Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2016

Kehadiran KH Maruf di Pengadilan, Paksaan Kelompok Cingkrang Untuk Sulut Nahdliyyin

PPQ Al-Amin Purwokerto - Saya baru sadar mengapa KH. Ma’ruf Amin dijadikan sebagai saksi di akhir-akhir laga. Bukan kesaksiannya yang penting. Tapi, reaksi Ahok dan Kuasa Hukumnya atas kesaksiannya yang penting. Aktor di balik layar kasus Ahok ini tahu bahwa Kuasa Hukum Ahok bukan orang sembarangan. Mereka terpanggil untuk membela Ahok bukan karena materi tapi karena kebenaran. Lewat substansi kesaksian akan mustahil memberatkan Ahok.

Kehadiran KH Maruf di Pengadilan, Paksaan Kelompok Cingkrang Untuk Sulut Nahdliyyin
Kehadiran KH Maruf di Pengadilan, Paksaan Kelompok Cingkrang Untuk Sulut Nahdliyyin


Terbukti dari sidang-sidang sebelumnya. Secara substansi, tidak ada kesaksian dari para saksi pelapor yang beres. Kesaksian mereka justru memberikan panggung untuk Ahok mengungkap segala macam kebohongan kasusnya. Hasilnya, beberapa saksi dilaporkan karena memberikan kesaksian palsu.

Melihat rentetan kegagalan ini, perlu dilakukan terobosan baru. Nggak apa-apa kalah secara substansi, tapi dari kesaksian tersebut bisa menimbulkan semacam kegaduhan. Lalu, dipasanglah KH. Ma’ruf Amin yang merupakan Ketua Umum MUI sekaligus Rais Aam PBNU. Kiai Ma’ruf punya dua jabatan penting yang bisa menyulut emosi umat Islam.

Perlu dipertanyakan, mengapa harus Kiai Ma’ruf? Beliau sudah sepuh. Akan terlalu menguras tenaga jika mengikuti sidang berjam-jam lamanya. Itulah mengapa, pihak MUI protes terhadap Ahok dan pengacaranya, terkait lamanya pertanyaan atas Kiai Ma’ruf. Seakan-akan, Ahok dan kuasa hukumnya salah jika melemparkan banyak pertanyaan ke beliau.

Dalam pengadilan, itu sah-sah saja. Justru, kalau mau protes, ya protes ke Jaksa Penuntut Umum, kan mereka yang undang. Seharusnya, pihak MUI kan sudah tahu kalau proses sidang memang lama dan siap-siap dikuliti dari A sampai Z. Untuk itu, mengapa tidak mencari penggantinya saja? Dalam Pasal 170 KUHAP sebenarnya, Kiai Ma’ruf bisa menolak menjadi saksi, tapi siapa yang memaksa beliau?

MUI dan yang kaum sedasteran garis cingkrang mulai menyerang Ahok dan para pendukungnya lewat ini. Serangan ini bukan untuk mempengaruhi sidang dan keputusan hakim. Tapi serangan ini dilancarkan untuk menyulut emosi umat. Terutama mereka yang bersumbu pendek.

Mereka bermain playing victim bahwa ulama sedang dihinakan. Ahok dan pengacaranya dianggap sangat kasar, sarkastik, melecehkan dan menghina marwah Kiai Ma’ruf. Tidak hanya itu, pengacara Ahok dinilai sangat tendensius bertanya, apalagi seputar masa lalu Kiai Ma’ruf saat menjadi Wantimpres era SBY. Padahal, apa salahnya bertanya seperti itu? Itu kan untuk menilai seberapa obyektif kesaksiannya.

Dan yang lebih keterlaluan lagi adalah mereka bawa-bawa NU. Memang, Kiai Ma’ruf adalah Rais Aam NU, tapi ia bersaksi sebagai Ketua Umum MUI. Tapi, yang namanya sumbu pendek, akan menghalalkan segala cara untuk membenturkan pihak lain untuk turut berperang lawan Ahok. Inilah yang diinginkan oleh sang desainer.

Kalau kita perhatikan jalannya sidang. Banyak sekali kejanggalan dari apa yang disampaikan Kiai Ma’ruf. Mulai dari ia tak melihat langsung videonya. Lalu, ia mengatakan, MUI telah menurunkan tim investigasi ke Kepulauan Seribu pada tanggal 1-5 Oktober, padahal Buni Yani baru mengunggah video editannya tanggal 6 Oktober. Belum lagi, MUI Pusat yang langsung mengeluarkan sikap keagamaan tanpa bertabayyun ke Ahok. Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan lainnya.

Secara substansi, kesaksian Kiai Ma’ruf sangat lemah dan sulit untuk memberatkan Ahok. Tapi, bukan itu yang sang desainer inginkan. Sebab, belajar dari sidang-sidang sebelumnya, mereka sudah tahu bahwa tidak akan mampu memberatkan Ahok. Jadi, alternatif lainnya adalah buat lagi kegaduhan.

Apalagi, para aktor, para punggawa serta bidak-bidaknya sedang terlibat berbagai macam kasus. Mereka butuh kegaduhan agar bisa menekan aparat penegak hukum, atau sekedar mengalihkan perhatian. Dan semua harapan itu, mereka letakkan di pundak Kiai Ma’ruf.

Kita lihat sepertinya berhasil. Kaum sumbu pendek garis cingkrang sudah mulai meramaikan jagat media sosial dengan menyebar provokasi bahwa ulama kita sedang dilecehkan. Ulama kita sedang dihinakan. Ini menjadi celah bagi para aktor untuk terus menyulut emosi umat.

Persetan dengan substansi sidang. Apalagi, Aa Gym juga sudah angkat bicara lewat akun twitternya. Ia menulis: “Demi Alloh, tak rela KH. Ma’ruf Amin, guru/orang tua/ulama kami, pimpinan MUI yang amat kami hormati cintai, direndahkan dan diancam siapapun”.

Padahal, setelah ceramah di Pulau Pramuka, Aa sudah tidak tampak lagi di media. Saat para sahabatnya sesama alumnus 212 mulai diciduk polisi, Aa tidak pernah berkomentar bahkan muncul di media untuk, minimal, menyatakan rasa prihatinnya. Tentu, dalam posisi seperti itu, nggak ada untungnya buat Aa.

Dan klimaksnya terjadi saat ada pemberitaan di media bahwa Ahok dan kuasa hukumnya akan melaporkan Kiai Ma’ruf. Isu penghinaan ulama pun digoreng kembali sambil ditumis dengan ditambah mecin dalam jumlah besar. Sebab, mecin sangat baik untuk menghambat kinerja nalar.

Tidak berhenti di situ, mereka pun membenturkan Ahok dengan NU. Banyak tokoh-tokoh muda NU seperti Yenny Wahid dan Akhmad Sahal yang memberikan anjuran agar Ahok tidak melaporkan Kiai Ma’ruf. Ini untuk menjaga marwah NU dan Kiai Ma’ruf. Padahal, sebelum ini Ahok dan NU tidak pernah ada masalah. Bahkan, Ahok sangat dekat dengan Gus Dur.

Pihak-pihak makar juga para penggagas GNPF sedang kegirangan. Kisruh antara Ahok dan MUI yang digoreng sedemikian rupa menjadi “upaya melecehkan ulama” lalu ditumis lagi menjadi “Ahok versus NU”, semua itu bagai hujan deras dari langit di tengah kemarau panjang yang tak berkesudahan.

SBY tentu senang, elektabilitas Ahok bakal terjun bebas lagi. Kasus Sylvi pun akan dipending dulu. Juga, kasus Antasari. Polisi bakal disibukkan lagi oleh demo bela ulama. Begitu pula dengan Rizieq. Ia akan mendapatkan panggung untuk bisa berteriak “kriminalisasi ulama” lebih keras lagi. Munarman, Novel dan Muchsin, mereka akan bersama-sama Rizieq menggemboskan isu “kriminalisasi ulama”.

Negara akan menjadi kacau. Kegaduhan akan terjadi dimana-mana. Dalam kondisi seperti itu, makar jilid dua berpeluang untuk dilakukan. Tentakel-tentakel yang selama ini bersembunyi dalam kesunyian akan muncul ke permukaan dan melakukan manuver-manuver untuk membangkitkan lagi sebuah dinasti dalam demokrasi negeri ini.

Sayang sungguh sayang. Pernyataan Kuasa Hukum Ahok hari ini menuntaskan kegembiraan mereka. Ahok dan kuasa hukumnya tidak terpancing. Malah mereka memberikan klarifikasi bahwa pemberitaan di media yang menyebutkan Ahok akan melaporkan Kiai Ma’ruf, itu keliru.

Menurut kuasa hukum Ahok, apa yang Ahok katakan di persidangan, yang akan memproses secara hukum saksi, itu tidak tertuju kepada Kiai Ma’ruf. Yang dimaksud itu adalah saksi-saksi pelapor, bukan saksi ahli. Oleh karenanya, tidak benar pemberitaan yang menyebutkan Ahok akan melaporkan Kiai Ma’ruf.

Kuasa hukum Ahok sudah tahu bahwa ada pihak-pihak yang sedang memancing di air keruh. Mereka memanfaatkan celah-celah kecil dalam sidang. Padahal, dalam sidang, tentu bakal terjadi kontra argumen. Tapi, dalam situasi seperti ini, hal yang wajar pun bisa digoreng untuk menaikkan isu “penghinaan ulama”. Sayangnya, Ahok dan kuasa hukumnya telah memberikan klarifikasi yang membuat NU akan menyudahi kekisruhan yang sempat terjadi.

Ahok tetap di atas angin. Sang mantan hanya bisa pasrah menerima keadaan. Gagal maning. Gagal maning. Ra(i)sa-ra(i)sanya begitulah. Dawuh ulama kita, guru kita dan panutan kita. Sami'na wa atha'na. Semoga Gus Mus dan semua kiai sepuh NU dan habaibnya dianugerahi umur yang panjang, sehat wal afiyat. Amin. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/kehadiran-kh-maruf-di-pengadilan-paksaan-kelompok-cingkrang-untuk-sulut-nahdliyyin.html

Kamis, 11 Desember 2014

Bupati Subang Hadiri Ansor Bershalawat

Subang, PPQ Al-Amin Purwokerto. Bupati Subang Ojang Sohandi mengajak masyarakat untuk kembali mempererat sikap toleransi dan kepedulian antar sesama.

Hal itu ditegaskan Ojang dalam serangkaian acara Ansor Bershalawat yang dilaksanakan oleh Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Subang di Halaman Masjid Al-Muhtadin, Desa Kertajaya, Tambak dahan (Sabtu/18/05/2013).

Bupati Subang Hadiri Ansor Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Subang Hadiri Ansor Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)


Bupati Subang Hadiri Ansor Bershalawat

Menurut Ojang nilai-nilai kemanusiaan yang sudah menjadi karakter bangsa Indonesia harus benar-benar dipertahankan dengan lebih mempererat rasa toleransi dan kepedulian antar sesama.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Karakter suatu bangsa tentu tercermin dari sikap masyarakatnya. Nah, karakter saling tolong menolong, toleransi dan gotong royong sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Dan kita tentunya harus mempertahankannya untuk mengimbangi kemajuan zaman ini, tegas Ojang.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Gerakan Pemuda Ansor Cabang Subang Asep Alamsyah Heridinata,bahwa salah satu tujuan dari acara tersebut untuk mempererat ukhuwah dan tali persaudaraan.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Tujuan dari acara ini tiada untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang terjewantahkan dalam serangkaian kegiatan doa bersama. Mudah-mudahan keberkahan menyertai kita semua dalam menjalankan aktivitas keseharian, papar Asep.

Selain diisi shalawat dan doa bersama, acara tersebut diisi juga serangkaian kegiatan, diantaranya pagelaran musik islami, launching penanaman seribu pohon, dan pengajian umum.

Acara tersebut dihadiri oleh ribuan jamaah Muslimat NU. Selain itu,dihadiri juga oleh Ketua Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Barat, Hendrik Kurniawan, Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama Cabang Subang, KH Mussa Muttaqien dan KH Mujahidin Fatawi, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Subang, Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Cabang Subang.

Tampil sebagai penceramah Habib Mushtafa dari Purwakarta.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Ade Mahmoedin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44586/bupati-subang-hadiri-ansor-bershalawat

PPQ Al-Amin Purwokerto

Senin, 19 Mei 2014

Pagar Nusa Pamekasan Bekali Santri Keterampilan Bela Diri

Pamekasan, PPQ Al-Amin Purwokerto. Pagar Nusa Pamekasan tampak gencar menjaring anggota baru. Salah satunya dengan menyasar para santri di lingkungan pesantren yang tersebar di tiga belas kecamatan. Pesantren Sumber Anom Pamekasan tak luput dari bidikan Pagar Nusa.

Para santri asuhan Ketua PCNU Pamekasan KH Taufiq Hasyim diajari keterampilan bela diri oleh pelatih dari Pagar Nusa Pamekasan, Selasa (8/11) malam.

Pagar Nusa Pamekasan Bekali Santri Keterampilan Bela Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Pamekasan Bekali Santri Keterampilan Bela Diri (Sumber Gambar : Nu Online)


Pagar Nusa Pamekasan Bekali Santri Keterampilan Bela Diri

Para santri terlihat antusias menjalani latihan bela diri. Tak satu pun dari mereka yang menyerah, selalu semangat dari awal hingga akhir latihan.

Ketua Pagar Nusa Salman Al-Farizi menegaskan, latihan tersebut dimaksudkan guna membekali para santri keterampilan bela diri. Harapannya, mereka bisa menjadi benteng utama kelak dalam mempertahankan NKRI dan memperjuangkan paham Ahlussunnah wal Jamaah.

PPQ Al-Amin Purwokerto

"Sebatas bela diri, bukan untuk melukai atau mencederai orang lain," terang Salman Al-Farizi.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Mantan Ketua IPNU Pamekasan ini menargetkan, seluruh santri di puluhan pesantren di Kabupaten Pamekasan bisa menjadi kader Pagar Nusa. Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan ketelatenan dan keseriusan para pengurus dan pelatih dalam menggembleng para santri di lingkungan pesantren.

"Alhamdulillah, Pengasuh Sumber Anom yang merupakan Ketua PCNU Pamekasan KH Taufiq Hasyim sangat mengapresiasi program kami. Buktinya, ia dengan antusias mendorong santrinya bergabung dengan Pagar Nusa PCNU Pamekasan," tukasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72777/pagar-nusa-pamekasan-bekali-santri-keterampilan-bela-diri

PPQ Al-Amin Purwokerto

Selasa, 15 April 2014

Tiga Pedoman Bagi Pengurus NU

Bangkalan, PPQ Al-Amin Purwokerto. Seperti biasa, dalam setiap perhelatan pelantikan kepengurusan MWC NU di wilayah kerja cabang Bangkalan, PCNU selalu mengagendakan acara pemantapan peran dan tugas pengurus serta ajaran Aswaja bagi kepengurusan MWC NU terpilih.

Gelaran acara pemantapan kembali dilakukan oleh panitia pelantikan bersama pengurus MWC NU Arosbaya, Geger dan Klampis dengan menghadirkan KH Abdullah Syamsul Arifin dari Jember Jawa Timur.

Tiga Pedoman Bagi Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Pedoman Bagi Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Tiga Pedoman Bagi Pengurus NU

Mengawali ceramahnya ketua PCNU Jember yang terkenal sebagai pegiat pembela ahlussunnah wal jamaah ini memaparkan pentingnya modal kerja.

Sangat istimewa Bangkalan ini, karena embrio lahirnya NU adalah Bangkalan melalui Mbah Cholil. Semoga kita kelak di akhirat dijadikan satu rombongan bersama beliau, paparnya.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Ditambahkannya NU dilahirkan oleh 3 aspek pokok yang kelak harus kita (pengurus NU) terjemahkan dalam bentuk kerja nyata. Hilangkan stigma bahwa NU adalah bagian dari partai politik atau hanya berurusan dengan tahlil, qunut dan maulid dibaiyyah semata.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Dikatakannya menjadi pengurus NU harus mapan secara ekonomi, sehingga nantinya all out dalam berfikir dan bekerja untuk NU. Kemapanan ekonomi ini diwujudkan melalui Nahdlatut Tujjar untuk bidang ekonomi, jika sudah mapan maka gerakan akan bergeser kepada kemampuan politik (Nahdlatul Waton). Pengurus NU harus paham dan mulai berfikir, apalagi jelang Pilkada dan pemilu jangan mudah memberikan dukungan kepada orang yang berteriak Kita akan all out memperjuangkan suara Nahdliyin, maka dukunglah saya.

Lihat dahulu mapan enggak ekonomi mereka, papar mantan Cabup Jember ini. Jangan-jangan hanya cari pekerjaan. Tanpa kemapanan ekonomi sulit berbicara kebijakan politik, kalau secara ekonomi mapan lihat ambisi politiknya, baru kita lihat kepentingan aqidahnya.

Ia menegaskan, NU harus bangun dan bangkit, pengurus NU jangan sekali-kali menggadaikan NU untuk kepentingan sesaat.

Selain terkait latar belakang kenapa NU didirikan dosen STAIN Jember yang juga wakil katib PWNU Jatim ini juga mengurai akan pentingnya nilai-nilai leadership. Kemampuan manajerial sudah harus dimasukkan dalam setiap proses pemilihan kepemimpinan di NU, tapi harus nyambung dengan karakter ulama, karena NU bukan sebuah perusahaan atau organisasi lainnya.

Ia mengatakan NU menjunjung tinggi sikap toleransi bukan menjustifikasi kebenaran ajaran agama lain. NU akan menghargai pilihan masyarakat terkait pilihan agama, kepercayaan dan amaliahnya, itulah yang namanya toleransi, tetapi NU tidak akan pernah membenarkan segala bentuk kegiatan yang menyimpang dari Islam dan ahlussunnah wal jamaah.

Kalau ini dilakukan (justifikasi) kenapa tidak sekalian saja kita pindah agama, seloroh Gus Aab, panggilan akrabnya yang disambut aplaus undangan pelantikan.

Kepada pengurus yang dilantik, Ketua MUI Jember ini berpesan agar filosofi sholat jamaah juga dijadikan kerangka berfikir dalam menjalankan amanat jamiyyah.

Satu tujuan (niat yang sama) kepatuhan pada pimpinan (imam), jangan sekali-kali melakukan pergantian di tengah jalan, dan mengetahui karakter jamaah (umat) ini harus. Tanpa memahami karakter jamaah akan sulit dijamin program kerjanya bisa maksimal dan optimal,

Selain terkait 3 hal pokok yang harus dipahami pengurus Gus Aab juga berpesan agar kepengurusan di bawah mampu merawat umat secara maksimal, biar tidak diambil orang, menyerang jamiyyah (NU secara organisasi) hanya merupakan kebodohan bagi pihak luar.

Ingatlah juga tentang pendidikan dan masjid yang selama ini lepas dari pembinaan kita, kalau ini dimaksimalkan, insyaallah NU akan menjadi pelayan dan akan dilayani umat, tegasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44432/tiga-pedoman-bagi-pengurus-nu

PPQ Al-Amin Purwokerto

Sabtu, 26 Oktober 2013

KHR Asad Syamsul Arifin, Wali yang Menyayangi Gus Dur Dengan Cara Musuhan

PPQ Al-Amin Purwokerto - “Ibarat imam shalat, Gus Dur sudah batal kentut. Karena itu tak perlu lagi bermakmum kepadanya.” Beginilah salah satu ungkapan sikap KHR As’ad Syamsul Arifin, sebagaimana dikutip media nasional beberapa hari pasca Muktamar NU ke-28 di Krapyak, 26 tahun lalu.

Konon, KHR As’ad kecewa besar pada lima tahun kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU. Gus Dur dianggap kebablasan. Pemikiran dan tindak-tanduk liberalnya diniliai sudah keluar dari rel Aswaja.

Dari berita yang dimuat di koran, pemikiran dan tindak-tanduk liberal yang dialamatkan pada Gus Dur antara lain terkait keikutsertaannya sebagai juri Festival Film Indonesia. KHR As’ad bahkan menyebut Gus Dur kiai ketoprak lantaran aksinya ini. Lalu terkait wacana Gus Dur mengubah salam“assalamu’alaikum”menjadi “selamat pagi” (Kisah Dibalik Fitnah ke Gus Dur Mengganti Assalamualaikum), dan beberapa kontroversi lain yang mengiringi perjalanan kepemimpinan Gus Dur.

KHR Asad Syamsul Arifin, Wali yang Menyayangi Gus Dur Dengan Cara Musuhan - PPQ Al-Amin Purwokerto
KHR Asad Syamsul Arifin, Wali yang Menyayangi Gus Dur Dengan Cara Musuhan - PPQ Al-Amin Purwokerto


KHR Asad Syamsul Arifin, Wali yang Menyayangi Gus Dur Dengan Cara Musuhan

Puncak ketidakcocokan Ketua Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar NU ke-27 ini terjadi pada hari terakhir Muktamar Krapyak, Rabu siang, 29 Nopember 1989. Di hadapan media di arena Muktamar yang telah aklamasi memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini, lantang menyatakan diri mufaraqah (memisahkan diri).

Ketidakcocokan KHR As’ad dengan Gus Dur sebenarnya sudah lama. Keputusan mufaraqah bisa dibilang lebih merupakan kulminasi dari perselisihan panjang antar keduanya. Perselisihan awal setidaknya sudah dimulai ketika pleno pertama PBNU hasil Muktamar Situbondo, di Pesantren Tebuireng, Jombang pada Januari 1985. Keputusan pleno menyatakan bahwa yang berhak mewakili NU keluar adalah Rais ‘Aam KH Ahmad Shiddiq dan Ketua Umum Tanfidziyah KH Abdurrahman Wahid.

PPQ Al-Amin Purwokerto

PPQ Al-Amin Purwokerto

Keputusan ini dinilai membatasi gerak dan langkah ulama sepuh lain, terutama KHR As’ad yang sebelumnya dikenal dekat dengan Presiden Soeharto dan menteri-menterinya.

Beberapa kontroversi Gus Dur lainnya sepanjang 1984-1989 semisal; keterlibatan Gus Dur menjadi ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), kesediaan membuka Malam Puisi Yesus Kristus dan kecenderungan membela Syi’ah, juga turut menjadi pemicu kerenggangan komunikasi antara KHR As’ad beserta kiai-kiai sepuh lain dengan Gus Dur. Hal ini berujung peristiwa ‘gugatan’ pada Gus Dur di Pesantren Darut-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, pada Maret 1989.

Sebuah fakta politik menarik, menyusul mufaraqah KHR As’ad, Gus Dur justru makin gencar melawan Orde Baru. Gus Dur makin aktif mendukung para aktivis melawan pemerintah. Menjelang pemilu 1992, di tengah kuatnya kekuasaan Soeharto, Gus Dur bahkan berani terang-terangan menolak penguasa negeri 32 tahun itu untuk dipilih kembali. Gus Dur terus menyerang Pak Harto hingga lengser keprabon pada 1998.

Banyak literatur menyebut, KHR As’ad Syamsul Arifin adalah sosok wali quthub. Kesaksian KH Mujib Ridwan misalnya, menyebut jika KHR As’ad pernah menangis tersedu-sedu lantaran ‘kedoknya’ terbuka, usai dibacakan sebuah surat Al-Qur’an.

KH Mujib Ridwan adalah putra KH Ridwan Abdullah, pencipta lambang NU, yang lebih 20 tahun mengabdi pada KH As’ad Syamsul Arifin. Di luar kharisma keulamaannya, KHR As’ad adalah seorang guru dan pengamal 17 jenis tarekat. Meskipun demikian beliau tidak pernah memaklumkan diri sebagai seorang mursyid tarekat di depan umum. KHR As’ad juga mendalami ilmu kanuragan yang membuat banyak bajingan bertekuk lutut kepadanya.

Konon, kewalian KHR As’ad inilah yang melatarbelakangi beberapa tindakannya sehingga tidak mudah dimengerti khalayak awam. Satu di antaranya menyangkut kerenggangan KHR As’ad dan Gus Dur. Kala itu tentu saja tak sedikit nahdliyin di akar rumput yang kebingungan.

Meski tak sampai menciptakan kubu-kubu yang saling berseberangan, konflik panjang dua tokoh beda generasi ini memunculkan pertanyaan di banyak pihak. Tak terkecuali rombongan Kepala Sekolah SLTP dan SLTA Ma’arif Kotamadya Surabaya. Suatu hari, pada 15 April 1987, mereka serombongan sowan ke ndalem KHR As’ad di kompleks Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Sesampai di ndalem, rombongan diterima langsung oleh KHR As’ad yang kala itu didampingi KH Mudjib Ridwan. Rombongan pun mendapat penjelasan langsung bahwa beliau mufaraqah dengan Gus Dur karena Gus Dur kiai ketoprak. Dengan menjadi juri FFI di Bali, Gus Dur dinilai sudah tidak sesuai dengan kakeknya KH Hasyim Asy’ari, dan penjelasan lain-lain seterusnya sebagaimana yang sudah beredar di media massa. (Baca lengkap kisah ini: Alasan Kiai As'ad Memusuhi Gus Dur)

Dari Situbondo, rombongan meneruskan silaturahim berikutnya ke Jember kendalem KH Ahmad Shiddiq. Di hadapan Rais ‘Aam PBNU ini, disampaikanlah panjang lebar kebingungan-kebingungan mereka mengenai hubungan KHR As’ad dengan Gus Dur.

Dan beginilah dawuh KH Ahmad Shiddiq. “Kulo, dan sampean-sampean semua—seraya menunjuk satu persatu rombongan yang hadir—bukan levelnya. Bukan kelasnya menilai Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin.”

Demikianlah yang pada intinya, nahdliyin yang belum masuk levelnya, tidak pantas menilai sikap mufaraqah KHR As’ad dengan Gus Dur. Keduanya memiliki maqom (tingkatan spiritual) yang tinggi di atas kebanyakan.

Menyikapi friksi di tingkatan elit NU yang kian membingungkan ini, suatu ketika beberapa anggota Dewan Khas IPSNU Pagar Nusa dipimpin H. Suharbillah memutuskan sowan ke KH Khotib Umar, Pengasuh Pesantren Raudhatul Ulum Sumberwiringin, Sukowono, Jember. IPSNU Pagar Nusa kebetulan saat itu baru saja dideklarasikan. KH Khotib Umar adalah salah seorang ulama pejuang yangwara’ yang sangat disegani di kalangan Nahdliyin.

Kepada para pendekar Pencak Silat NU ini, KH Khotib Umar bertutur bahwa suatu waktu beliau menghadap pada KHR As’ad Syamsul Arifin bermaksud meminta penjelasan mengenai masalah dengan Gus Dur.

Dan KHR As’ad dawuh bahwa memusuhi Gus Dur merupakan strategi menghadapi rezim Orde Baru. Supaya Gus Dur tidak dihabisi maka beliau memusuhi Gus Dur. Untuk menyelamatkan beliau. “Saya dengan Gus Dur hanya berbeda dalam siyasi, politik! Mufaraqah bukan berarti benci Gus Dur. Malah saya sangat mengasihi Gus Dur. Saya khawatir kalau Gus Dur dipenjara oleh penguasa—karena sikap kritisnya­—lalu siapa yang akan membela? Demikian dawuh sang wali quthub. [PPQ Al-Amin Purwokerto] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/khr-asad-syamsul-arifin-wali-yang-menyayangi-gus-dur-dengan-cara-musuhan.html

Jumat, 05 April 2013

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam

Sleman, PPQ Al-Amin Purwokerto. Keberadaan pondok pesantren dalam rentang sejarahnya perlu selalu dibaca sebagai warisan dan juga kekayaan budaya-intelektual Nusantara. Oleh karena peran sejarah yang dimainkannya, dalam sejumlah aspek tertentu, pesantren perlu dipandang sebagai benteng pertahanan kebudayaan itu sendiri.

Demikian KH Jazilus Sakhok Ph.D yang akrab disapa Gus Sakhok membuka diskusi bersama tamu kunjungan dari APTEP (Asia Pasific Theologi Encounter Programe) di STAI Sunan Pandanaran, Yogyakarta, Jumat (8/05), pagi.

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)


Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam

"Pesantren merupakan institusi pendidikan tertua di Indonesia yang bertujuan untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral dan nilai Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari" terang Gus Sakhok.

Ia menjelaskan, pesantren merupakan hasil pergulatan dan dialektika kebudayaan yang kreatif, antara tradisi, masyarakat, dan pola interaksi kiai-santri-kitab kuning. Karenanya keunikan pesantren juga terlihat pada sifat akulturatif yang menghargai kultur dan tradisi lokal secara halus dan kreatif, sehingga terhindar dari konflik.

PPQ Al-Amin Purwokerto

PPQ Al-Amin Purwokerto

"Salah satu unsur dari pesantren yang berperan penting dalam membentuk karakter Islam yang jauh dari karakteristik ekstrem dan radikal adalah kitab kuning. Kitab kuning adalah tradisi klasik warisan Wali Songo dan para ulama Nusantara. Kitab kuning itu mencermikan kelembutan Islam, sebab terdapat akulturasi budaya di dalamnya," imbuhnya.

Gus Sakhok mengatakan, kitab kuning difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai rujukan dan paduan nilai-nilai universal dalam menyikapi perubahan zaman. Aspek dinamis yang diperlihatkan kitab kuning adalah adanya transfer pembentukan tradisi keilmuan tauhid-fiqih-sufisme yang didukung penguasaan ilmu-ilmu instrumental, seperti nahwu dan sharaf (adab).

"Karenanya, tanpa kitab kuning dalam pengertian yang lebih luas, tradisi intelektual di Indonesia agaknya sulit untuk keluar dari kecenderungan ekstremitas pemahaman keagamaan," pungkasnya. (Anwar Kurniawan/Mahbib)

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59394/hasil-akulturasi-kitab-kuning-cerminkan-kelembutan-islam

PPQ Al-Amin Purwokerto

Selasa, 25 Desember 2007

Jadi Aktivis hingga Tua, Ini Kisah Hj. Basyiroh Shoimuri

Solo, PPQ Al-Amin Purwokerto. Mestinya hampir setiap tahun saya memiliki kesempatan bersua dengan tokoh kelahiran Boyolali, 9 Agustus 1937 itu. Sebab hampir saban tahun, pemilik nama lengkap Nyai Hj. Basyiroh Zawawi tersebut, mengunjungi Kota Solo, terutama saat diadakannya peringatan haul kakeknya, salah satu tokoh perintis NU Solo, KH Ahmad Siradj.

Namun, kesempatan bertemu dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama kedua tersebut, justru terjadi tiga tahun silam, saat penulis sowan ke kediamannya di daerah Jenu, Tuban. Sebuah wilayah yang terletak di pesisir utara, yang konon memiliki akronim nama jelas NU.

Jadi Aktivis hingga Tua, Ini Kisah Hj. Basyiroh Shoimuri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Aktivis hingga Tua, Ini Kisah Hj. Basyiroh Shoimuri (Sumber Gambar : Nu Online)


Jadi Aktivis hingga Tua, Ini Kisah Hj. Basyiroh Shoimuri

Kala itu, saya tiba di kediamannya, dalam suasana Lebaran. Saya memperkenalkan diri secara singkat. Setelah mengetahui maksud kedatangan saya, mulailah ia bercerita mengenai perjalanan singkat hidupnya, serta kisah suka dukanya kala berjuang di IPPNU.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Meskipun raut mukanya menunjukkan usianya yang sudah uzur, tapi cara bicaranya yang ala aktivis masih melekat kuat: tegas dan bersemangat! Basyiroh merupakan salah satu dari kader IPPNU generasi awal. Bersama dengan Umroh Mahfudzoh dan kawan-kawan lainnya di Pesantren Masyhudiyah Keprabon Solo, ia menjadi saksi terbentuknya organisasi yang dulu bernama IPNU Putri itu.

Pada zaman tersebut, menurut dia, perjuangan bersama IPPNU sangatlah berat. Namun, minimnya fasilitas bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk mengadakan pertemuan. Kami sering pergi dengan jalan kaki dari Keprabon ke Kantor PCNU Solo (di Jalan Honggowongso,-red), kenang Nyai Basyiroh.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Keluarga Pejuang NU

Pada buku Sejarah Perjalanan IPPNU 1955-2000 (diteerbitkan PP IPPNU, 2000), Nyai Basyiroh dikenal dengan nama Basyiroh Shoimuri. Nama yang melekat di belakangnya, merupakan nama ayahnya, yang tak lain KH Shoimuri. Setelah menikah dengan KH Zawawi, namanya lebih dikenal dengan sebutan Basyirah Zawawi, sampai sekarang.

KH Shoimuri ini merupakan seorang ulama kharismatik dari Boyolali, putera dari KH Ahmad Siradj Solo. Semasa hidupnya, Kiai Shoimuri pernah mengemban amanah sebagai Rais Syuriah PCNU Boyolali.

Putera-puteri Kiai Shomuri pun banyak yang mengikuti jejak ayah mereka, mengabdi di NU. Anak-anaknya selain Basyiroh, yakni: Muhammad, Tamam (pernah menjadi Rais Syuriah PCNU Boyolali), Karimah, Mujab, Sabiq, Muhsinah (Istri KH Cholil Bisri Rembang), Makin (Pesantren Raudhatut Thalibin Putri Leteh Rembang) dan Mubin (pernah menjadi Ketua Tanfidziyah PCNU Solo).

Kiai Shoimuri pula yang mendorong Basyirah yang masih remaja, untuk mengenyam pendidikan sekolah. Sejak usia 5 tahun, Basyiroh dititipkan kepada kakeknya, Kiai Siradj, yang juga pengasuh Pesantren NU 001.

Di Solo, ia disekolahkan di RA NDM selama 2 tahun dan MI NDM selama 6 tahun. Lalu, pada tahun 1950, Basyiroh melanjutkan pendidikannya di Muallimat pertama (3 tahun) dan Muallimat atas (1 tahun), yang kesemuanya ditempuh di Nadhlatul Muslimat (NDM) Solo.

Peletak Dasar Organisasi

NDM sendiri merupakan sekolah yang didirikan para tokoh Muslimat NU Solo, salah satunya Machmudah Mawardi pada tahun 1930-an. Catatan pada artikel ini, sekaligus menjadi ralat pada buku Sejarah Perjalanan IPPNU 1955-2000 (PP IPPNU, 2000) di mana seharusnya NDM, akan tetapi pada buku tersebut ditulis MDM.

Nama NDM patut dicatat pada sejarah IPPNU, sebab dari sekolah tersebut sejumlah tokoh IPPNU generasi awal muncul. NDM ini dulu dijadikan rujukan pelajar dari berbagai daerah, tutur Nyai Basyiroh.

Semasa berjuang sebagai ketua PP IPPNU, Basyiroh dikenal sebagai sosok peletak dasar organisasi. Mewarisi 30 cabang bentukan Umroh, Basyiroh berhasil melipatduakan hingga 60 cabang pada akhir kepengurusannya.

Kepengurusan periode pertama yang diemban hingga tahun 1958, digunakan Basyiroh untuk memperluas cabang-cabang IPPNU. Dalam setiap forum nasional di mana keluarga besar NU hadir, Basyiroh selalu menyempatkan diri memperkenalkan dan meminta bantuan pendirian IPPNU di tempat asal cabang-cabang yang bersangkutan.

Setelah usai pengabdiannya di IPPNU, ia sempat aktif di Fatayat, hingga akhirnya ia melanjutkan pengabdiannya di Muslimat NU. Tercatat dirinya pernah menjadi Ketua Muslimat PCNU Tuban. Selain itu, ia juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Tuban.

Mengabdi di Usia Senja

Kini, di usianya yang hampir genap 80 tahun, Nyai Basyiroh mendedikasikan hidupnya untuk menemani para murid dan santri di Madrasah Al-Hidayah, yang didirikannya bersama mendiang suami. Di lain waktu, ia juga masih mengisi pengajian ibu-ibu di wilayah Tuban. Nampaknya dunia dakwah dan sosial terus menjadi bagian penting dari hidupnya.

Saat penulis sowan ke kediamanya, tercatat ia masih memiliki jadwal mengisi pengajian yang cukup padat. Setiap Kamis, ia mengelola Majelis Taklim Al-Istiqomah Jenu. Jumat Pahing ia mengisi pengajian di Masjid Agung Tuban. Kemudian Jumat Pahing di salah satu mushola Desa Glodog, Palang, dan masih banyak lagi kegiatan lain yang ia ikuti.

Sebab moto yang saya pegang: menjadi manusia yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa, ujarnya.

Moto tersebut menjadi pegangan hidupnya, sehingga meski usianya semakin tua, namun tak menyurutkan langkahnya untuk tetap ikut berjuang dan memberikan manfaat bagi sesama.

Obrolan kami, pada hari Jumat tersebut dipungkasi santapan siang bersana dengan menu masakan ikan laut khas Jenu! Jelas NU!(Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76141/jadi-aktivis-hingga-tua-ini-kisah-hj-basyiroh-shoimuri-

PPQ Al-Amin Purwokerto

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PPQ Al-Amin Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PPQ Al-Amin Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PPQ Al-Amin Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock