perbandingan-agama.html

Sabtu, 01 Juni 2013

Dosa-Dosa Buya Yahya

PPQ Al-Amin Purwokerto - Masyarakat muslim Cirebon terkenal sebagai warga yang secara kultural bisa hidup damai karena banyak melakukan akulturasi budaya dengan lainnya. Buktinya, hingga sekarang, yang ziarah ke makam Sunan Gunung Jati Cirebon bukan hanya muslim saja. Orang Cina, Konghuchu, Budha juga damai melakukan ritual ziarah ke sana. Jelas, Sunan Gunung Jati adalah simbol pluralisme, cerminan kultur Cirebon.

Dosa-Dosa Buya Yahya
Dosa-Dosa Buya Yahya


Hingga muncullah nama Yahya Arif Zainal, yang disiarkan oleh murid-murid atas pintanya, dipanggil Buya. Sebutan yang tidak lazim bagi seusianya. Kalangan muda NU Cirebon keberatan dengan kehadiran Yahya sejak tahun 2006. Bukan cara dakwahnya yang disoal, namun isi dakwahnya mengusik ketenangan warga, nahdliyyin khususnya.

Dia datang ke Cirebon tidak punya apa-apa. Hingga kemudian ia bertemu dengan salah satu pengurus PBNU yang kaya asal Cirebon. Ia bukan santri, namun melihat Yahya adalah santri yang dianggapnya santun, pintar, ia tertarik membantu.

Orang kaya inilah yang mengajak Yahya berkunjung ke masjid-masjid, komunitas pesantren dan lainnya hingga ia dikenalkan dengan seoarang relasi yang jadi pejabat di Pertamina Cirebon. Dari CSR Pertamina itulah Yahya membangun kekuatan. Sayangnya, Yahya menggunting jaringan langsung ke Pertamina, melupakan orang yang berjasa mengenalkannya hingga kerap menghardik NU di hadapan umum, tempat pengurus PBNU itu berkhidmah.

Di mata ulama Cirebon, ia dianggap telah merusak tatanan tradisi kiai-kiai Cirebon. Selama ini, kiai-kiai Cirebon sepakat tidak pernah mengadakan pengajian di hari Ahad. Tradisi tersebut sudah berjalan puluhan

tahun karena setiap Ahad ada pengajian di Jagastaru, Cirebon yang diasuh Habib Muhammad bin Syech bin Yahya (alm).

Guru Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan ini dianggap sesepuh, berkarakter toleran serta ditokohkan oleh para kiai di Cirebon. Kehadiran Ayib Muh, -panggilan Habib Muhammad bin Yahya-, sangat meneduhkan masyarakat lokal Cirebon.

Kiai-kiai pesantren di Cirebon, baik dari daerah Buntet, Gedongan, Ciwaringin, Ngempek, setiap hari Ahad selalu ngaji, datang langsung majelis ke Ayib Muh. Namun, tiba-tiba Yahya membuat pengajian tandingan di waktu dan hari yang sama.

Atas itu, para kiai muda mengingatkan dan mendatangi Yahya agar tidak mengadakan pengajian di hari tersebut. “Kita sama-sama dakwah, di sana ngaji, kita juga ngaji, kok ngaji saja harus diatur,” jawab Yahya congkak.

Tidak mau diingatkan, lama-lama banyak yang merasa kurang nyaman karena merekrut jama’ahya Ayib Muh. Cara yang dilakukan adalah membayari mobil-mobil rombongan ngaji dari jama’ah yang ada di desa-desa. Itu yang membuat marah kiai-kiai Cirebon pada awalnya.

Etika Yahya inilah yang dianggap para kiai-kiai di kampung tidak sesuai dengan kultur masyarakat muslim Cirebon yang dikenal menghargai dan menjunjung tinggi orang tua serta alim seperti Ayib Muh.

Yahya juga pernah dirangkul untuk masuk jadi pengurus NU struktural. Dijawab olehnya bahwa ia tidak butuh NU. “Saya muslim, silakan yang NU ya NU, saya ya saya, tapi saya Aswaja, sunni namun tidak berorganisasi,” jawabnya.

Bukan hanya oleh pengurus NU ia didatangi dan dirangkul. Menantu Ayib Muh bernama Habib Miqdad Baharun dan Quraish Baharun pun datang ikut menawari masuk jamiyyah NU, namun Yahya tetap menolak. Dalam tradisi santri, hal itu dianggap su’ul adab (tidak berkahlaq), apalagi dia seperti menantang.

Yahya kian gemar menghina NU sejak isu syiah dimunculkan kembali, utamanya disasarkan kepada Kiai Said, ketua PBNU sekarang.

Kejadian itu dimulai sejak keluarga besar NU (KBNU) yang terdiri atas unsur-unsur organisasi semacam IPNU, PMII, Ansor, Fatayat, Muslimat dan lainnya mengadakan peringatan 10 Muharram pada 2008. Di situlah Yahya mulai menyerang Kiai Said karena menghadiri acara yang disebut bermisi syiah tersebut.

Panitia sempat berpindah tempat dari rencana awal di Masjid Agung At-Taqwa Cirebon karena ditolak oleh kelompok Yahya. Mereka menyebut agenda acara itu bagian dari gerakan syiah. Karena tidak ingin terjadi konflik, lokasi kegiatan dipindah ke dalam Keraton.

Pasca kejadian itu, Yahya mulai berani menyerang dengan melontarkan tuduhan tak berdasar kepada publik bahwa NU itu organisasi Syiah. Pada titik ini, anak-anak muda NU di KBNU mulai sangat keberatan dengan kehadiran Yahya. Ia dengan mudah menyerang Kiai Said yang saat ini jadi simbol NU.

Yang kemudian membuat kemarahan anak muda NU itu bertambah adalah munculnya NU Garis Lurus, dimana ada nama Yahya bersedia diangkat sebagai Dewan Syuriah NUGL dengan Luthfi Bashori sebagai Imam Besar nya. Ditawari masuk NU menantang, tapi justru masuk ke barisan sakit hati semacam NUGL.

Celakanya lagi, saat NU sedang membangun dan mensosialisasikan pola ukhuwwah basyariyah dan ukhuwwah islamiyah lewat gerakan Islam Nusantara, Yahya semakin ringan menghina NU dengan menyebut bahwa Islam Nusantara itu seperti babi yang dikemas dalam bentuk kambing. Seorang alim, tapi bicaranya seperti anjing.

Gerakan Yahya ini cukup sistemik. Melalui kendaraan Al-Bahjah, Yahya tidak hanya melakukan gerakan di Cirebon saja, tapi di daerah lain. Ia tidak memusuhi NU secara frontal tapi gerakannya merusak tatanan dan tradisi muslimin di Indonesia. Khususnya NU dan adab santri. Dukungannya atas isu syiah-sunni saja sudah bisa dibaca arah gerakannya ada kaitan dengan Arab.

Sangat mudah jika menyebut Yahya punya jaringan Arab sekaligus misinya mengingat ia lulusan Universitas al-Ahqaf, Yaman Selatan, yang dikenal sebagai titik tumbuhnya Islam non wahabi garis keras dan radikal.

Atas ulahnya itu, Yahya pernah dipanggil 30-an kiai, namun tidak pernah direspon. Tercatat, agenda pemanggilan untuk klarifikasi pernah direncanakan dua kali oleh para kiai. Sebelumnya, sudah puluhan kiai

mendatangi. Hasilnya nihil.

Walau belum pernah menegur secara langsung, anak-anak muda NU di sana sudah puluhan kali mengundang Yahya dalam acara, namun tidak penah satu kali pun hadir. Gemesnya, dia justru sangat bangga diundang kelompok NUGL. Walau tidak pernah melakukan kekerasan fisik, tapi Gusti Allah ora sare.

Semoga setelah kecelakaan, dia sadar atas dosa-dosanya kepada kiai-kiai Cirebon yang cinta Ayib Muh. Penghinaan kepada NU dan Kiai Said juga diharapkan tidak dilanjutkan dalam acaranya yang disebut “ngaji” itu, serta tidak mudah melontarkan caci-maki karena benci.

Sepintar apapun santri, jika tidak tidak menggunakan adab sebagai baju, ia tidak lebih seperti dzubab (lalat). Ya Jabbar ya Qahhar! Menghina NU dan Kiai, fantadziris saa’ah. [PPQ Al-Amin Purwokerto/ luqman segaff]

Sumber: Transkip rekaman keterangan Anak Muda NU Cirebon.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/dosa-dosa-buya-yahya.html

Rabu, 10 Oktober 2012

Mensos: Bansos Non-Tunai Efektif Dorong Kenaikan Indeks Keuangan Inklusif

Bangli, PPQ Al-Amin Purwokerto. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa optimistis bantuan sosial (bansos) non tunai efektif mendorong percepatan kenaikan indeks keuangan inklusif hingga 75 persen di tahun 2019 mendatang.

Peningkatan inklusi keuangan tersebut didongkrak dari meningkatnya jumlah rekening perbankan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2016 lalu, tingkat inklusi layanan keuangan menyentuh angka 67,8 persen.

Mensos: Bansos Non-Tunai Efektif Dorong Kenaikan Indeks Keuangan Inklusif (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos: Bansos Non-Tunai Efektif Dorong Kenaikan Indeks Keuangan Inklusif (Sumber Gambar : Nu Online)


Mensos: Bansos Non-Tunai Efektif Dorong Kenaikan Indeks Keuangan Inklusif

Tidak hanya itu, Khofifah yakin skema bantuan sosial nontunai yang dilakukan Pemerintah melalui Kementerian Sosial mampu mempercepat penanggulangan kemiskinan dan mengurangi kesenjangan antarindividu dan antardaerah.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Hal tersebut disampaikan Khofifah Indar Parawansa saat menyerahkan jaminan hidup (Jadup) bagi korban bencana tanah longsor dan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Geo Park Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, Jumat (28/4).

PPQ Al-Amin Purwokerto

Khofifah mengatakan, hampir seluruh penerima bansos belum memiliki rekening perbankan. Dengan mekanisme penyaluran non tunai, maka secara otomatis mereka akan mendapatkan rekening perbankan dan terhubung dengan industri jasa keuangan.

"Dengan terkoneksinya mereka dengan industri keuangan tentu saja berbagai layanan perbankan bisa diakses, minimal mereka bisa menabung," ujarnya.

Khofifah menjelaskan, tahun 2017 ini jumlah keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) ada sebanyak 6 juta keluarga dan akan ditambah sebanyak 4 juta KPM di tahun 2018 mendatang. Sehingga tahun depan total KPM mencapai 10 juta.

Sementara Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang saat ini menyasar 1,28 juta juga bertambah menjadi 10 juta KPM. Seluruhnya akan disalurkan secara non tunai dengan memanfaatkan jaringan perbankan milik Himpunan Bank Negara (BRI, BNI, Mandiri, dan BTN).

Khofifah berpendapat, apa yang dilakukan pemerintah melalui strategi nasional keuangan inklusif (SNKI) merupakan lompatan besar pembangunan di Indonesia. Bukan tanpa alasan, mengingat sasaran keuangan inklusif tersebut adalah masyarakat miskin, bukan kelas menengah.

Tentu saja, lanjut dia hal tersebut ada konsekuensinya. Dengan masih rendahnya literasi layanan perbankan, perlu edukasi terus menerus kepada para penerima manfaat.

Tidak hanya soal bagaimana cara mengambil uang lewat kartu atm, tapi juga tentang kegunaan rekening, produk perbankan, perencanan keuangan keluarga, manfaat menabung, dan lain sebagainya, termasuk berbagai risiko yang mungkin terjadi.

"Dari data yang ada, di tahun 2016 tingkat literasi Indonesia hanya mencapai 29,66 persen. Artinya dari 100 orang hanya 29 orang yang paham dan mengerti layanan keuangan," terangnya.

"Saya harap pemerintah daerah bersama perbankan lebih aktif mengedukasi penerima bantuan sosial non tunai," tambah Khofifah.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2016 tentang Penyaluran Bantuan Sosial Secara non tunai. Dengan peraturan tersebut, kini keluarga penerima manfaat (KPM) tidak lagi menerima bantuan uang secara tunai, namun digantikan dengan bantuan non tunai berbentuk kartu ATM yaitu Kartu Keluarga Sejahtera disertai buku tabungan.

Salurkan jaminan hidup

Sementara itu, sebanyak 83 KK atau 303 jiwa korban tanah longsor menerima Jadup yang langsung diserahkan Mensos Khofifah senilai total Rp272,7 juta. 83 KK tersebut juga diberikan bantuan paket sembako senilai total Rp15,8 juta. Sehingga total bantuan yang diberikan sebanyak Rp288,5 juta.

Sebelumnya, pada masa bencana Kemensos telah memberikan bantuan bagi pengungsi senilai total Rp163,4 juta terdiri dari paket lauk pauk, alat makan, alat masak, tenda gulung, tenda keluarga, selimut, matras, family kit , dan food ware.

Khofifah mengatakan jadup menurut Peraturan Menteri Sosial Nomor 04 Tahun 2015 adalah bagi keluarga yang rumahnya rusak berat. Jadup diberikan satu kali dan pencairannya dilakukan setelah masa tanggap darurat selesai.

"Saya melihat ketegaran yang luar biasa dari warga Kintamani. Semoga kita semua diberi kekuatan dan ketabahan dari Tuhan yang maha esa untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik. Semoga kejadian seperti ini (tanah longsor-red) tidak berulang kembali," kata Khofifah.

Khofifah juga menyerahkan bantuan sosial sejumlah Rp17,8 miliar yang terdiri dari PKH senilai Rp4,2 miliar untuk 2.266 keluarga, beras sejahtera (Rastra) Rp13,1 miliar bagi 9.556 keluarga, bansos disabilitas senilai Rp219 juta untuk 73 jiwa, dan bansos lansia Rp202 juta bagi 101 jiwa. (Red: Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77482/mensos-bansos-non-tunai-efektif-dorong-kenaikan-indeks-keuangan-inklusif

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PPQ Al-Amin Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PPQ Al-Amin Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PPQ Al-Amin Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock