Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 April 2014

10 Jaminan Hidup Bagi Penggemar Shalawat Nabi Muhammad

PPQ Al-Amin Purwokerto - Al-Imam al-Quthub Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dari Jeddah adalah salah satu guru Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan. Salah satu di antara mutiara hikmah dan nasihat Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf adalah:

10 Jaminan Hidup Bagi Penggemar Shalawat Nabi Muhammad
10 Jaminan Hidup Bagi Penggemar Shalawat Nabi Muhammad


من أكثر الصلاة والسلام على النبي صلى الله عليه وآله وسلم كانت له عشر ضمانات: ضمان بنجاح مطلبه. ضمان بالموت على لاإله إلا الله . ضمان برؤياء النبي ﷺ ضمان بالسعادة في الدنيا. ضمان بالبركة في اﻷولاد. ضمان بتيسير المعاش. ضمان بالحفظ من عناء الدنيا ونصبها. ضمان بالقرب منه صلى الله عليه وآله وسلم. ضمان بالرعاية الكبرى من المولى سبحانه وتعالى. ضمان بالرضا من المولى سبحانه وتعالى ومن النبي صلى الله عليه وآله وسلم.

Ada 10 jaminan bagi orang yang gemar membaca shalawat Nabi Muhammad Saw.:

1. Harapan dan keinginannya akan terwujud.

2. Matinya akan mendapatkan husnul khatimah.

3. Mempermudah baginya untuk mimpi bertemu Nabi Muhammad Saw.

4. Bahagia hidupnya.

5. Barokah anak-anaknya.

6. Lancar rizkinya.

7. Selamat dari himpitan dan kesusahan dunia.

8. Dekat dengan Nabi Muhammad Saw.

9. Mendapat perlindungan khusus dari Allah Swt.

10. Mendapat Ridha dari Allah Ta'ala dan Nabi Muhammad Saw.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Semoga kita digolongkan oleh Allah Swt. salah satu dari hamba-hambaNya yang gemar membaca shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Amin. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Foto: Al-Imam Al-Quthb Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah bersama Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan. Sumber: Habib Muhdor bin Ahmad Assegaf Pemalang

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/10-jaminan-hidup-bagi-penggemar-shalawat-nabi-muhammad.html

Selasa, 01 April 2014

PAC IPNU-IPPNU Kalideres Gelar Makesta dan Konferancab

Jakarta, PPQ Al-Amin Purwokerto. Hari Selasa, 9 Juli 2013 Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdhlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC. IPNU-IPPNU) Kec. Kalideres mengadakan tahap pengkaderan pertama, masa kesetiaan anggota (Makesta) dan Konferancab ke IX di Yayasan Muslimat Jakarta.

Tujuan diadakannya acara ini untuk membentuk karakter kepemimpinan dan pemahaman manajemen organisasi calon anggota IPNU-IPPNU Kec. Kalideres dan sebagai agenda per semester dari pelaksanaan Makesta dalam satu tahun. Makesta tersebut diikuti oleh beberapa sekolah dan remaja masjid dan musholla yang berada di wilayah Kecamatan Kalideres.

PAC IPNU-IPPNU Kalideres Gelar Makesta dan Konferancab (Sumber Gambar : Nu Online)
PAC IPNU-IPPNU Kalideres Gelar Makesta dan Konferancab (Sumber Gambar : Nu Online)


PAC IPNU-IPPNU Kalideres Gelar Makesta dan Konferancab

Acara ini berlangsung dibawah kepanitian pengurus PAC. IPNU-IPPNU Kalideres Angkatan VIII yang diketuai oleh Agung Setiawan.

Acara tersebut bertemakan Meningkatkan Jiwa Kepemimpinan dan Menangkal Radikalisme di Kalangan Pelajar bertujuan ketika para peserta dibekali materi tentang kepemimpinan dan terbentuknya mental yang bermartabat sehingga memiliki akhlak dan moralitas yang terpuji.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Makesta berlangsung selama 3 hari yang dibuka oleh Ketua IPNU Jakarta Barat Nahraji Zen dan ditutup oleh Bendahara PC IPNU Jakarta Barat Afnan Dzikril Hafidz.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Dalam acara tersebut para peserta dilatih untuk lebih menguatkan rasa kepemimpinanya dan memperluas wawasan tentang ahlussunnah wal jamah. Dalam pokok penyampaian materi yang terdiri dari ideologi, manajemen organisasi, dan pengetahuan umum, berjalan dengan sukses sampai akhir acara.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Yudhi Permana

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45737/pac-ipnu-ippnu-kalideres-gelar-makesta-dan-konferancab

PPQ Al-Amin Purwokerto

Jumat, 29 November 2013

Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia)

PPQ Al-Amin Purwokerto - Ini teks istighotsah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari yang saya dapat dari kiai Fahruddin, pengasuh PP. Thoriqul Huda Ponorogo beberapa bulan sebelum beliau wafat. Beliau menerima dari Gus Kholiq bin Hasyim Asy'ari.

Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia)
Teks Istighotsah KH Hasyim Asyari (Untuk Hadapi Gonjang Ganjing Indonesia)


Ada secuil kisah tentang istighotsah tersebut. Konon kiai Hasyim pernah memprediksi akan terjadinya gonjang-ganjing yang akan menimpa Indonesia wa bil khusus Nahdlatul Ulama.

Apakah fenomena sekarang di mana antar umat Islam, antar ormas Islam dengan mudah diadu domba, saling mencaci-maki orang adalah gonjang-ganjing yang dimaksud Hadratus Syaikh? Wallahu A'lam.

Senyampang kita masih waras menurut ukuran kita sendiri, mari sama-sama berdoa agar kita tidak termasuk dalam lingkaran pelaku gonjang-ganjing tersebut.

NB. Bila ada teks atau harakat yang salah, mohon maaf. Saya dapatnya begitu. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Gus Zaki Hadziq Tebuireng, cucu KH. Hasyim Asy'ari.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/teks-istighotsah-kh-hasyim-asyari.html

Jumat, 04 Mei 2012

Ketika Nabi Berdoa di Makam

PPQ Al-Amin Purwokerto - Hadist tentang dzikir yang dibaca oleh Rasulullah saat pemakaman Sa'd bin Muadz pada dasarnya adalah sebagai hadis Mutaba'ah (penguat secara eksternal) dari hadis-hadis Sahih tentang Sa'd bin Muadz yang selamat dari siksa kubur. Hadist tersebut adalah:

Ketika Nabi Berdoa di Makam
Ketika Nabi Berdoa di Makam


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِيِّ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا إِلَى سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ حِينَ تُوُفِّيَ، قَالَ: فَلَمَّا صَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَسُوِّيَ عَلَيْهِ، سَبَّحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَبَّحْنَا طَوِيلًا، ثُمَّ كَبَّرَ فَكَبَّرْنَا، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَ سَبَّحْتَ؟ ثُمَّ كَبَّرْتَ؟ قَالَ: " لَقَدْ تَضَايَقَ عَلَى هَذَا الْعَبْدِ الصَّالِحِ قَبْرُهُ حَتَّى فَرَّجَهُ اللهُ عَنْهُ "

“Jabir bin Abdillah berkata: “Pada suatu hari kami keluar bersama Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallam menuju sahabat Sa’ad bin Mu’adz ketika meninggal dunia. Setelah Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat jenazah kepadanya, ia diletakkan di pemakamannya, dan tanah diratakan di atasnya, maka Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallam membaca tasbih. Kamipun membaca tasbih dalam waktu yang lama. Kemudian Nabi membaca takbir, maka kami membaca takbir. Lalu Nabi ditanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau membaca tasbih kemudian membaca takbir?” Nabi menjawab: “Kuburan hamba yang shaleh (Sa’ad bin Mu’adz) ini benar-benar menjadi sempit kepadanya, hingga Allah melapangkannya baginya.”

- Pendapat Ahli Hadis al-Hafidz Al-Haitsami:

ﺭﻭاﻩ ﺃﺣﻤﺪ، ﻭاﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ، ﻭﻓﻴﻪ ﻣﺤﻤﻮﺩ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ اﻟﺠﻤﻮﺡ ﻗﺎﻝ اﻟﺤﺴﻴﻨﻲ: ﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ. ﻗﻠﺖ: ﻭﻟﻢ ﺃﺟﺪ ﻣﻦ ﺫﻛﺮﻩ ﻏﻴﺮﻩ.

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani dalam Mu'jam Kabir. Di dalamnya terdapat Mahmud bin Muhammad bin Abd Rahman bin Amr bin al-Jamuh. Al-Husaini berkata: "Ia bermasalah". Saya (al-Haitsami) Tidak aku temukan ulama yang menyebutnya selain al-Husaini (Majma' az-Zawaid)

- Komentar Ulama Salafi Syekh Al-Albani: ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﻤﻮﺩ ﻫﺬا , ﻓﻘﺎﻝ اﻟﺤﺴﻴﻨﻰ: " ﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ ". ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺤﺎﻓﻆ ﻓﻰ " اﻟﺘﻌﺠﻴﻞ ": " ﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻯ ﻭﻻ ﻣﻦ ﺗﺒﻌﻪ ".

Para perawi hadisnya terpercaya kecuali Mahmud ini. Al-Husaini berkata: "Ia bermasalah". Al-Hafidz berkata dalam at-Ta'jil: "Al-Bukhari dan lainnya tidak menyeburnya" (Irwa' al-Ghalil /166)

- Pendapat Syekh Syuaib al-Arnauth: ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺣﺴﻦ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ اﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ، ﻭﻣﺤﻤﻮﺩ- ﻭﻳﻘﺎﻝ: ﻣﺤﻤﺪ- ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﺮﻭ ﻋﻨﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺭﻓﺎﻋﺔ، ﻭﻭﺛﻘﻪ ﺃﺑﻮ ﺯﺭﻋﺔ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ "اﻟﺠﺮﺡ ﻭاﻟﺘﻌﺪﻳﻞ" 7/316، ﻭﺫﻛﺮﻩ اﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻓﻲ "اﻟﺜﻘﺎﺕ" 5/373.

Hadist ini riwayat Ahmad. Sanadnya Hasan, karena Ibnu Ishaq. Sementara Mahmud adalah Muhammad bin Abd Rahman, yang meriwayatkan darinya hanya Muadz bin Rifaah. Ia dinilai terpercaya oleh Abu Zurah dalam al-Jarh wa at-Ta'dil (7/316) dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam ats-Tsiqat (5/373)

ﻭاﻟﺤﺪﻳﺚ ﻓﻲ "ﺳﻴﺮﺓ اﺑﻦ ﻫﺸﺎﻡ" ﻋﻦ اﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ 3/263. ﻭﺃﺧﺮﺟﻪ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ (5346) ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺳﻠﻤﺔ، ﻭاﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻓﻲ "ﺇﺛﺒﺎﺕ ﻋﺬاﺏ اﻟﻘﺒﺮ" (113) ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﻳﻮﻧﺲ ﺑﻦ ﺑﻜﻴﺮ، ﻛﻼﻫﻤﺎ ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ، ﺑﻬﺬا اﻹﺳﻨﺎﺩ. ﻭﺃﻭﺭﺩﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ "اﻟﺘﺎﺭﻳﺦ اﻟﻜﺒﻴﺮ" 1/148 ﻣﺨﺘﺼﺮا: ﺩﻓﻦ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﻣﻌﺎﺫ ﻭﻧﺤﻦ ﻣﻊ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ.

Hadis ini terdapat dalam Sirah Ibni Histam 3/263 dari Ibnu Ishaq. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani 5346. Oleh al-Baihaqi dalam Itsbat Adzab al-Qabri 113. Dan al-Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabir 1/147.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini sebanyak dua kali. Pada riwayat kedua ini Syekh Syuaib menulis catatan:

ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ، ﻭﻫﺬا ﺇﺳﻨﺎﺩ ﺣﺴﻦ. ﻭﻗﺪ ﺳﻠﻒ ﺑﻬﺬا اﻹﺳﻨﺎﺩ ﺑﺮﻗﻢ (14873) ﻓﺎﻧﻈﺮﻩ.

Ini hadist sahih. Sanad hadis ini adalah Hasan. Sabadnya telah dijelaskan di no 14873. Lihatlah. Pendapat ulama saat ini yang tergabung dalam web dibawah ini menegaskan bahwa hadis di atas tidaklah dlaif:

قلت : محمد و محمود شخص واحد اضطرب الرواة في اسمه ، و هو معروف النسب ، والده و جده معدودان في الصحابة ، ذكره البخاري في (( الكبير )) (1/148 ) و سكت عنه ، و ابن حبان في (( الثقات )) ( 5/373) ، و انظر : (( تعجيل المنفعة)) ( رقم : 1010 ) ، و (( تهذيب الكمال)) (28/121) . و الذي يظهر لي في هذا الإسناد أنه صالح ، لا بأس به ، فمعاذ : لا بأس به ، و قد سمع من جابر بغير واسطة ، و لو سلمنا رجحان رواية ابن إسحاق لكانت كذلك صالحة ، لحال ابن الجموح فهو مستور الحال ، و تنزل معاذ في الرواية عنه يقويه ، و الله أعلم .

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-3098.html

Ma'ruf Khozin, pengasuh Kajian Hadis Bulughul Maram di Masjid al-Akbar, Surabaya

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/ketika-nabi-berdoa-di-makam.html

Minggu, 27 November 2011

Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Jafar

PPQ Al-Amin Purwokerto - Seiring bom tak jauh dari masjid Nabawi beserta pemberitaannya, ada tulisan yang menyangkal informasi umum yang beredar. Narasumbernya orang bernama Fathuddin Ja'far, yang saat kejadian mengatakan berada di dlm Masjid Nabawi. Kesaksian ini dimuat di sejumlah media, beredar di socmed, grup WA dan seterusnya, yang intinya berita bom Madinah tak sesuai fakta, berlebihan dan merupakan sebuah konspirasi untuk menyudutkan Islam.

Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Jafar
Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Jafar


Menurut Ja'far, ia tidak mendengar ledakan, hanya melihat kepulan asap. "Kami hanya melihat kepulan asap seperti ada kebakaran di seberang Baki', makam para sahabat Rasulullah."

Di dalam masjid juga tak seorang pun yang membicarakan soal bom. Suasana di dalam masjid dan luar masjid juga seperti biasa, tak ada yang berubah dari malam-malam sebelumnya.

Dengan instingnya Ja'far merasa ada yang tidak benar dengan berita yang beredar. Ia merasa bahwa yang terjadi hanyalah konspirasi. "Naluri media dan konspirasi saya muncul," tulisnya.

Dan ia makin meyakini saat melihat televisi dan internet, di mana berita pemboman sudah menyebar luas. Ia memutar Al-Arabiya, televisi yang ia sebut milik Yahudi, dan ia menganggap beritanya terlalu dibesar-besarkan. Ia juga menganggap running-text Al-Arabiya sangat provokatif.

Ia pun mengecam Al-Arabiya, menyebut bahwa semua adalah kebohongan kaum kafir yang ingin menjatuhkan Islam. "Saya semakin yakin bahwa umat Islam sekarang sedang menghadapi fitnah dan konspirasi dari segala arah yang sangat luar biasa dari musuh-musuh Allah," tulisnya yang muncul di sejumlah media yang tidak begitu jelas kedudukannya.

Membaca tulisan Fathuddin Ja’far saya hanya melihat orang yang di kepalanya memang sudah diinapi pikiran bahwa Islam sedang diserang, bahwa selama ini ada konspirasi untuk menjatuhkan Islam oleh kaum kafir. Aku tidak tahu Islam yang mana yang dimaksud Ja’far, karena sebagai orang Islam aku tidak merasa. Lalu kafir yang mana juga tak jelas, apakah kafir Amerika, kafir Yahudi atau kafir dari planet Mars.

Kesaksian Ja’far, yang di-share banyak orang, tak menggugurkan berita yang ia bantah. Tak ada poin di berita yang beredar yang bisa ia tunjukkan kebohongannya. Tapi di ujung tulisan ia menyimpulkan bahwa semua adalah kebohongan.

Ja’far tampak sudah apriori dengan media dan apa pun yang diberitakan olehnya. Ia juga tendensius dan terlihat kurang wawasan ketika menyebut “Al-Rabiya” sebagai TV Yahudi, karena jika yang ia maksud adalah Al-Arabiya, televisi ini tak lain dimiliki oleh keluarga Kerajaan Arab Saudi. Entah dari mana Ja’far punya informasi bahwa Al-Arabiya milik Yahudi–dari sebuah sumber atau imajinasinya semata, kita tidak tahu. Mungkin dari intelijen atau alien galaksi Andromeda.

Dalam tulisannya Ja'far menyebut bahwa ledakan terjadi jauh dr Masjid Nabawi. "Kepulan asap di seberang Baki, makam sahabat-sahabat Rasullullah," jelasnya.

Jauh-dekat relatif. Berdasar standar keamanan ledakan di radius 3 km dari obyek atau lokasi vital bisa dikatakan dekat dan sudah berkategori sangat mengancam dan membahayakan. Apalagi berdasar penjelasan dari pejabat KJRI Saudi, Fadhly Achmad Hamid, lokasi ledakan hanya berjarak 500 meter dari masjid Nabawi, tepatnya di area parkir keamanan, bagian belakang masjid Nabawi. Aku tidak tahu apakah Ja’far mengecek area ini.

Justru sangat aneh jika Ja’far menganggap ledakan di tempat yang asapnya bisa disaksikan jelas dari Masjid Nabawi disebut jauh dan tak membahayakan. Bahwa Ja’far tidak mendengar ledakan dan jamaah di Masjid Nabawi masih anteng tarawih karena memang tak menyadarinya dan itu menunjukkan manajemen keamanan cukup bagus. Karena jika langsung dikabarkan kepada jamaah bahwa ada bom meledak di luar kawasan masjid, kepanikan dan kekacauan bisa terjadi–dan mungkin justru menimbulkan korban.

Persoalan bahwa Ja’far tidak mendengar ledakan tidak lantas ledakan tidak ada. Apa yang tidak kita ketahui tidak lantas tidak terjadi. Karena ada situasi-situasi yang membuat kita sering tidak mengetahui peristiwa yang terjadi tak jauh dari posisi kita. Orang yang berada di sekitar kejadian sebuah peristiwa tidak selalu mengetahui dan menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Jurnalis yang baru datang justru sering lebih tahu, karena ia mewawancarai banyak saksi mata dan mengecek tempat kejadian perkara.

Orang-orang yang ada di dalam Sarinah Thamrin saat terjadi bom di luarnya banyak yang tak tahu apa yang terjadi. Beberapa juga tak mendengar bom. Saya yang berkantor tak sampai 2 km dari lokasi bom Thamrin saat itu juga tak mendengar suara, meski beberapa orang di kawasan kantor saya bilang mendengar. Itu soal telinga, atau fokus dan konsentrasi yang berbeda.

Tapi pihak keamanan Arab Saudi sudah jelas mengonfirmasi ledakan itu, yang menewaskan 2 orang dan melukai 4 orang. Foto korban juga sudah dirilis media. Bukan hanya Al-Arabiya, tapi Al-Jazeera dan media-media Islam lain juga memberitakannya, selain ratusan media internasional. Media tak mungkin mengarang untuk informasi ini. Jadi aku tidak tahu dmn kebohongan media yang dibilang oleh Fathuddin Ja’far, dan lebih tidak tahu lagi media kafir mana yang berbohong.

Saya mengecek video Al-Arabiya di webnya dan Al-Arabiya tidak memberitakan bahwa ledakan terjadi di gerbang Masjid Nabawi. Lalu apa lantas itu tidak berbahaya dan tidak layak diberitakan besar-besaran oleh media? Jika kamu berpikir berpikir begitu maka kamu tidak tahu media, tidak tahu betapa pentingnya Madinah–apalagi masjid Nabawi. Jangankan bom, ada satu orang mati ditusuk di kawasan Masjid Nabawi bisa jadi berita besar. Karena Madinah dan Masjid Nabawi punya arti penting buat umat Islam.

Membaca tulisan Fathuddin Ja'far, aku tidak tahu media kafir mana yang ia tunjuk, karena Al-Arabiya dan Al-Jazeera yang memberitakan paling awal kejadian Madinah adalah milik negara Islam, yang wartawannya jg sebagian besar muslim. Atau Ja'far menganggap Al-Arabiya dan Al-Jazeera juga media kafir? Lalu yang bukan kafir yang mana? Mbuhlah....

Jika kamu punya dugaan simpanlah dugaanmu untuk dirimu sendiri sebelum menemukan bukti. Jika kamu meyakini adanya konspirasi telitilah dulu sebelum menuduh sana-sini. Bukan cuma keluar masjid, balik hotel ngecek internet dan nonton TV lalu berteriak ada konspirasi.

Maaf, tentu aku lebih percaya wartawan yang memang dididik untuk mengecek dan meliput peristiwa ketimbang orang yang ada di kawasan kejadian perkara tapi ke TKP pun tidak. Tak ada keterangan apakah Fathuddin Ja'far mengecek TKP, melihat korban atau benda yang terbakar akibat ledakan. [PPQ Al-Amin Purwokerto PPQ Al-Amin Purwokerto]

Oleh Savic Ali

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/bom-madinah-konspirasi-kafir-menjawab-analisa-konyol-fathuddin-jafar.html

Senin, 25 April 2011

Ketika Perbedaan Jadi Proyek Hoax Adu Domba di Medsos

Contoh berita hoax Nusron Wahid PPQ Al-Amin Purwokerto - Ini bukan cerita tentang tokoh tertentu, tapi sekadar contoh dua tokoh yang sering jadi "proyek" media sosial (medsos), yakni Nusron Wahid dan KH Ahmad Musta'in Syafi'ie dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

"Kalau Peserta Aksi 212 (2-12-2016) Lebih dari Seribu Orang Ludahi Muka Saya....". Begitu ungkapan Nusron yang jadi viral. Bahkan ada viral yang sama tapi diberi capture "detikcom". Nah, Nusron dan detikcom sama-sama membantah.

Nusron bilang kalau dia tidak pernah ngomong seperti itu. Detikcom juga bilang tidak pernah menampilkan foto dan pernyataan Nusron seperti itu. Artinya, semuanya hanya "tempelan". Dampaknya? Akal jadi tidak waras. Itulah adu domba.

Ketika Perbedaan Jadi Proyek Hoax Adu Domba di Medsos - PPQ Al-Amin Purwokerto
Ketika Perbedaan Jadi Proyek Hoax Adu Domba di Medsos - PPQ Al-Amin Purwokerto


Ketika Perbedaan Jadi Proyek Hoax Adu Domba di Medsos

Contoh adu domba yang lain. Pernyataan KH Ahmad Musta'in Syafi'ie (Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur) yang berjudul "Dahsyatnya Energi Al-Maidah 51". Pernyataan itu diluruskan asisten KHA Musta'in Syafi'ie, yakni Masrukhin.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Katanya, Kiai Musta'in tidak pernah membuat surat itu. Anehnya, surat adu domba antara ulama dengan PBNU yang dibuat atas nama Kiai Mustain itu bukan hanya sekali ini beredar di medsos. Tapi beberapa orang terprovokasi untuk yakin. Itulah adu domba.

Baca: Bongkar Hoax "Energi Al Maidah 51" yang Dibuat Atas Nama KH Mustain Syafii Jombang.

Sejatinya, perbedaan pendapat itu merupakan hal biasa yang terjadi sejak para pendahulu negeri ini. Bung Karno sudah biasa berbeda pendapat dengan Bung Hatta, namun saat Bung Hatta menikah pun, Bung Karno datang.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Sebaliknya, saat Bung Karno sakit, Bung Hatta juga menjenguk, meski dicegah sejumlah orang. Pendiri NU KH Hasyim Asy'ari juga biasa berbeda pendapat dengan tokoh NU lainnya, KH Wahab Chasbullah. Bahkan perbedaan soal beduk cukup melegenda. .

Tokoh Muhammadiyah Hamka juga biasa berbeda pendapat dengan Bung Karno. Dan, banyak lagi. Sebuah beda pendapat yang minus dosa. Baca juga: Buya Hamka Tinggalkan Qunut Untuk Keharmonisan

Baca juga: Bung Hatta Kutuk Cara Orde Baru Perlakukan Soekarno Saat Sakit.

Dulu, beda pendapat itu digunakan untuk memahami orang lain, karena beda pendapat dianggap sunnatullah dan bahkan kemajemukan juga dianggap takdir-Nya. Sekarang, beda pendapat justru digunakan untuk menyalahkan, mencurigai, mengkafirkan, membid'ahkan, membenci, dan sejenis itu.

Gawatnya lagi, beda pendapat itu kini menemukan "sarana" berbentuk media sosial yang akhirnya beda pendapat itu untuk "adu domba" seperti dialami Nusron, Kiai Mustain, Prof Syafii Maarif, Gus Mustofa Bisri, dan sebagainya. Ya, hoax tapi targetnya untuk provokasi.

Jika dicermati "proyek" adu domba dalam medsos itu agaknya ada unsur kesengajaan dan ada target tertentu, karena bahasa yang digunakan mirip, pelakunya juga sepertinya punya target orang atau lembaga yang sama, karena pihak yang menjadi sasaran "proyek" itu juga selalu itu-itu saja.

Momentum yang dipakai adalah penistaan Al-Quran (sebenarnya juga kitab suci Kristiani) yang menghasilkan dua cara penyikapan yakni cara hukum (persuasif) dan cara massa (411 dan 212). Masalahnya, cara massa menyikapi dengan menyalahkan pihak dengan cara lain yang seolah salah total. Jadi, beda itu biasa, kok diadu domba?

Boleh jadi, cara hukum (persuasif) tidak sepopuler cara massa. Tapi, keduanya sama-sama bisa untuk mendorong hasil yang sama (seperti anti penistaan Al-Quran, penetapan tersangka, membuat rakyat tidak memilih pemimpin tertentu, dan sebagainya).

Kalau hasilnya sama, kenapa bisa menyalahkan pihak lain? Apa cara massa itu tidak justru membuat orang mudah pakai massa untuk menghalalkan kepentingannya dan main klaim? Bukankah Tuhan mementingkan keihlasan, substansi, niat dan hati?

Hati-hati, ada "proyek" yang sengaja dilakukan untuk memberangus orang atau lembaga tertentu dalam waktu 10-15 tahunan. [PPQ Al-Amin Purwokerto/ emy]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ketika-perbedaan-jadi-proyek-hoax-adu-domba-di-medsos.html

Minggu, 06 Februari 2011

Asad Ali: Meski Ditekan, NU Tetap Pertahankan Pancasila

Lombok Utara, PPQ Al-Amin Purwokerto. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Asad Said Ali menyebutkan, orang NU tidak mungkin menjadi pemberontak. Meskipun pernah ditekan rezim, NU justru menjadi satu-satunya ormas yang tetap mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Asad menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara kunci pada saat pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Lanjut (PKL) di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Pandanan, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Rabu (20/5).

Asad Ali: Meski Ditekan, NU Tetap Pertahankan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Asad Ali: Meski Ditekan, NU Tetap Pertahankan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)


Asad Ali: Meski Ditekan, NU Tetap Pertahankan Pancasila

Menurut penulis buku Negara Pancasila ini, NU menjunjung tinggi kebersamaan dan lestarinya kebhinekaan di Tanah Air sebagaimana nilai yang terkandung dalam Pancasila. "Pada dasarnya kita diciptakan majemuk tidak melihat warna kulit dan tidak membeda-bedakan, tuturnya.

Seperti diketahui dalam sejarah, forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama tahun 1983 sepakat menerima Pancasila sebagai asas tunggal lantaran dinilai selaras dengan nilai-nilai Islam yang dijunjung tinggi NU. Padahal, saat itu NU sedang digembosi perannya secara politk oleh pemerintahan Orde Baru.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Pada kesempatan itu, Asad banyak mengulas gerakan radikalisme dan pentingnya penguatan Ahlusunah wal Jamaah sebagai pilar membangun negeri.

Bupati Lombok Utara H Djohan Sjamsu yang membuka acara PKL tersebut, mengatakan, radikalisme menjadi peringatan bagi kerukunan di Indonesia. Ia menilai, peran pesantren sebagai solusi.

PPQ Al-Amin Purwokerto

"Pesantren pada umumnya sangat moderat, ponpes sangat strategis dalam rangka menangkal radikalisme keagamaan. Kami sangat mendukung apa yang dilaksanakan GP Ansor. Kami mengimbau kepada para tuan guru dan ustadz untuk mengintensifkan pembinaan kepada ummat terutama para tokoh-tokoh agama," harapnya.

Kegiatan pelatihan ini akan berlangsung hingga 23 Mei 2015. Dalam acara pembukaan, hadir pula Ketua PWNU NTB TGH Ahmad Taqiudin Mansyur, Kepala Kanwil BPN NTB H Budi Suryanto, Bupati Kabupaten Lombok Utara H Djohan Sjamsu, Ketua PCNU Kabupaten Lombok Utara H Sai, H Muallif dari Kemenag Kabupaten Lombok Utara, dan sejumlah tokoh lain dari polres, DPRD KLU. (Hadi/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59687/as039ad-ali-meski-ditekan-nu-tetap-pertahankan-pancasila

PPQ Al-Amin Purwokerto

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PPQ Al-Amin Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PPQ Al-Amin Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PPQ Al-Amin Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock