Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2016

Kehadiran KH Maruf di Pengadilan, Paksaan Kelompok Cingkrang Untuk Sulut Nahdliyyin

PPQ Al-Amin Purwokerto - Saya baru sadar mengapa KH. Ma’ruf Amin dijadikan sebagai saksi di akhir-akhir laga. Bukan kesaksiannya yang penting. Tapi, reaksi Ahok dan Kuasa Hukumnya atas kesaksiannya yang penting. Aktor di balik layar kasus Ahok ini tahu bahwa Kuasa Hukum Ahok bukan orang sembarangan. Mereka terpanggil untuk membela Ahok bukan karena materi tapi karena kebenaran. Lewat substansi kesaksian akan mustahil memberatkan Ahok.

Kehadiran KH Maruf di Pengadilan, Paksaan Kelompok Cingkrang Untuk Sulut Nahdliyyin
Kehadiran KH Maruf di Pengadilan, Paksaan Kelompok Cingkrang Untuk Sulut Nahdliyyin


Terbukti dari sidang-sidang sebelumnya. Secara substansi, tidak ada kesaksian dari para saksi pelapor yang beres. Kesaksian mereka justru memberikan panggung untuk Ahok mengungkap segala macam kebohongan kasusnya. Hasilnya, beberapa saksi dilaporkan karena memberikan kesaksian palsu.

Melihat rentetan kegagalan ini, perlu dilakukan terobosan baru. Nggak apa-apa kalah secara substansi, tapi dari kesaksian tersebut bisa menimbulkan semacam kegaduhan. Lalu, dipasanglah KH. Ma’ruf Amin yang merupakan Ketua Umum MUI sekaligus Rais Aam PBNU. Kiai Ma’ruf punya dua jabatan penting yang bisa menyulut emosi umat Islam.

Perlu dipertanyakan, mengapa harus Kiai Ma’ruf? Beliau sudah sepuh. Akan terlalu menguras tenaga jika mengikuti sidang berjam-jam lamanya. Itulah mengapa, pihak MUI protes terhadap Ahok dan pengacaranya, terkait lamanya pertanyaan atas Kiai Ma’ruf. Seakan-akan, Ahok dan kuasa hukumnya salah jika melemparkan banyak pertanyaan ke beliau.

Dalam pengadilan, itu sah-sah saja. Justru, kalau mau protes, ya protes ke Jaksa Penuntut Umum, kan mereka yang undang. Seharusnya, pihak MUI kan sudah tahu kalau proses sidang memang lama dan siap-siap dikuliti dari A sampai Z. Untuk itu, mengapa tidak mencari penggantinya saja? Dalam Pasal 170 KUHAP sebenarnya, Kiai Ma’ruf bisa menolak menjadi saksi, tapi siapa yang memaksa beliau?

MUI dan yang kaum sedasteran garis cingkrang mulai menyerang Ahok dan para pendukungnya lewat ini. Serangan ini bukan untuk mempengaruhi sidang dan keputusan hakim. Tapi serangan ini dilancarkan untuk menyulut emosi umat. Terutama mereka yang bersumbu pendek.

Mereka bermain playing victim bahwa ulama sedang dihinakan. Ahok dan pengacaranya dianggap sangat kasar, sarkastik, melecehkan dan menghina marwah Kiai Ma’ruf. Tidak hanya itu, pengacara Ahok dinilai sangat tendensius bertanya, apalagi seputar masa lalu Kiai Ma’ruf saat menjadi Wantimpres era SBY. Padahal, apa salahnya bertanya seperti itu? Itu kan untuk menilai seberapa obyektif kesaksiannya.

Dan yang lebih keterlaluan lagi adalah mereka bawa-bawa NU. Memang, Kiai Ma’ruf adalah Rais Aam NU, tapi ia bersaksi sebagai Ketua Umum MUI. Tapi, yang namanya sumbu pendek, akan menghalalkan segala cara untuk membenturkan pihak lain untuk turut berperang lawan Ahok. Inilah yang diinginkan oleh sang desainer.

Kalau kita perhatikan jalannya sidang. Banyak sekali kejanggalan dari apa yang disampaikan Kiai Ma’ruf. Mulai dari ia tak melihat langsung videonya. Lalu, ia mengatakan, MUI telah menurunkan tim investigasi ke Kepulauan Seribu pada tanggal 1-5 Oktober, padahal Buni Yani baru mengunggah video editannya tanggal 6 Oktober. Belum lagi, MUI Pusat yang langsung mengeluarkan sikap keagamaan tanpa bertabayyun ke Ahok. Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan lainnya.

Secara substansi, kesaksian Kiai Ma’ruf sangat lemah dan sulit untuk memberatkan Ahok. Tapi, bukan itu yang sang desainer inginkan. Sebab, belajar dari sidang-sidang sebelumnya, mereka sudah tahu bahwa tidak akan mampu memberatkan Ahok. Jadi, alternatif lainnya adalah buat lagi kegaduhan.

Apalagi, para aktor, para punggawa serta bidak-bidaknya sedang terlibat berbagai macam kasus. Mereka butuh kegaduhan agar bisa menekan aparat penegak hukum, atau sekedar mengalihkan perhatian. Dan semua harapan itu, mereka letakkan di pundak Kiai Ma’ruf.

Kita lihat sepertinya berhasil. Kaum sumbu pendek garis cingkrang sudah mulai meramaikan jagat media sosial dengan menyebar provokasi bahwa ulama kita sedang dilecehkan. Ulama kita sedang dihinakan. Ini menjadi celah bagi para aktor untuk terus menyulut emosi umat.

Persetan dengan substansi sidang. Apalagi, Aa Gym juga sudah angkat bicara lewat akun twitternya. Ia menulis: “Demi Alloh, tak rela KH. Ma’ruf Amin, guru/orang tua/ulama kami, pimpinan MUI yang amat kami hormati cintai, direndahkan dan diancam siapapun”.

Padahal, setelah ceramah di Pulau Pramuka, Aa sudah tidak tampak lagi di media. Saat para sahabatnya sesama alumnus 212 mulai diciduk polisi, Aa tidak pernah berkomentar bahkan muncul di media untuk, minimal, menyatakan rasa prihatinnya. Tentu, dalam posisi seperti itu, nggak ada untungnya buat Aa.

Dan klimaksnya terjadi saat ada pemberitaan di media bahwa Ahok dan kuasa hukumnya akan melaporkan Kiai Ma’ruf. Isu penghinaan ulama pun digoreng kembali sambil ditumis dengan ditambah mecin dalam jumlah besar. Sebab, mecin sangat baik untuk menghambat kinerja nalar.

Tidak berhenti di situ, mereka pun membenturkan Ahok dengan NU. Banyak tokoh-tokoh muda NU seperti Yenny Wahid dan Akhmad Sahal yang memberikan anjuran agar Ahok tidak melaporkan Kiai Ma’ruf. Ini untuk menjaga marwah NU dan Kiai Ma’ruf. Padahal, sebelum ini Ahok dan NU tidak pernah ada masalah. Bahkan, Ahok sangat dekat dengan Gus Dur.

Pihak-pihak makar juga para penggagas GNPF sedang kegirangan. Kisruh antara Ahok dan MUI yang digoreng sedemikian rupa menjadi “upaya melecehkan ulama” lalu ditumis lagi menjadi “Ahok versus NU”, semua itu bagai hujan deras dari langit di tengah kemarau panjang yang tak berkesudahan.

SBY tentu senang, elektabilitas Ahok bakal terjun bebas lagi. Kasus Sylvi pun akan dipending dulu. Juga, kasus Antasari. Polisi bakal disibukkan lagi oleh demo bela ulama. Begitu pula dengan Rizieq. Ia akan mendapatkan panggung untuk bisa berteriak “kriminalisasi ulama” lebih keras lagi. Munarman, Novel dan Muchsin, mereka akan bersama-sama Rizieq menggemboskan isu “kriminalisasi ulama”.

Negara akan menjadi kacau. Kegaduhan akan terjadi dimana-mana. Dalam kondisi seperti itu, makar jilid dua berpeluang untuk dilakukan. Tentakel-tentakel yang selama ini bersembunyi dalam kesunyian akan muncul ke permukaan dan melakukan manuver-manuver untuk membangkitkan lagi sebuah dinasti dalam demokrasi negeri ini.

Sayang sungguh sayang. Pernyataan Kuasa Hukum Ahok hari ini menuntaskan kegembiraan mereka. Ahok dan kuasa hukumnya tidak terpancing. Malah mereka memberikan klarifikasi bahwa pemberitaan di media yang menyebutkan Ahok akan melaporkan Kiai Ma’ruf, itu keliru.

Menurut kuasa hukum Ahok, apa yang Ahok katakan di persidangan, yang akan memproses secara hukum saksi, itu tidak tertuju kepada Kiai Ma’ruf. Yang dimaksud itu adalah saksi-saksi pelapor, bukan saksi ahli. Oleh karenanya, tidak benar pemberitaan yang menyebutkan Ahok akan melaporkan Kiai Ma’ruf.

Kuasa hukum Ahok sudah tahu bahwa ada pihak-pihak yang sedang memancing di air keruh. Mereka memanfaatkan celah-celah kecil dalam sidang. Padahal, dalam sidang, tentu bakal terjadi kontra argumen. Tapi, dalam situasi seperti ini, hal yang wajar pun bisa digoreng untuk menaikkan isu “penghinaan ulama”. Sayangnya, Ahok dan kuasa hukumnya telah memberikan klarifikasi yang membuat NU akan menyudahi kekisruhan yang sempat terjadi.

Ahok tetap di atas angin. Sang mantan hanya bisa pasrah menerima keadaan. Gagal maning. Gagal maning. Ra(i)sa-ra(i)sanya begitulah. Dawuh ulama kita, guru kita dan panutan kita. Sami'na wa atha'na. Semoga Gus Mus dan semua kiai sepuh NU dan habaibnya dianugerahi umur yang panjang, sehat wal afiyat. Amin. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/kehadiran-kh-maruf-di-pengadilan-paksaan-kelompok-cingkrang-untuk-sulut-nahdliyyin.html

Kamis, 05 Mei 2016

Kapolri Tito Karnavian: Islam Nusantara Bisa Mencegah Radikalisasi Kelompok Teroris

PPQ Al-Amin Purwokerto - Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mengatakan, upaya penanggulangan terorisme tidak akan berhasil jika hanya dilakukan melalui ranah penegakan hukum.

Kapolri Tito Karnavian: Islam Nusantara Bisa Mencegah Radikalisasi Kelompok Teroris
Kapolri Tito Karnavian: Islam Nusantara Bisa Mencegah Radikalisasi Kelompok Teroris


Menurut Tito, saat ini diperlukan adanya ideologi tandingan yang bersifat moderat untuk meredam maraknya penyebaran pemahaman radikalisme di masyarakat.

"Terorisme tidak bisa ditangkal hanya dengan menangkap dan menembak pelaku. Counter ideologi dilakukan dengan memoderasi narasi radikal mereka," ujar Tito dalam acara diskusi 'Simposium Deradikalisasi' di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (19/1/2017).

Tito menuturkan, peran para ahli agama sangat diperlukan untuk membantu pemerintah memberantas terorisme. Pasalnya, penyebaran paham radilkal kerap dilakukan oleh kelompok teroris melalui narasi ideologi dengan mengutip ayat-ayat kitab suci yang multitafsir.

Dia mencontohkan konsep Islam Nusantara di kalangan Nahdlatul Ulama merupakan salah satu contoh ideologi tandingan. Jika dilakukan secara intensif, kata Tito, maka konsep Islam Nusantara mencegah upaya radikalisasi kelompok teroris.

"Bisa juga dengan penyebaran ideologi tandingan contoh Islam Nusantara. Ini yang harus intens karena Islam Nusantara itu kan moderat dan berlandaskan kearifan lokal," tutur Tito.

Namun, Tito menyayangkan penyebaran ideologi tandingan tersebut terkendala dengan adanya fenomena silent majority. Meski kelompok moderat jumlahnya banyak, tetapi mereka cenderung diam ketika menemukan paham radikalisme menyebar di masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan, program deradikalisasi yang penting dilakukan adalah kontra wacana. Cara tersebut pernah dilakukan oleh pemerintah Spanyol untuk meredam kelompok radikal yang menggunakan ayat-ayat kitab suci.

"Ini sama seperti di Indonesia. Wacana yang diturunkan membutuhkan interpretasi dan monolitik. Tapi di sini tidak ada yang melawan. Maka NU dan Muhammdiyah yang paling berpotensi karena umatnya banyak," ujar dia. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kapolri-tito-karnavian-islam-nusantara-bisa-mencegah-radikalisasi-kelompok-teroris.html

Rabu, 14 Mei 2014

Beri Motivasi, GP Ansor Sumenep Buka Puasa Bersama Napi

Sumenep, PPQ Al-Amin Purwokerto. Sebagai wujud kepedulian, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sumenep menggelar acara buka puasa bersama narapidana di masjid rumah tahanan Kelas IIB, Jalan KH Mansur, Sumenep, Jawa Timur.

Ini merupakan wujud kometmen sosial Ansor untuk menata kehidupan masa depan (narapidana) yang lebih baik, kata Ketua PC GP Ansor Sumenep M Muhri saat memberikan sambutan di samping Kepala Rutan Kelas IIB Sumenep Moh. Kafi.

Beri Motivasi, GP Ansor Sumenep Buka Puasa Bersama Napi (Sumber Gambar : Nu Online)
Beri Motivasi, GP Ansor Sumenep Buka Puasa Bersama Napi (Sumber Gambar : Nu Online)


Beri Motivasi, GP Ansor Sumenep Buka Puasa Bersama Napi

Menurut mantan Ketua Umum PMII Sumenep ini, narapidana mesti didorong agar sanggup memperbaiki kehidupannya utamanya setelah bebas dari tahanan nanti.

Penghuni rutan (rumah tahanan) juga manusia yang butuh sentuhan psikologis dan sapaan akrab dari kita. Mereka butuh motivasi dan sapaan akrab dari kita agar mereka bisa melakukan yang lebih baik, katanya di hadapan narapidana di rumah tahanan Kelas IIB Sumenep, Ahad (13/7) petang.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Sementara Kepala Rutan Kelas IIB Sumenep Moh. Kafi dalam sambutannya mengapresiasi bakti sosial Ansor tersebut. Menurutnya, buka bersama antara organisasi kemasyarakatan dengan narapidana merupakan yang pertama kali sejak dirinya bertugas di rutan Kota Sumekar.

Kami bangga dengan Ansor sebagai kader muda yang energik. Kami berharap agar ke depannya bisa bersinergi dan kerja sama dengan rutan yang bisa bermanfaat kepada warga binaan rutan, harapnya.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Sebelum berbuka bersama, Ustad Susianto memberikan ceramah di hadapan narapidana. Dai asal Kecamatan Gapura itu menyampaikan hikmah Ramadhan. Saat adzan maghrib tiba, pengurus GP Ansor dan warga binaan rutan bersantab bersama. (M Kamil Akhyari/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53257/beri-motivasi-gp-ansor-sumenep-buka-puasa-bersama-napi

PPQ Al-Amin Purwokerto

Senin, 23 Desember 2013

Mengusap Kepala Anak Yatim di Hari Asyuro Bukan Bidah

PPQ Al-Amin Purwokerto - Sebagian kalangan umat Islam anyaran menyebut bid'ah amalan kaum muslimin ahlus sunnah wal jamaah yang sudah dilakukan ratusan tahun lamanya. Di antara yang dituduh bid'ah itu adalah mengusap kepala anak yatim pada hari ke 10 bulan Muharram (Asyuro) karena haditsnya dianggap palsu. Mengenai hal itu, Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan:

ﻭﻗﺪ ﻭﺭﺩﺕ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻓﻲ اﻟﺼﻮﻡ ﻭاﻟﺘﻮﺳﻌﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻌﻴﺎﻝ ﻭﺃﻣﺎ ﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻓﻠﻢ ﻳﺮﺩ ﻓﻲ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ

Mengusap Kepala Anak Yatim di Hari Asyuro Bukan Bidah - PPQ Al-Amin Purwokerto
Mengusap Kepala Anak Yatim di Hari Asyuro Bukan Bidah - PPQ Al-Amin Purwokerto


Mengusap Kepala Anak Yatim di Hari Asyuro Bukan Bidah

Hadis-hadis yang menjelaskan anjuran di hari Asyuro adalah puasa dan melapangkan nafkah untuk keluarga. Selain dua hal tersebut, tidak dijelaskan dalam hadist (Nihayat Zain 196).

Namun, Syekh Nawawi menjelaskan bahwa ada 10 amalan lain yang sudah dilakukan oleh ulama kita di hari Asyuro, diantaranya adalah:

ﻭﻣﺴﺢ ﺭﺃﺱ اﻟﻴﺘﻴﻢ

PPQ Al-Amin Purwokerto

"Mengusap kepala anak yatim."

Apa dalil dan dasar di hari Asyuro memberi sedekah kepada fakir-miskin (termasuk yatim) dan mengusap kepala anak yatim?

PPQ Al-Amin Purwokerto

Mufti al-Azhar menyampaikan riwayat hadist berikut:

"ﻣﻦ ﻭﺳﻊ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﺎﻟﻪ ﻓﻰ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭاء ﻭﺳﻊ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻨﺔ ﻛﻠﻬﺎ" ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻰ ﻭاﻟﺒﻴﻬﻘﻰ ﻭﺃﺑﻮ اﻟﺸﻴﺦ، ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺒﻴﻬﻘﻰ ﺇﻥ ﺃﺳﺎﻧﻴﺪﻩ ﻛﻠﻬﺎ ﺿﻌﻴﻔﺔ، ﻭﻟﻜﻦ ﺇﺫا ﺿﻢ ﺑﻌﻀﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺑﻌﺾ ﺃﻓﺎﺩ ﻗﻮﺓ

"Barang siapa melapangkan nafkah kepada keluarganya di hari Asyuro, maka Allah akan melapangkan rezeki baginya selama setahun". (HR ath-Thabrani, al-Baihaqi dan Abu Syekh. Al-Baihaqi berkata bahwa sanadnya keseluruhan adalah dlaif. Namun jika dikumpulkan dapat menguatkan hadis tersebut).

Dari riwayat tersebut Syekh Athiyah berkata:

ﻭﺭﺃﻯ ﺑﻌﺾ اﻟﻤﻔﻜﺮﻳﻦ ﺃﻥ " اﻟﻌﻴﺎﻝ " اﻟﻤﺬﻛﻮﺭﻳﻦ ﻓﻰ ﻫﺬا اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻫﻢ ﻋﻴﺎﻝ اﻟﻠﻪ ﻭﻫﻢ اﻟﻔﻘﺮاء، ﻭﻫﻨﺎ ﺗﻈﻬﺮ اﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻰ اﻟﺘﻮﺳﻌﺔ ﻣﻊ اﻟﺼﻴﺎﻡ

"Sebagian ulama menafsirkan bahwa al-Iyal dalam hadis di atas adalah orang-orang fakir. Penafsiran ini menjadi selaras dengan hikmah sedekah bersama anjuran puasa" (Fatawa al-Azhar 9/256).

Dan hadist yang menganjurkan mengusap kepala anak yatim adalah:

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ «ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﺷﻜﺎ ﺇﻟﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺴﻮﺓ ﻗﻠﺒﻪ ﻓﻘﺎﻝ: " اﻣﺴﺢ ﺭﺃﺱ اﻟﻴﺘﻴﻢ ﻭﺃﻃﻌﻢ اﻟﻤﺴﻜﻴﻦ». ﺭﻭاﻩ ﺃﺣﻤﺪ، ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ.

Dari Abu Hurairah bahwa seseorang mengadu kepada Rasulullah perihal hatinya yang keras. Nabi bersabda: "Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin" (HR Ahmad, para perawinya sahih).

Mengamalkan beberapa hadist sehingga dapat dipraktikkan dalam satu amalan adalah diperbolehkan dan bukan bidah. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Ma'ruf Khozin, pengasuh kajian Aswaja Majalah AULA

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/mengusap-kepala-anak-yatim-di-hari-asyuro-bukan-bidah.html

Sabtu, 15 Juni 2013

Trending Topic 10 Jam, #MaulidNabi Tenggelamkan #SubuhBerjamaah

PPQ Al-Amin Purwokerto - Tagar #MaulidNabi menempati urutan pertama jagad dunia twitter Indonesia sejak Ahad (12/12/2016) pukul 12.12 WIB hingga pukul 22.16 WIB. Tag tersebut jauh mengalahkan tagar #SubuhBerjamaah yang juga dikampanyekan sebagai "aksi lanjutan bela Islam 212". Aksi cinta Nabi di jagad maya melenyapkan aksi politik tanpa ideologi itu. Ini screenshoot trending topic #MaulidNabi.

Trending Topic 10 Jam, #MaulidNabi Tenggelamkan #SubuhBerjamaah
Trending Topic 10 Jam, #MaulidNabi Tenggelamkan #SubuhBerjamaah


Maulid Nabi Trending Topic Tagar #MaulidNabi memberitakan acara-acara maulid di beberapa daerah di tanah air, hal yang tidak nampak dari mereka yang kampanye #SubuhBerjamaah. Memanfaatkan momentum maulid untuk gerakan politis, ternyata tidak jadi pilihan jagad tweetland dunia maya.

Semarak Maulid juga dikabarkan oleh akun Nudirsyah Hosen (https://twitter.com/na_dirs) dari Sydney. Jauh di negeri Kanguru sana, para syaikh berpaham ahlus sunnah wal jama'ah mengadakan maulid dengan mencium rambut Rasulullah.

"Tabarukan dengan mencium rambut Rasulullah SAW bersama para masyayikh dalam acara #MaulidNabi di Sydney," tulis Prof. Nadirsyah yang juga Rais Syuriah PCI NU Autralia tersebut, yang diretweet ratusan kali. Ini statusnya.

Tweet MaulidNabi Prof. Nadirsyah Hosen Kabar dan kisah perayaan Maulid Nabi, jika ditelusuri, memenuhi beranda twitter selama 10 jam. Setidaknya, ketika laporan ini ditulis, tagar besutan tim Cyber Aswaja itu sudah digunakan sebanyak 10 ribu kali, meskipun turun ke urutan ke-4 pada pukul 22.23 WIB.

#MaulidNabi sempat menduduki puncak trending topic lagi pukul 04.55 WIB, di mana pada sejam sebelumnya tagar #SubuhBerjamaah sempat naik di urutan ke 4 beberapa menit, lalu hilang tenggelam diganti serangan tagar #SubuhBerjamaah1212, tag yang tidak direkomendasikan oleh alumni Aksi Bela Islam 212.

Trending topic lagi pukul 04.55 WIB Maulid Nabi tahun ini memiliki keistimewaan. Tanggal 12 Robiul Awal (Maulud) 1438 H bertepatan sama dengan hari kelahiran Nabi, yakni Senin. Bahkan kesamaan tanggal Hijriyah dengan Miladiyah, 12 Maulud dan 12 Desember 2016, hanya akan terulang sekali dalam 22 tahun.

Bagaimana dengan gerakan #SubuhBerjamaah? Tentu akan tenggelam sendirinya dengan keistimewaan Maulid Nabi hari ini. Melawan Nabi Muhammad itu taruhannya malu dan kesaru-saru. Sekian, laporan redaksi PPQ Al-Amin Purwokerto. [PPQ Al-Amin Purwokerto]


Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/trending-topic-10-jam-maulid-nabi-tenggelamkan-subuh-berjamaah.html

Sabtu, 01 Juni 2013

Dosa-Dosa Buya Yahya

PPQ Al-Amin Purwokerto - Masyarakat muslim Cirebon terkenal sebagai warga yang secara kultural bisa hidup damai karena banyak melakukan akulturasi budaya dengan lainnya. Buktinya, hingga sekarang, yang ziarah ke makam Sunan Gunung Jati Cirebon bukan hanya muslim saja. Orang Cina, Konghuchu, Budha juga damai melakukan ritual ziarah ke sana. Jelas, Sunan Gunung Jati adalah simbol pluralisme, cerminan kultur Cirebon.

Dosa-Dosa Buya Yahya
Dosa-Dosa Buya Yahya


Hingga muncullah nama Yahya Arif Zainal, yang disiarkan oleh murid-murid atas pintanya, dipanggil Buya. Sebutan yang tidak lazim bagi seusianya. Kalangan muda NU Cirebon keberatan dengan kehadiran Yahya sejak tahun 2006. Bukan cara dakwahnya yang disoal, namun isi dakwahnya mengusik ketenangan warga, nahdliyyin khususnya.

Dia datang ke Cirebon tidak punya apa-apa. Hingga kemudian ia bertemu dengan salah satu pengurus PBNU yang kaya asal Cirebon. Ia bukan santri, namun melihat Yahya adalah santri yang dianggapnya santun, pintar, ia tertarik membantu.

Orang kaya inilah yang mengajak Yahya berkunjung ke masjid-masjid, komunitas pesantren dan lainnya hingga ia dikenalkan dengan seoarang relasi yang jadi pejabat di Pertamina Cirebon. Dari CSR Pertamina itulah Yahya membangun kekuatan. Sayangnya, Yahya menggunting jaringan langsung ke Pertamina, melupakan orang yang berjasa mengenalkannya hingga kerap menghardik NU di hadapan umum, tempat pengurus PBNU itu berkhidmah.

Di mata ulama Cirebon, ia dianggap telah merusak tatanan tradisi kiai-kiai Cirebon. Selama ini, kiai-kiai Cirebon sepakat tidak pernah mengadakan pengajian di hari Ahad. Tradisi tersebut sudah berjalan puluhan

tahun karena setiap Ahad ada pengajian di Jagastaru, Cirebon yang diasuh Habib Muhammad bin Syech bin Yahya (alm).

Guru Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan ini dianggap sesepuh, berkarakter toleran serta ditokohkan oleh para kiai di Cirebon. Kehadiran Ayib Muh, -panggilan Habib Muhammad bin Yahya-, sangat meneduhkan masyarakat lokal Cirebon.

Kiai-kiai pesantren di Cirebon, baik dari daerah Buntet, Gedongan, Ciwaringin, Ngempek, setiap hari Ahad selalu ngaji, datang langsung majelis ke Ayib Muh. Namun, tiba-tiba Yahya membuat pengajian tandingan di waktu dan hari yang sama.

Atas itu, para kiai muda mengingatkan dan mendatangi Yahya agar tidak mengadakan pengajian di hari tersebut. “Kita sama-sama dakwah, di sana ngaji, kita juga ngaji, kok ngaji saja harus diatur,” jawab Yahya congkak.

Tidak mau diingatkan, lama-lama banyak yang merasa kurang nyaman karena merekrut jama’ahya Ayib Muh. Cara yang dilakukan adalah membayari mobil-mobil rombongan ngaji dari jama’ah yang ada di desa-desa. Itu yang membuat marah kiai-kiai Cirebon pada awalnya.

Etika Yahya inilah yang dianggap para kiai-kiai di kampung tidak sesuai dengan kultur masyarakat muslim Cirebon yang dikenal menghargai dan menjunjung tinggi orang tua serta alim seperti Ayib Muh.

Yahya juga pernah dirangkul untuk masuk jadi pengurus NU struktural. Dijawab olehnya bahwa ia tidak butuh NU. “Saya muslim, silakan yang NU ya NU, saya ya saya, tapi saya Aswaja, sunni namun tidak berorganisasi,” jawabnya.

Bukan hanya oleh pengurus NU ia didatangi dan dirangkul. Menantu Ayib Muh bernama Habib Miqdad Baharun dan Quraish Baharun pun datang ikut menawari masuk jamiyyah NU, namun Yahya tetap menolak. Dalam tradisi santri, hal itu dianggap su’ul adab (tidak berkahlaq), apalagi dia seperti menantang.

Yahya kian gemar menghina NU sejak isu syiah dimunculkan kembali, utamanya disasarkan kepada Kiai Said, ketua PBNU sekarang.

Kejadian itu dimulai sejak keluarga besar NU (KBNU) yang terdiri atas unsur-unsur organisasi semacam IPNU, PMII, Ansor, Fatayat, Muslimat dan lainnya mengadakan peringatan 10 Muharram pada 2008. Di situlah Yahya mulai menyerang Kiai Said karena menghadiri acara yang disebut bermisi syiah tersebut.

Panitia sempat berpindah tempat dari rencana awal di Masjid Agung At-Taqwa Cirebon karena ditolak oleh kelompok Yahya. Mereka menyebut agenda acara itu bagian dari gerakan syiah. Karena tidak ingin terjadi konflik, lokasi kegiatan dipindah ke dalam Keraton.

Pasca kejadian itu, Yahya mulai berani menyerang dengan melontarkan tuduhan tak berdasar kepada publik bahwa NU itu organisasi Syiah. Pada titik ini, anak-anak muda NU di KBNU mulai sangat keberatan dengan kehadiran Yahya. Ia dengan mudah menyerang Kiai Said yang saat ini jadi simbol NU.

Yang kemudian membuat kemarahan anak muda NU itu bertambah adalah munculnya NU Garis Lurus, dimana ada nama Yahya bersedia diangkat sebagai Dewan Syuriah NUGL dengan Luthfi Bashori sebagai Imam Besar nya. Ditawari masuk NU menantang, tapi justru masuk ke barisan sakit hati semacam NUGL.

Celakanya lagi, saat NU sedang membangun dan mensosialisasikan pola ukhuwwah basyariyah dan ukhuwwah islamiyah lewat gerakan Islam Nusantara, Yahya semakin ringan menghina NU dengan menyebut bahwa Islam Nusantara itu seperti babi yang dikemas dalam bentuk kambing. Seorang alim, tapi bicaranya seperti anjing.

Gerakan Yahya ini cukup sistemik. Melalui kendaraan Al-Bahjah, Yahya tidak hanya melakukan gerakan di Cirebon saja, tapi di daerah lain. Ia tidak memusuhi NU secara frontal tapi gerakannya merusak tatanan dan tradisi muslimin di Indonesia. Khususnya NU dan adab santri. Dukungannya atas isu syiah-sunni saja sudah bisa dibaca arah gerakannya ada kaitan dengan Arab.

Sangat mudah jika menyebut Yahya punya jaringan Arab sekaligus misinya mengingat ia lulusan Universitas al-Ahqaf, Yaman Selatan, yang dikenal sebagai titik tumbuhnya Islam non wahabi garis keras dan radikal.

Atas ulahnya itu, Yahya pernah dipanggil 30-an kiai, namun tidak pernah direspon. Tercatat, agenda pemanggilan untuk klarifikasi pernah direncanakan dua kali oleh para kiai. Sebelumnya, sudah puluhan kiai

mendatangi. Hasilnya nihil.

Walau belum pernah menegur secara langsung, anak-anak muda NU di sana sudah puluhan kali mengundang Yahya dalam acara, namun tidak penah satu kali pun hadir. Gemesnya, dia justru sangat bangga diundang kelompok NUGL. Walau tidak pernah melakukan kekerasan fisik, tapi Gusti Allah ora sare.

Semoga setelah kecelakaan, dia sadar atas dosa-dosanya kepada kiai-kiai Cirebon yang cinta Ayib Muh. Penghinaan kepada NU dan Kiai Said juga diharapkan tidak dilanjutkan dalam acaranya yang disebut “ngaji” itu, serta tidak mudah melontarkan caci-maki karena benci.

Sepintar apapun santri, jika tidak tidak menggunakan adab sebagai baju, ia tidak lebih seperti dzubab (lalat). Ya Jabbar ya Qahhar! Menghina NU dan Kiai, fantadziris saa’ah. [PPQ Al-Amin Purwokerto/ luqman segaff]

Sumber: Transkip rekaman keterangan Anak Muda NU Cirebon.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/dosa-dosa-buya-yahya.html

Minggu, 05 Mei 2013

Fatwa Buya Dimyati: HTI Itu Hukumnya Haram

PPQ Al-Amin Purwokerto - Dengan ini saya Abuya Muhtadi Dimyathi berfatwa bahwa Pancasila adalah:

قاعدة كلية أقامها من قبلنا لإصلاح من بين سابنج وميروكى

Fatwa Buya Dimyati: HTI Itu Hukumnya Haram - PPQ Al-Amin Purwokerto
Fatwa Buya Dimyati: HTI Itu Hukumnya Haram - PPQ Al-Amin Purwokerto


Fatwa Buya Dimyati: HTI Itu Hukumnya Haram

Artinya: Dasar negara yang bersifat global mencakup keseluruhan komponen bangsa yang dirumuskan dan disahkan oleh tokoh-tokoh sebelum kita untuk kemashlahatan seluruh rakyat NKRI dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari beragam agama, ras dan suku, dan juga saya berfatwa bahwa:

ألحاتيئي ومن نحا نحوهم ليس إلا أنهم قوم مسلمون أقاموا في بلدتنا التي قاعدتها فنجاسيلا ويريدون إزالتها محقرين ومهينين بانيها ومدعين بأنهم طاغوت, وذلك نوع من البغي, والبغي كبيرة. فلما كان كذلك فحرام في الجملة

PPQ Al-Amin Purwokerto

Artinya: HTI Hizbut Tahrir Indonesia dan ormas-ormas Islam lainnya yang sejalan dengan HTI tiada lain kecuali kaum muslimin yang menetap di negara kita Indonesia yang punya dasar Pancasila dan misi kaum muslimin tersebut adalah menghilangkan Pancasila, mereka juga menghina dan meremehkan tokoh-tokoh perumus dan pengesah Pancasila dan menganggap bahwa tokoh-tokoh perumus Pancasila adalah taghut.

Perbuatan seperti itu adalah salah-satu macam pemberontakan terhadap negara, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka HTI dan ormas-ormas Islam yang sejalan dengan HTI itu hukumnya haram dalam beberapa masalah/situasi dan kondisi. [PPQ Al-Amin Purwokerto] 

PPQ Al-Amin Purwokerto

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/fatwa-buya-dimyati-hti-itu-hukumnya-haram.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PPQ Al-Amin Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PPQ Al-Amin Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PPQ Al-Amin Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock