Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Desember 2015

Kaji Dakwah Kontekstual, PCINU Sudan Hadirkan Ulama Mesir

Khartoum, PPQ Al-Amin Purwokerto. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan menyelenggarakan seminar nasional sebagai salah satu rangkaian acara peringatan hari lahir ke-90 NU ke-90 yang dimotori Lembaga Dakwah PCINU Sudan, Senin (22/2).

Dalam seminar yang bertema Kontekstualisasi Dakwah di Era Kebebasan Informasi dan Politik di Aula PCINU Sudan, Khartoum, Sudan, kali ini, hadir sebagai narasumber adalah Syekh Mahmud YasinAl-Azhari, salah satu ulama Mesir yang memiliki peran dakwah besar di negeri Dua Niel ini.

Kaji Dakwah Kontekstual, PCINU Sudan Hadirkan Ulama Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaji Dakwah Kontekstual, PCINU Sudan Hadirkan Ulama Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)


Kaji Dakwah Kontekstual, PCINU Sudan Hadirkan Ulama Mesir

Syekh Mahmud merupakan alumnus Universitas Al-Azhar Mesir yang memiliki majelis ilmu di Sudan. Dalam studinya di Universitas Al-Azhar ia mengambil jurusan usuluddin dan dakwah. Dan pada tingkat magister dan doktoral ia fokus studi di bidang hadist dan ilmu hadist.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Ia yang fokus studi hadits pada tingkat magister dan doktoral ini memaparkan mengenai pembaruan dalam dakwah islamiyah. Pembaruan yang dimaksud adalah pembaruan dalam masalah furu, bukan dalam masalah ushul. Menurutnya, syariat dan hukum yang sudah tetap dapat terpadu dengan kondisi umat saat ini. Sehingga umat mampu menerima penyampaian dakwah dan hukum sesuai tuntunan syariat meski dalam perubahan zaman.

Syekh Mahmud juga menegaskan pentingnya pemahaman yang mendalam bagi para dai dalam menyampaikan dakwahnya, agar materi yang disampaikan mencapai tujuan yang ditargetkan.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Seyogianya para dai lebih mendekatkan jalan dakwah untuk taqorrub ilallah, bukan hanya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan itu maka umat akan mampu menyerap hikmah ilmu yang disampaikannya tuturnya

Ia melanjutkan, bahwa seorang dai seharusnya memiliki tekat yang tinggi dalam misi dakwahnya, dibarengi dengan ilmu yang mumpuni yang didapat dari para perjuangan belajar dari para masyayikh. Pemanfaatan waktu juga menjadi hal utama dalam misi dakwah, sehingga para dai harus mampu memaksimalkan waktunya dalam belajar dan berdakwah.

Pemaparan materi dakwah ini pun berakhir pada pukul 13.20. Acara pun dilanjutkan dengansesi tanya jawab dari peserta seminar. Berkesembatan untuk bertanya kali ini Ust Taufiq dari Awan Syuriah, Muhammad Shiddiq; Wakil PPI Sudan, dan Abdul Muiz; anggota PCINU Sudan. Acara pun diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan oleh PCINU Sudan kepada pembicara DR Mahmud Yasin Al-Azhary.

Rais Syuriah H. Sidik Ismanto dalam kesempatan itu memperkenalkan dan menjelaskan peranan PCINU Sudan dan NU dalam berbagai sisi. Ia juga menyampaikan alasan pemilihan tema besar dalam seminar dakwah ini.

Tema besar dalam seminar kali ini dipilih karena pentingnya pembaharuan dalam menyampaikan dakwah kepada umat, mengingat tradisi, kebudayaan, dan zaman yang berubah, maka sistem dakwahpun harus menyesuaikan dengan polemik yang ada tuturnya.

Acara yang dimulai pukul 11.00 waktu Sudan tersebut dihadiri banyak peserta, di antaranya ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Sudan dan wakilnya, perwakilan Kekeluargaan Mahasiswa Indonesia di Sudan, perwakilan Persatuan Mahasiswa Thailand Selatan, serta mahasiswa dan mahasiswi asal Indonesia. (Muahammad Luqman Hambali/Mahbib)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65971/kaji-dakwah-kontekstual-pcinu-sudan-hadirkan-ulama-mesir

Jumat, 27 Desember 2013

Santri yang Menggendong Nabi Khidzir Itu Adalah Hasyim Asyari

PPQ Al-Amin Purwokerto - Hujan turun dengan begitu deras di Kabupaten Bangkalan saat itu, khususnya di Demangan, pondok pesantren asuhan Syaikhona Kholil al-Bangkalani. Meski hujan mengguyur dengan derasnya, ada saja orang yang bertamu kepada beliau.

Terlihat di antara rerintik hujan yang semakin deras, seorang tua lumpuh dengan susah payah hendak berkunjung menemui Syaikhona Kholil. Syaikhona segera tanggap, beliau lalu memerintahkan santrinya untuk menyusul.

“Adakah di antara kalian yang mau menggendong dan membawa tamuku di luar sana itu?”

Santri yang Menggendong Nabi Khidzir Itu Adalah Hasyim Asyari - PPQ Al-Amin Purwokerto
Santri yang Menggendong Nabi Khidzir Itu Adalah Hasyim Asyari - PPQ Al-Amin Purwokerto


Santri yang Menggendong Nabi Khidzir Itu Adalah Hasyim Asyari

PPQ Al-Amin Purwokerto

“Biar saya saja, Yai,” jawab seorang santri muda mendahului teman-temannya.

Santri muda itu bergegas meloncat menembus rerintik hujan yang semakin deras, menghampiri orang tua itu. Tanpa pikir panjang, ia menggendongnya untuk menemui Syaikhona Kholil.

Dengan sangat akrab, Syaikhona Kholil menyambut tamunya, dan di antara keduanya terjadi dialog empat mata. Tidak beberapa lama, rupanya percakapan mereka telah usai. Syaikhona Kholil mendatangi santri-santrinya untuk meminta bantuan lagi, “Siapakah di antara kalian yang mau membantu orang tua ini untuk kembali pulang?”

PPQ Al-Amin Purwokerto

“Biar saya Yai,” sahut santri yang tadi menggendong orang tua tersebut. lalu santri muda itu dengan penuh rasa takzim menggendongnya keluar pondok pesantren dengan hati-hati sesuai perintah Syaikhona Kholil.

Setelah santri dan tamu tua itu keluar dari kawasan pesantren, Syaikhona Kholil berkata kepada santri-santrinya yang lain, “Santri-santriku, saksikanlah bahwa ilmuku telah dibawa santri itu.”

Dan ternyata yang digendong oleh santri tersebut adalah Nabiyullah Khidir ‘alahis salam yang bersilaturahmi kepada Syaikhona Kholil dan santri yang menggendongnya adalah Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari muda (Pediri Nahdlatul Ulama), yang kemudian mewarisi keilmuan Syaikhona Kholil al-Bangkalani. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Keterangan: Cerita di atas disadur dari buku "Ngopi di Pesantren, Renungan dan Kisah Inspiratif Kiai dan Santri", diterbitkan oleh "TeTES Publishing", Balongjeruk, Kunjar, Kediri, Jawa Timur. Tt @zawiyyahaswaja

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/santri-yang-menggendong-nabi-khidzir-itu-adalah-hasyim-asyari.html

Jumat, 05 Juli 2013

Mantan Gubernur Jateng: Ini Waktu Tepat (Golden Time) Menunjukkan Nahdliyyin Cinta NKRI

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersalaman dengan KH Hanief Ismail Lc, Rois Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang usai mengikuti Silaturahmi Forum Mustasyar di kediaman Dr KH Muslihan Jalan Gondomono no-2 Kokrosono Semarang, belum lama ini PPQ Al-Amin Purwokerto - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang menegaskan akan terus bersinergi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melawan berkembangnya sikap dan perilaku intoleransi di masyarakat.

Apabila perilaku intoleransi dibiarkan membudaya akan membahayakan ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyarariyah. Pada akhirnya akan membahayakan persatuan dan kesatuan serta kedaulatan NKRI.

''Makanya di tahun 2017 ini kami akan memperkuat pengkaderan melalui pendidikan kader berbagai jenjang untuk mengembangkan sikap tasamuh atau toleran, menghargai perbedaan dan pluralisme dan menjadi garda terdepan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),'' tegas KH Hanief Ismail Lc, Rois Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang

Mantan Gubernur Jateng: Ini Waktu Tepat (Golden Time) Menunjukkan Nahdliyyin Cinta NKRI - PPQ Al-Amin Purwokerto
Mantan Gubernur Jateng: Ini Waktu Tepat (Golden Time) Menunjukkan Nahdliyyin Cinta NKRI - PPQ Al-Amin Purwokerto


Mantan Gubernur Jateng: Ini Waktu Tepat (Golden Time) Menunjukkan Nahdliyyin Cinta NKRI

Dia mengatakan hal itu dalam silaturahmi Forum Mustasyar di kediaman Dr KH Muslihan Jalan Gondomono no.2, Kokrosono Semarang belum lama ini.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Ketua Tanfidziyah KH Anasom M.Hum menjelaskan, Silaturahmi Mustasyar diselenggarakan untuk kali pertama dalam rangka mendengarkan masukan, saran dan kritik bagi pengurus agar dalam menjalankan roda organisasi makin terarah dan tepat sasaran.

''Kami sengaja hadirkan para sesepuh agar memberikan kritik dan masukan serta saran kepada pengurus. Dan alhamdulillah semua masukan itu sangat bermanfaat,'' kata dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo itu.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Hadir pada acara itu antara lain Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, mantan Gubernur Jateng Drs H Ali Mufiz MPA, Drs KH Ahmad Hadlor Ikhsan, pengusaha konfeksi KH Mustain, KH Samhudi dan tuan rumah Dr KH Muslihan.

Menurut Kiai Hanief Ismail, PCNU akan bicara ajaran Ahlussunnah Waljamaah yaitu perilaku tasamuh, (toleran), tawazun, dan i'tidal menjaga keseimbangan dan keadilan. ''Sungguh belakangan umat merasa risau dengan ucapan maupun sikap dan perilaku sejumlah orang yang mengabaikan toleransi (intoleran). Ini sangat berbahaya dalam rangka keutuhan NKRI. Sebab sejak awal NKRI dibangun dalam kebhinekaan dan kemajemukan,'' katanya.

Selain perilaku intoleransi yang harus dihadapi adalah faham radikal (tathorruf). Menurut Kiai Hanief, sikap radikal harus dilawan dengan ajaran Islam wasyatiyah atau moderat. ''Kita ini umat Islam yang hidup dan tumbuh di Indonesia. Jadi budaya dan adat istiadat harus dijaga dengan baik. Tidak usah memaksakan perilaku dan budaya impor untuk berkembang di Indonesia,'' tegasnya.

Golden Time

Anggota Mustasyar Drs H Ali Mufiz MPA meminta agar Nahdlatul Ulama jangan pernah berhenti menyuarakan Islam Rahmatan lil alamin. Ajaran Islam yang memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta.

''Jangan biarkan sikap intoleransi dan perilaku radikal berkembang di Indonesia khususnya di Semarang. Siapkan Ansor, Banser, Fatayat, IPNU dan IPPNU untuk berada di garis terdepan bicara soal Islam wasyathiyah atau moderat dan toleran (tasamuh). Dengan begitu otomatis mereka sudah menjaga kedaulatan NKRI,'' tegasnya.

Mantan Gubernur Jateng itu mengakui gerakan yang ingin menyeret ke arah perpecahan dan disintegrasi bangsa sangat jelas terlihat dan dirasakan baik dari arah kanan maupun kiri.

Menurut dia saat ini waktu yang paling tepat (golden time) bagi NU untuk menunjukkan kepada bangsa dan negara tentang kecintaan warga nahdliyyin kepada NKRI.

Sementara itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyampaikan terima kasih kepada para kiai dan alim ulama NU yang terus bersama-sama pemerintah membangun bangsa melalui berbagai kegiatan di masyarakat.

Dia memaparkan beberapa kegiatan besar yang akan dilakukan Pemkot Semarang yaitu Pembangunan Pasar Johar dan mengembalikan Pusat Alon-alon Kota Semarang, Kampung Bahari, Revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas, Bandara Ahmad Yani, Jalan Tol Batang-Semarang dan Semarang-Demak.

Dia meminta para alim ulama NU ikut mengawasi jalannya pemerintahan sehingga apabila terjadi kekeliruan bisa segera diatasi dengan segera tanpa menimbulkan kegaduhan seperti di daerah lain. [PPQ Al-Amin Purwokerto/ agus fathuddin yusuf]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/mantan-gubernur-jateng-ini-waktu-tepat-menunjukkan-nahdliyyin-cinta-nkri.html

Sabtu, 01 Juni 2013

Dosa-Dosa Buya Yahya

PPQ Al-Amin Purwokerto - Masyarakat muslim Cirebon terkenal sebagai warga yang secara kultural bisa hidup damai karena banyak melakukan akulturasi budaya dengan lainnya. Buktinya, hingga sekarang, yang ziarah ke makam Sunan Gunung Jati Cirebon bukan hanya muslim saja. Orang Cina, Konghuchu, Budha juga damai melakukan ritual ziarah ke sana. Jelas, Sunan Gunung Jati adalah simbol pluralisme, cerminan kultur Cirebon.

Dosa-Dosa Buya Yahya
Dosa-Dosa Buya Yahya


Hingga muncullah nama Yahya Arif Zainal, yang disiarkan oleh murid-murid atas pintanya, dipanggil Buya. Sebutan yang tidak lazim bagi seusianya. Kalangan muda NU Cirebon keberatan dengan kehadiran Yahya sejak tahun 2006. Bukan cara dakwahnya yang disoal, namun isi dakwahnya mengusik ketenangan warga, nahdliyyin khususnya.

Dia datang ke Cirebon tidak punya apa-apa. Hingga kemudian ia bertemu dengan salah satu pengurus PBNU yang kaya asal Cirebon. Ia bukan santri, namun melihat Yahya adalah santri yang dianggapnya santun, pintar, ia tertarik membantu.

Orang kaya inilah yang mengajak Yahya berkunjung ke masjid-masjid, komunitas pesantren dan lainnya hingga ia dikenalkan dengan seoarang relasi yang jadi pejabat di Pertamina Cirebon. Dari CSR Pertamina itulah Yahya membangun kekuatan. Sayangnya, Yahya menggunting jaringan langsung ke Pertamina, melupakan orang yang berjasa mengenalkannya hingga kerap menghardik NU di hadapan umum, tempat pengurus PBNU itu berkhidmah.

Di mata ulama Cirebon, ia dianggap telah merusak tatanan tradisi kiai-kiai Cirebon. Selama ini, kiai-kiai Cirebon sepakat tidak pernah mengadakan pengajian di hari Ahad. Tradisi tersebut sudah berjalan puluhan

tahun karena setiap Ahad ada pengajian di Jagastaru, Cirebon yang diasuh Habib Muhammad bin Syech bin Yahya (alm).

Guru Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan ini dianggap sesepuh, berkarakter toleran serta ditokohkan oleh para kiai di Cirebon. Kehadiran Ayib Muh, -panggilan Habib Muhammad bin Yahya-, sangat meneduhkan masyarakat lokal Cirebon.

Kiai-kiai pesantren di Cirebon, baik dari daerah Buntet, Gedongan, Ciwaringin, Ngempek, setiap hari Ahad selalu ngaji, datang langsung majelis ke Ayib Muh. Namun, tiba-tiba Yahya membuat pengajian tandingan di waktu dan hari yang sama.

Atas itu, para kiai muda mengingatkan dan mendatangi Yahya agar tidak mengadakan pengajian di hari tersebut. “Kita sama-sama dakwah, di sana ngaji, kita juga ngaji, kok ngaji saja harus diatur,” jawab Yahya congkak.

Tidak mau diingatkan, lama-lama banyak yang merasa kurang nyaman karena merekrut jama’ahya Ayib Muh. Cara yang dilakukan adalah membayari mobil-mobil rombongan ngaji dari jama’ah yang ada di desa-desa. Itu yang membuat marah kiai-kiai Cirebon pada awalnya.

Etika Yahya inilah yang dianggap para kiai-kiai di kampung tidak sesuai dengan kultur masyarakat muslim Cirebon yang dikenal menghargai dan menjunjung tinggi orang tua serta alim seperti Ayib Muh.

Yahya juga pernah dirangkul untuk masuk jadi pengurus NU struktural. Dijawab olehnya bahwa ia tidak butuh NU. “Saya muslim, silakan yang NU ya NU, saya ya saya, tapi saya Aswaja, sunni namun tidak berorganisasi,” jawabnya.

Bukan hanya oleh pengurus NU ia didatangi dan dirangkul. Menantu Ayib Muh bernama Habib Miqdad Baharun dan Quraish Baharun pun datang ikut menawari masuk jamiyyah NU, namun Yahya tetap menolak. Dalam tradisi santri, hal itu dianggap su’ul adab (tidak berkahlaq), apalagi dia seperti menantang.

Yahya kian gemar menghina NU sejak isu syiah dimunculkan kembali, utamanya disasarkan kepada Kiai Said, ketua PBNU sekarang.

Kejadian itu dimulai sejak keluarga besar NU (KBNU) yang terdiri atas unsur-unsur organisasi semacam IPNU, PMII, Ansor, Fatayat, Muslimat dan lainnya mengadakan peringatan 10 Muharram pada 2008. Di situlah Yahya mulai menyerang Kiai Said karena menghadiri acara yang disebut bermisi syiah tersebut.

Panitia sempat berpindah tempat dari rencana awal di Masjid Agung At-Taqwa Cirebon karena ditolak oleh kelompok Yahya. Mereka menyebut agenda acara itu bagian dari gerakan syiah. Karena tidak ingin terjadi konflik, lokasi kegiatan dipindah ke dalam Keraton.

Pasca kejadian itu, Yahya mulai berani menyerang dengan melontarkan tuduhan tak berdasar kepada publik bahwa NU itu organisasi Syiah. Pada titik ini, anak-anak muda NU di KBNU mulai sangat keberatan dengan kehadiran Yahya. Ia dengan mudah menyerang Kiai Said yang saat ini jadi simbol NU.

Yang kemudian membuat kemarahan anak muda NU itu bertambah adalah munculnya NU Garis Lurus, dimana ada nama Yahya bersedia diangkat sebagai Dewan Syuriah NUGL dengan Luthfi Bashori sebagai Imam Besar nya. Ditawari masuk NU menantang, tapi justru masuk ke barisan sakit hati semacam NUGL.

Celakanya lagi, saat NU sedang membangun dan mensosialisasikan pola ukhuwwah basyariyah dan ukhuwwah islamiyah lewat gerakan Islam Nusantara, Yahya semakin ringan menghina NU dengan menyebut bahwa Islam Nusantara itu seperti babi yang dikemas dalam bentuk kambing. Seorang alim, tapi bicaranya seperti anjing.

Gerakan Yahya ini cukup sistemik. Melalui kendaraan Al-Bahjah, Yahya tidak hanya melakukan gerakan di Cirebon saja, tapi di daerah lain. Ia tidak memusuhi NU secara frontal tapi gerakannya merusak tatanan dan tradisi muslimin di Indonesia. Khususnya NU dan adab santri. Dukungannya atas isu syiah-sunni saja sudah bisa dibaca arah gerakannya ada kaitan dengan Arab.

Sangat mudah jika menyebut Yahya punya jaringan Arab sekaligus misinya mengingat ia lulusan Universitas al-Ahqaf, Yaman Selatan, yang dikenal sebagai titik tumbuhnya Islam non wahabi garis keras dan radikal.

Atas ulahnya itu, Yahya pernah dipanggil 30-an kiai, namun tidak pernah direspon. Tercatat, agenda pemanggilan untuk klarifikasi pernah direncanakan dua kali oleh para kiai. Sebelumnya, sudah puluhan kiai

mendatangi. Hasilnya nihil.

Walau belum pernah menegur secara langsung, anak-anak muda NU di sana sudah puluhan kali mengundang Yahya dalam acara, namun tidak penah satu kali pun hadir. Gemesnya, dia justru sangat bangga diundang kelompok NUGL. Walau tidak pernah melakukan kekerasan fisik, tapi Gusti Allah ora sare.

Semoga setelah kecelakaan, dia sadar atas dosa-dosanya kepada kiai-kiai Cirebon yang cinta Ayib Muh. Penghinaan kepada NU dan Kiai Said juga diharapkan tidak dilanjutkan dalam acaranya yang disebut “ngaji” itu, serta tidak mudah melontarkan caci-maki karena benci.

Sepintar apapun santri, jika tidak tidak menggunakan adab sebagai baju, ia tidak lebih seperti dzubab (lalat). Ya Jabbar ya Qahhar! Menghina NU dan Kiai, fantadziris saa’ah. [PPQ Al-Amin Purwokerto/ luqman segaff]

Sumber: Transkip rekaman keterangan Anak Muda NU Cirebon.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/dosa-dosa-buya-yahya.html

Kamis, 04 Oktober 2012

5 Santri yang Studi ke Negeri Kincir Belanda

PPQ Al-Amin Purwokerto - Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan asli indonesia, telah berhasil menunjukkan posisi strategisnya dalam mencetak insan akademis yang heterogen. Dalam hal ini pesantren bukan lagi hanya mencetak agamawan yang mantap, namun juga ilmuwan-ilmuwan hebat dalam bidang keilmuan lainnya.

Transformasi pendidikan pesantren, dari murni salaf menjadi modern atau semi modern, memberikan kesempatan para santri untuk turut serta berkompetisi dalam banyak kajian-kajian keilmuan di luar keilmuan Islam.

5 Santri yang Studi ke Negeri Kincir Belanda - PPQ Al-Amin Purwokerto
5 Santri yang Studi ke Negeri Kincir Belanda - PPQ Al-Amin Purwokerto


5 Santri yang Studi ke Negeri Kincir Belanda

Sebagaimana yang dikatakan Dr. Mastuki, penulis buku "Kebangkitan Santri Cendikia", bahwa era kebangkitan santri cendikia dapat diukur berdasarkan pada persebaran santri di perguruan tinggi. Saat ini adalah era di mana santri, sebagai representasi muslim-terdidik, bangkit meraih kejayaan.

Dalam tulisan berseri ini kami ingin mengenalkan para santri cendikia baru yang saat ini masih aktif belajar di beberapa perguruan tinggi di eropa. Kita awali dari negeri kincir angin, Belanda.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Dito Alif Pratama. Pemuda asal Jakarta, yang menempuh pendidikan menengahnya di pondok pesantren Assalam Sukabumi. Sewaktu menempuh strata satu, ia memilih ilmu falak sebagai jurusannya. Kini, ia belajar di jurusan Peace, Trauma and Religion di Vrije Universiteit, Amsterdam.

Santri lain yang kebetulan ada di jurusan yang sama adalah M. Saiful Mujab. Ia merupakan alumnus PP Annur 2 Al Murtadlo, Malang, sebelum ia menyelesaikan studi strata satunya pada jurusan Tafsir Hadits.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Masih di seputaran VU, Amsterdam. Salah seorang santri Pondok Al-Itqon Bugen Semarang dan Pondok al-Bahroniyyah di pelosok Ngemplak, Mranggen, Demak, Nur Ahmad, sedang menyelesaikan magister sejarah di sana. Kebetulan ketiga mahasiswa yang disebutkan ini merupakan alumni dari UIN Walisongo, Semarang.

Dari Amsterdam, kita jalan-jalan ke Belanda bagian selatan, Maastricht. Dua santri: M. Syifaul Muntafi (asal Nganjuk, Jawa Timur) dan Sabiqotul Husna, asal Jogja, sedang melanjutkan studinya di Maastricht University, jurusan Psikologi.

Syifaul yang pernah nyantri di PP Al Falah ini mengambil konsentrasi Health and Social Psychology setelah ia merampungkan studi S1-nya di UIN Malang. Berbeda dengan Syifaul, Sabiq, yang pernah mondok di PP Almunawir Krapyak, Jogja ini, memilih menekuni Neuropsychology di Maastricht University setelah sebelumnya ia menyelesaikan sarjana psikologinya di UIN Sunan Kalijaga, Yogayakarta.

Kelima santri tersebut berkesempatan melanjutkan studi masternya di Belanda dengan beasiswa dari MoRA RI.

Santri lain yang tercatat sedang menempuh studi di negara kincir angin adalah Ardhy Dinata Sitepu. Setelah menyelesaikan program sarjana di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Hubungan Internasional sembari nyantri di Ma'had 'Aly UIN Syahid, pemuda asal Medan ini berkesempatan mencicipi studi luar negeri berbekal beasiswa dari Stuned. Ardhy kini tercatat sebagai mahasiswa ISS Erasmus university Rotterdam, jurusan economic development.

Demikian profil singkat para santri cendikia yang sedang berjuang di Belanda. Kita doakan semoga mereka sukses dalam studinya dan segera pulang untuk kembali mengabdi pada tanah air. Bagaimana dengan negara lain? Tunggu tulisan selanjutnya ya! [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/5-santri-yang-studi-ke-negeri-kincir-belanda.html

Rabu, 02 Mei 2012

Antara Tarekat Bela Negara dan HTI Munafik

PPQ Al-Amin Purwokerto - Jam’iyah Ahlith Thoriqah al-Muktabarah al-Nahdliyah (Jatman) dan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) adalah Badan Otonom (Banom) di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Kedua Banom NU ini dalam strukturnya ada lagi Badan Semi Otonom (Dansem) sebagai perangkat organisasi penggerak secara teknis.

Dansem Jatman, adalah Mahasiswa Ahlit Tarekat al-Muktabarah al-Nahdliyah (Matan), organisasi tarekat kepemudaan, mahasiswa S1, S2, S3 dan alumni yang diamanatkan untuk mengkader generasi muda yang bertarekat, melakukan kajian-kajian fokus pada penguatan spiritual.

Antara Tarekat Bela Negara dan HTI Munafik - PPQ Al-Amin Purwokerto
Antara Tarekat Bela Negara dan HTI Munafik - PPQ Al-Amin Purwokerto


Antara Tarekat Bela Negara dan HTI Munafik

Dansem GP Ansor, adalah Barisan Serbaguna (Banser), organiasi kepemudaan yang diamanatkan untuk fokus mengkader pemuda dalam rangka bela negara, mengawal ulama NU dan siap siaga melakukan pengamanan untuk kegiatan keagamaan, melakukan berbagai program ketahanan fisik dan mental yang tangguh.

Jatman telah menggelar hajatan akbar bela negara pada Senin-jumat (25-29/7) mengadakan Konferensi Bela Negara Ulama Tarekat se-Dunia di Convention Hall Hotel Santika dan di Aula Kanzus Shalawat Pekalongan Jawa Tengah. Sementara, pada Sabtu-Ahad (30-31/7) Banser mengadakan Apel Akbar Kesetiaan Pancasila dalam rangka bela Negara-NKRI di Kota Sengkang Wajo Sulawesi Selatan.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Konferensi Jatman dihadiri 26 ulama tarekat (mursyid/masyayikh) luar negeri dari berbagai negara dan puluhan ribu peserta dari dalam negeri termasuk TNI, Polri dan utusan Banser. Khusus kafilah ulama tarekat Sulawesi Selatan yang hadir sebanyak 25 orang dan saya salah satu seorang peserta di antaranya. Kafilah ini dipimpin oleh Habib A. Rahim Assegaf Puang Makka sebagaimana yang dirilis Tribun Timur.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Rais ‘Am Jatman, Maulana Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya sebagai keynote speaker pada konferensi tersebut menegaskan bahwa implementasi bela negara adalah menekan paham/aliran radikal yang secara massip dan aktif berusaha menegakkan khilafah. Munculnya geng radikal ekstrim dari segelintir umat Islam kenyataannya telah menebarkan propaganda dan kekerasan yang ujung-ujungnya dapat meronrong NKRI, sehingga perlu bagi ulama tarekat berada pada garis terdepan untuk bela Negara.

Ulama sebelum kemerdekaan telah berjihad dan berjuang maksimal untuk kemerdekaan bangsa ini, mereka menggunakan peralatan seadanya seperti bambu runcing melawan penjajah, namun yang lebih dahsyat adalah doa mereka.

Relahkah kita mengkhiati hasil jerih payah para ulama terdahulu dan tidak bisa dipungkiri bahwa leluhur kita pun ikut berjuang saat itu. Relahkah kita mengkhianti mereka sementara dipahami bersama bahwa pengkhiatan adalah dosa besar.

Sekarang kita telah merdeka dan menikmati hasil perjuangan mereka. Kita lahir dan hidup di negeri ini, kita belajar dan menuntut ilmu pertama kali di negeri ini, kita beribadah di negeri ini. Untuk itu membela tanah air merupukan kewajiban.

Jika ulama dan leluhur kita pada zamannya berjuang dengan bambu runcing, maka perjuangan sekarang bagi kita ulama tarekat sesuai proporsinya adalah lebih mengoptimalkan doa sebagai senjata yang ampuh untuk mempertahankan NKRI. Kita harus berusaha dan kontinyu berdoa agar negara ini tidak hancur, tercabik-cabik, terpecah berkeping-keping. Doa ulama tarekat diyakini maqbul dan diijabah, diterima, ampuh dan dapat menembus Arasy-Nya.

Seperti halnya ulama tarekat, Banser sesuai dengan proporsi dan bidangnya, jauh sebelum kemerdekan telah berjuang melawan penjajah dan bahkan Banser menjadi garda terdepan menumpas PKI pasca kemerdekaan, sehingga NKRI menjadi harga mati bagi Banser yang tidak bisa ditawar-tawar. Banser berani mati berjuang bela negara untuk mempertahankan NKRI.

Bela Negara bagi Banser merupakan kegiatan rutin.

Apel Banser di Sengkang yang dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat, Gus Yaqut dan ribuan personil anggota Banser se-Sulawesi Selatan sebagai momen ikrar untuk lebih mengukuhkan kesetiaan terhadap Pancasila dan NKRI.

Kota Sengkang sebagai pusat Apel Akbar Banser untuk bela negara, sengaja dipilih karena sebagai ikon kota santri, ulama-ulama NU banyak dicetak dari kota ini, mereka alumnus Pesantren As’adiyah Sengkang.

Sebagaimana konferensi Jatman di Pekalongan, Banser juga dalam rangkaian Apel Akbarnya, mengadakan zikir dan shalawatan di wisata Atakkae Sengkang. Hajatan ini, tiada lain sebagai bagian integral dari bela Negara.

Beda dengan ormas lain radikal, bukannya berjuang bela negara tetapi justru membelok dari perjuangan Jatman dan Banser untuk keutuhan NKRI. Mereka membelok karena tidak pernah merasakan pahit getirnya berjihad melawan penjajah yang belakangan baru muncul dengan idenya memperjuangkan khilafah.

Ormas radikal ini membelok dari prinsip hubbul wathan minal iman (cinta terhadap negara/NKRI bagian dari iman).

Bagi yang membelok dari prinsip tersebut, tentu HTI (harus tobat dan insaf) karena tergolong sebagai pengkhianat bangsa, maka HTI (hati-hatilah) karena khianat itu sendiri salah satu ciri kemunafikan. Orang yang munafik ditinjau dari asal kata nafaqa yang berarti dua lubang bagai lubang tikus, bagian atas (luar) dari liang tikus tertutup tanah sedangkan bagian bawahnya berlubang.

Demikianlah sifat kemunafikan yang bagian luarnya adalah Islam tetapi bagian dalamnya merupakan keingkaran serta penipuan. Secara tersurat mereka mengatakan beriman, tetapi secara tersirat ia tidak beriman sebagaimana ditegaskan dalam QS.al-Ma’idah/5: 41. Wallahul Muwaffiq Ila aqwamit Thariq [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Mahmud Suyuti, ketua Matan Sulsel, sekjend Jam’iyah Khalwatiyah dan Sekretaris Dewan Penasehat GP Ansor Sulsel

Keterangan: esai ini sudah pernah dimuat di Tribun Timur Makassar, Jumat (05/08/2016)

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/antara-tarekat-bela-negara-dan-hti-munafik.html

Minggu, 27 November 2011

Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Jafar

PPQ Al-Amin Purwokerto - Seiring bom tak jauh dari masjid Nabawi beserta pemberitaannya, ada tulisan yang menyangkal informasi umum yang beredar. Narasumbernya orang bernama Fathuddin Ja'far, yang saat kejadian mengatakan berada di dlm Masjid Nabawi. Kesaksian ini dimuat di sejumlah media, beredar di socmed, grup WA dan seterusnya, yang intinya berita bom Madinah tak sesuai fakta, berlebihan dan merupakan sebuah konspirasi untuk menyudutkan Islam.

Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Jafar
Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Jafar


Menurut Ja'far, ia tidak mendengar ledakan, hanya melihat kepulan asap. "Kami hanya melihat kepulan asap seperti ada kebakaran di seberang Baki', makam para sahabat Rasulullah."

Di dalam masjid juga tak seorang pun yang membicarakan soal bom. Suasana di dalam masjid dan luar masjid juga seperti biasa, tak ada yang berubah dari malam-malam sebelumnya.

Dengan instingnya Ja'far merasa ada yang tidak benar dengan berita yang beredar. Ia merasa bahwa yang terjadi hanyalah konspirasi. "Naluri media dan konspirasi saya muncul," tulisnya.

Dan ia makin meyakini saat melihat televisi dan internet, di mana berita pemboman sudah menyebar luas. Ia memutar Al-Arabiya, televisi yang ia sebut milik Yahudi, dan ia menganggap beritanya terlalu dibesar-besarkan. Ia juga menganggap running-text Al-Arabiya sangat provokatif.

Ia pun mengecam Al-Arabiya, menyebut bahwa semua adalah kebohongan kaum kafir yang ingin menjatuhkan Islam. "Saya semakin yakin bahwa umat Islam sekarang sedang menghadapi fitnah dan konspirasi dari segala arah yang sangat luar biasa dari musuh-musuh Allah," tulisnya yang muncul di sejumlah media yang tidak begitu jelas kedudukannya.

Membaca tulisan Fathuddin Ja’far saya hanya melihat orang yang di kepalanya memang sudah diinapi pikiran bahwa Islam sedang diserang, bahwa selama ini ada konspirasi untuk menjatuhkan Islam oleh kaum kafir. Aku tidak tahu Islam yang mana yang dimaksud Ja’far, karena sebagai orang Islam aku tidak merasa. Lalu kafir yang mana juga tak jelas, apakah kafir Amerika, kafir Yahudi atau kafir dari planet Mars.

Kesaksian Ja’far, yang di-share banyak orang, tak menggugurkan berita yang ia bantah. Tak ada poin di berita yang beredar yang bisa ia tunjukkan kebohongannya. Tapi di ujung tulisan ia menyimpulkan bahwa semua adalah kebohongan.

Ja’far tampak sudah apriori dengan media dan apa pun yang diberitakan olehnya. Ia juga tendensius dan terlihat kurang wawasan ketika menyebut “Al-Rabiya” sebagai TV Yahudi, karena jika yang ia maksud adalah Al-Arabiya, televisi ini tak lain dimiliki oleh keluarga Kerajaan Arab Saudi. Entah dari mana Ja’far punya informasi bahwa Al-Arabiya milik Yahudi–dari sebuah sumber atau imajinasinya semata, kita tidak tahu. Mungkin dari intelijen atau alien galaksi Andromeda.

Dalam tulisannya Ja'far menyebut bahwa ledakan terjadi jauh dr Masjid Nabawi. "Kepulan asap di seberang Baki, makam sahabat-sahabat Rasullullah," jelasnya.

Jauh-dekat relatif. Berdasar standar keamanan ledakan di radius 3 km dari obyek atau lokasi vital bisa dikatakan dekat dan sudah berkategori sangat mengancam dan membahayakan. Apalagi berdasar penjelasan dari pejabat KJRI Saudi, Fadhly Achmad Hamid, lokasi ledakan hanya berjarak 500 meter dari masjid Nabawi, tepatnya di area parkir keamanan, bagian belakang masjid Nabawi. Aku tidak tahu apakah Ja’far mengecek area ini.

Justru sangat aneh jika Ja’far menganggap ledakan di tempat yang asapnya bisa disaksikan jelas dari Masjid Nabawi disebut jauh dan tak membahayakan. Bahwa Ja’far tidak mendengar ledakan dan jamaah di Masjid Nabawi masih anteng tarawih karena memang tak menyadarinya dan itu menunjukkan manajemen keamanan cukup bagus. Karena jika langsung dikabarkan kepada jamaah bahwa ada bom meledak di luar kawasan masjid, kepanikan dan kekacauan bisa terjadi–dan mungkin justru menimbulkan korban.

Persoalan bahwa Ja’far tidak mendengar ledakan tidak lantas ledakan tidak ada. Apa yang tidak kita ketahui tidak lantas tidak terjadi. Karena ada situasi-situasi yang membuat kita sering tidak mengetahui peristiwa yang terjadi tak jauh dari posisi kita. Orang yang berada di sekitar kejadian sebuah peristiwa tidak selalu mengetahui dan menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Jurnalis yang baru datang justru sering lebih tahu, karena ia mewawancarai banyak saksi mata dan mengecek tempat kejadian perkara.

Orang-orang yang ada di dalam Sarinah Thamrin saat terjadi bom di luarnya banyak yang tak tahu apa yang terjadi. Beberapa juga tak mendengar bom. Saya yang berkantor tak sampai 2 km dari lokasi bom Thamrin saat itu juga tak mendengar suara, meski beberapa orang di kawasan kantor saya bilang mendengar. Itu soal telinga, atau fokus dan konsentrasi yang berbeda.

Tapi pihak keamanan Arab Saudi sudah jelas mengonfirmasi ledakan itu, yang menewaskan 2 orang dan melukai 4 orang. Foto korban juga sudah dirilis media. Bukan hanya Al-Arabiya, tapi Al-Jazeera dan media-media Islam lain juga memberitakannya, selain ratusan media internasional. Media tak mungkin mengarang untuk informasi ini. Jadi aku tidak tahu dmn kebohongan media yang dibilang oleh Fathuddin Ja’far, dan lebih tidak tahu lagi media kafir mana yang berbohong.

Saya mengecek video Al-Arabiya di webnya dan Al-Arabiya tidak memberitakan bahwa ledakan terjadi di gerbang Masjid Nabawi. Lalu apa lantas itu tidak berbahaya dan tidak layak diberitakan besar-besaran oleh media? Jika kamu berpikir berpikir begitu maka kamu tidak tahu media, tidak tahu betapa pentingnya Madinah–apalagi masjid Nabawi. Jangankan bom, ada satu orang mati ditusuk di kawasan Masjid Nabawi bisa jadi berita besar. Karena Madinah dan Masjid Nabawi punya arti penting buat umat Islam.

Membaca tulisan Fathuddin Ja'far, aku tidak tahu media kafir mana yang ia tunjuk, karena Al-Arabiya dan Al-Jazeera yang memberitakan paling awal kejadian Madinah adalah milik negara Islam, yang wartawannya jg sebagian besar muslim. Atau Ja'far menganggap Al-Arabiya dan Al-Jazeera juga media kafir? Lalu yang bukan kafir yang mana? Mbuhlah....

Jika kamu punya dugaan simpanlah dugaanmu untuk dirimu sendiri sebelum menemukan bukti. Jika kamu meyakini adanya konspirasi telitilah dulu sebelum menuduh sana-sini. Bukan cuma keluar masjid, balik hotel ngecek internet dan nonton TV lalu berteriak ada konspirasi.

Maaf, tentu aku lebih percaya wartawan yang memang dididik untuk mengecek dan meliput peristiwa ketimbang orang yang ada di kawasan kejadian perkara tapi ke TKP pun tidak. Tak ada keterangan apakah Fathuddin Ja'far mengecek TKP, melihat korban atau benda yang terbakar akibat ledakan. [PPQ Al-Amin Purwokerto PPQ Al-Amin Purwokerto]

Oleh Savic Ali

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/bom-madinah-konspirasi-kafir-menjawab-analisa-konyol-fathuddin-jafar.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PPQ Al-Amin Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PPQ Al-Amin Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PPQ Al-Amin Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock