Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 April 2017

CBP IPNU: Narkoba Bencana Kemanusiaan

Jakarta, PPQ Al-Amin Purwokerto. Komandan Nasional Corp Brigade Pembangunan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (CBP-IPNU) Muhamad Syahrial menyatakan bahwa narkoba atau NAPZA adalah bencana kemanusiaan.

Hal itu diungkapkannya selepas pendidikan dan pelatihan khusus pelajar antinarkoba yang berlangsung Jumat-Ahad, (18-20/5) di Gurmiyati Camp Cijeruk, Bogor, Jawa Barat. Diklatsus tersebut diikuti 130 pelajar se-Jawa, Bali dan Sumatera.

CBP IPNU: Narkoba Bencana Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
CBP IPNU: Narkoba Bencana Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)


CBP IPNU: Narkoba Bencana Kemanusiaan

Narkoba itu melebihi bencana tsunami, apalagi sekarang banyak kalangan pelajar, pemuda, yang jadi korbanya. Jika generasi mudanya hancur, otomatis masa depan bangsa ini hancur juga, tegasnya.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Menurut komandan CBP IPNU yang juga Ketua Umum Pencinta Alam Driwala Indonesia ini, penggunaan narkoba di kalangan pelajar sangat memprihatinkan sehingga pemerintah harus lebih serius menanganianya.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Tapi, tambahnya, pemerintah tidak bisa bekerja sandirian, harus dibantu masyarakat dan organisasi pemuda dan pelajar seperti IPNU.

Diklatsus tersebut, sambung kader IPNU asal Mojokerto ini, adalah pelatihan untuk pelatih (ToT) yang akan disebar di berbagai daerah. Mereka diharapkan menyebarkan pengetahuan bahaya narkoba kepada pelajar, santri, pemuda dan masyarakat umum.

RTL (Rencana tindak lanjut, red) dari diklatsus tersebut adalah aksi nasional pada tanggal 26 Juni nanti, pada hari antinarkotika sedunia, tambahnya.

Diklatsus tersebut dihadiri Direktur Advokasi Deputi Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), Brigjen Dr Victor Pudjiadi, Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Pemuda, Drs. Imam Gunawan dan Sudirman S.Ag, dari Pusat Pencegahan Badan Narkotika Nasional (Pus Cegah BNN)

Redaktur : Syaifullah Amin

Penulis : Abdullah Alawi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38042/cbp-ipnu-narkoba-bencana-kemanusiaan

PPQ Al-Amin Purwokerto

Jumat, 13 Mei 2016

Koruptor Perlu Divonis Dua Kali Lipat dan Dimiskinkan

Jakarta, PPQ Al-Amin Purwokerto. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mendesak agar koruptor yang berasal dari penegak hukum, mendapat hukuman dua kali lipat dibandingkan dengan yang lain.

Karena mereka ngerti hukum, katanya di gedung PBNU, Kamis.

Koruptor Perlu Divonis Dua Kali Lipat dan Dimiskinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Koruptor Perlu Divonis Dua Kali Lipat dan Dimiskinkan (Sumber Gambar : Nu Online)


Koruptor Perlu Divonis Dua Kali Lipat dan Dimiskinkan

Publik kembali dikejutkan dengan tertangkapnya ketua Mahkamah Konstitusi (MK), lembaga yang selama ini sangat dihormati. Meskipun demikian, Kiai Said tidak secara khusus merujuk pada figur ketua MK, melainkan semua pelaku koruptor karena Indonesia sudah dalam keadaan darurat korupsi.

PBNU dalam munas tahun 2003, memutuskan koruptor tidak layak disholati oleh para kiai dan komitmen terhadap pemberantasan korupsi ini kembali ditegaskan dalam munas NU di Cirebon 2012 lalu.

PPQ Al-Amin Purwokerto

PPQ Al-Amin Purwokerto

Kita mendukung sepenuhnya langkah KPK dalam memberantas korupsi, tegasnya. (mukafi niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47421/koruptor-perlu-divonis-dua-kali-lipat-dan-dimiskinkan

PPQ Al-Amin Purwokerto

Senin, 15 Februari 2016

Kata Netizen: Kalau Semua Jadi NU, Sepi!

PPQ Al-Amin Purwokerto - Tagar #MendadakNU yang menjadi trending topic pada 1-2 Februari 2017 adalah bukti kalau Nahdlatul Ulama (NU) masih selalu dinantikan perannya menjaga suasana politik dan iklim sosial negeri ini agar lebih ayem, adem dan tanpa tensi.

Kata Netizen: Kalau Semua Jadi NU, Sepi!
Kata Netizen: Kalau Semua Jadi NU, Sepi!


Kegaduhan negeri ini selalu disulut oleh kelompok-kelompok radikal yang (konon) diciptakan bukan dari adam, tapi dari tanah sengketa karena hamil (ingin) besar atas terciptanya revolusi, perang saudara lalu menang sendiri, "mereka itu seperti TOA," kata salah satu netizen di Fanpage PPQ Al-Amin Purwokerto, Kamis (02/02/2017).

Tamsil TOA, katanya, nyaring bersuara saja, tapi nol pruthul, tidak ada efeknya kecuali keras dan lantang teriak saja. Nah, dalam kondisi ini, NU selalu dijadikan sebagai pamadam, "saya yang non muslim bisa bedain kok mana FPI mana NU. Beda jaauuuuuh ahklaknya NU, kyai nya saya hormati, santun akhlaknya jempol. Si kaum sumbu pendek mendadak NU. Watak dan karakter NU mau dicopas kelihatan imitasinya," tulis Heiske Palar Sumayku, salah satu likers Page PPQ Al-Amin Purwokerto.

Sayangnya, setiap sikap yang diambil oleh pimpinan NU, selalu diterima beda tafsir oleh sumbu pendek ber-TOA itu. Ketika diam dalam sebuah kasus, dianggap lembek, namun ketika tegas, dianggap memihak juga. Karena itulah, menurut Cak Fahmi, Netizen NU Jawa Timur, warga NU jangan sampai baper (bawa perasaan) pada satu kelompok tertentu lalu memusuhi kelompok lain.

"NU memang tidak boleh terus-menerus diam ketika diseret kanan-kiri, contoh kasus Yai Ma'ruf Amin kemarin, NU jadi bulan-bulanan berbagai kelompok dengan banyak kepentingan. Ngintip anak-anak FPI, mereka semula ngompori Banser, sekarang setelah NU bersikap ayem, balik nuduh Banser tidak tegas. Ngintip Ahokers, masih memuja NU tapi memaki Yai Ma'ruf. NU berada di antara dua kelompok yang berpotensi menikam NU lagi," terang Fahmi kepada PPQ Al-Amin Purwokerto, Kamis (02/02/2017) malam via WhatsApp.

Ada Netizen NU yang mengeluh karena akhir-akhir ini energi NU mulai dikuras dan dipinjam "tangannya" untuk naboki Ahok, musuh bagi mereka yang ingin gaduh. Atas alasan itu, muncul harapan semoga semua penduduk muslim negeri ini jadi warga NU dengan akhlak kiai NU semua.

Ujaran populer di kalangan netizen atas harapan itu adalah, "semuanya akan NU pada waktunya", "semua akan butuh NU pada akhirnya", "semuanya akan berterimakasih kepada NU pada waktunya", dan ujaran lain senada.

Namun, bagi Fathekah, facebookers yang nge-like page Komunitas Islam Nusantara, jika semua jadi NU, sepi. "Dengan adanya yang lain, jadi semangat mengikuti kajian-kajian tentang NU, mengenal tokoh, mengenalkan ke anak tentang NU dll," tulisnya. Ini screenshoot nya:

Karena itulah, Cak Fahmi mengingatkan agar hati-hati dalam bermedia sosial, "omongan Ansor, Banser, PBNU dan semua elemen NU lagi jadi sorotan dan digunakan sebagai pembenaran sikap masing-masing kelompok. Ini bahaya yang seringkali kurang disadari kita semua," katanya. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/kata-netizen-kalau-semua-jadi-nu-sepi.html

Jumat, 04 Desember 2015

Banser Harus Jaga nama Baik NU dan Kiai

Kudus, PPQ Al-Amin PurwokertoSatuan Koordinator Cabang (Satkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kudus resmi dikukuhkan. Pengukuhan digelar di Aula Balai Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Sabtu (29/7/2016) malam.

Pengukuhan dilakukan oleh Komandan Satkorwil Jawa Tengah, Hasyim Asyari disaksikan oleh Rais Syuriyah PCNU Kudus KH M Ulil Albab Arwani, perwakilan dari badan otonom (banom) PCNU, dan ratusan anggota Banser di Kota Kretek itu.

Banser Harus Jaga nama Baik NU dan Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Harus Jaga nama Baik NU dan Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)


Banser Harus Jaga nama Baik NU dan Kiai

Usia melakukan pengukuhan, Hasyim Asyari berpesan agar para anggota Banser menata pikiran dan hati, yaitu semata-mata mencari ridlo Allah SWT. Ini yang paling penting. Selain itu, Banser adalah organisasi, sehingga pimpinan harus memahami aturan organisasi, katanya.

Ayik, sapaan akrab Komandan Banser Satkorwil Jawa Tengah itu, menambahkan, Banser sebagai badan semiotonom Gerakan Pemuda Ansor tidak boleh berjalan atau bergerak sendiri, tanpa sepengetahuan Ansor. Selain itu, Banser juga bagian dari NU, maka apa pun yang dilakukan, harus sepengetahuan NU, tegasnya.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Lebih lanjut Ayik memaparkan, lantaran Banser itu bernaung di bawah bendera besar NU, maka menjaga baik nama (marwah) organisasi dan kiai adalah sebuah keniscayaan. Karena kita di bawah naungan kiai, maka kegiatan yang tidak boleh dilupakan adalah mengaji. Kalau dekat dengan kiai tapi tidak bisa mengaji, ya ngisin-ngisini (memalukan-Red), pesannya.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Kendati begitu, ia juga mengingatkan agar para anggota Banser selalu siap mengemban tugas yang ada. Banser itu ujung tombaknya Ansor dan NU, maka harus sering latihan. Pengurus harus ngurusi, bukan diurus, apalagi sampai jadi urusan, tegasnya dalam pengukuhan yang dirangkai dengan halalbihalal tersebut.

Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Kudus, KH. M. Ulil Albab Arwani mengatakan, Ansor dan Banser adalah generasi penerus yang mengganti pengurus NU di masa mendatang. Karenanya, kader Ansor harus menata dan memperbaiki organisasi menjadi baik.

"Baik tidaknya NU mendatang tergantung Ansor saat ini. Perbaiki diri, bentengi keluarga dengan mempertahankan Aswaja dari paham aliran sesat," pesannya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70092/banser-harus-jaga-nama-baik-nu-dan-kiai

PPQ Al-Amin Purwokerto

Kamis, 11 Desember 2014

Habib Syech: Nasihat Mengena karena Faktor Keikhlasan

Solo, PPQ Al-Amin Purwokerto. Banyaknya dai yang memberikan kultum dan ceramah, khususnya di bulan Ramadhan ini, mestinya membuat umat Islam semakin paham akan ajaran Islam. Namun, terkadang yang terjadi justru sebaliknya. Banyaknya kalimat nasihat yang disampaikan, tidak berbanding lurus dengan banyaknya masyarakat yang mengamalkannya.

Hal tersebut, menurut keterangan yang terdapat dalam kitab al-Hikmah karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, disebabkan karena kurangnya keikhlasan para dai dalam menyampaikan nasihatnya.

Habib Syech: Nasihat Mengena karena Faktor Keikhlasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Nasihat Mengena karena Faktor Keikhlasan (Sumber Gambar : Nu Online)


Habib Syech: Nasihat Mengena karena Faktor Keikhlasan

Kata-kata nasihat orang yang ikhlas, meski sederhana akan mengena. Sebaliknya, ahli riya, kalimat nasihatnya akan dibuat-dibuat, justru menjadikan para pendengarnya gelap hati, terang Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa, Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf pada kajian yang diselenggarakan menjelang sahur di Gedung Bustanul Asyiqin Solo, Ahad (12/7) lalu.

Lebih lanjut dijelaskan Mustasyar PWNU Jateng itu, keikhlasan kalam dari para orang shaleh dan ulama menjadikan kalam mereka selama ribuan tahun sampai sekarang tetap diperhatikan dan dipelajari umat Islam.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Bahasa nasihat itu bahasa ikhlas, bukan sekedar pintar bicara atau indahnya bahasa. Kita lihat Nabi saw, kalau menyampaikan sederhana tapi maknanya dalam. Misal ketika ditanya apa itu iman? Dijawab Nabi, iman itu menjaga Islam, papar Habib Syech.

Kajian menjelang sahur ini diselenggarakan tiap dini hari Selama bulan Ramadhan di Gedung Bustanul Asyiqin Solo. Pada kegiatan tersebut menghadirkan beberapa ustadz antara lain Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, Kiai Anshori (LBM PCNU Solo), dan lainnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

PPQ Al-Amin Purwokerto

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60915/habib-syech-nasihat-mengena-karena-faktor-keikhlasan

PPQ Al-Amin Purwokerto

Sabtu, 26 Oktober 2013

KHR Asad Syamsul Arifin, Wali yang Menyayangi Gus Dur Dengan Cara Musuhan

PPQ Al-Amin Purwokerto - “Ibarat imam shalat, Gus Dur sudah batal kentut. Karena itu tak perlu lagi bermakmum kepadanya.” Beginilah salah satu ungkapan sikap KHR As’ad Syamsul Arifin, sebagaimana dikutip media nasional beberapa hari pasca Muktamar NU ke-28 di Krapyak, 26 tahun lalu.

Konon, KHR As’ad kecewa besar pada lima tahun kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU. Gus Dur dianggap kebablasan. Pemikiran dan tindak-tanduk liberalnya diniliai sudah keluar dari rel Aswaja.

Dari berita yang dimuat di koran, pemikiran dan tindak-tanduk liberal yang dialamatkan pada Gus Dur antara lain terkait keikutsertaannya sebagai juri Festival Film Indonesia. KHR As’ad bahkan menyebut Gus Dur kiai ketoprak lantaran aksinya ini. Lalu terkait wacana Gus Dur mengubah salam“assalamu’alaikum”menjadi “selamat pagi” (Kisah Dibalik Fitnah ke Gus Dur Mengganti Assalamualaikum), dan beberapa kontroversi lain yang mengiringi perjalanan kepemimpinan Gus Dur.

KHR Asad Syamsul Arifin, Wali yang Menyayangi Gus Dur Dengan Cara Musuhan - PPQ Al-Amin Purwokerto
KHR Asad Syamsul Arifin, Wali yang Menyayangi Gus Dur Dengan Cara Musuhan - PPQ Al-Amin Purwokerto


KHR Asad Syamsul Arifin, Wali yang Menyayangi Gus Dur Dengan Cara Musuhan

Puncak ketidakcocokan Ketua Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar NU ke-27 ini terjadi pada hari terakhir Muktamar Krapyak, Rabu siang, 29 Nopember 1989. Di hadapan media di arena Muktamar yang telah aklamasi memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini, lantang menyatakan diri mufaraqah (memisahkan diri).

Ketidakcocokan KHR As’ad dengan Gus Dur sebenarnya sudah lama. Keputusan mufaraqah bisa dibilang lebih merupakan kulminasi dari perselisihan panjang antar keduanya. Perselisihan awal setidaknya sudah dimulai ketika pleno pertama PBNU hasil Muktamar Situbondo, di Pesantren Tebuireng, Jombang pada Januari 1985. Keputusan pleno menyatakan bahwa yang berhak mewakili NU keluar adalah Rais ‘Aam KH Ahmad Shiddiq dan Ketua Umum Tanfidziyah KH Abdurrahman Wahid.

PPQ Al-Amin Purwokerto

PPQ Al-Amin Purwokerto

Keputusan ini dinilai membatasi gerak dan langkah ulama sepuh lain, terutama KHR As’ad yang sebelumnya dikenal dekat dengan Presiden Soeharto dan menteri-menterinya.

Beberapa kontroversi Gus Dur lainnya sepanjang 1984-1989 semisal; keterlibatan Gus Dur menjadi ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), kesediaan membuka Malam Puisi Yesus Kristus dan kecenderungan membela Syi’ah, juga turut menjadi pemicu kerenggangan komunikasi antara KHR As’ad beserta kiai-kiai sepuh lain dengan Gus Dur. Hal ini berujung peristiwa ‘gugatan’ pada Gus Dur di Pesantren Darut-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, pada Maret 1989.

Sebuah fakta politik menarik, menyusul mufaraqah KHR As’ad, Gus Dur justru makin gencar melawan Orde Baru. Gus Dur makin aktif mendukung para aktivis melawan pemerintah. Menjelang pemilu 1992, di tengah kuatnya kekuasaan Soeharto, Gus Dur bahkan berani terang-terangan menolak penguasa negeri 32 tahun itu untuk dipilih kembali. Gus Dur terus menyerang Pak Harto hingga lengser keprabon pada 1998.

Banyak literatur menyebut, KHR As’ad Syamsul Arifin adalah sosok wali quthub. Kesaksian KH Mujib Ridwan misalnya, menyebut jika KHR As’ad pernah menangis tersedu-sedu lantaran ‘kedoknya’ terbuka, usai dibacakan sebuah surat Al-Qur’an.

KH Mujib Ridwan adalah putra KH Ridwan Abdullah, pencipta lambang NU, yang lebih 20 tahun mengabdi pada KH As’ad Syamsul Arifin. Di luar kharisma keulamaannya, KHR As’ad adalah seorang guru dan pengamal 17 jenis tarekat. Meskipun demikian beliau tidak pernah memaklumkan diri sebagai seorang mursyid tarekat di depan umum. KHR As’ad juga mendalami ilmu kanuragan yang membuat banyak bajingan bertekuk lutut kepadanya.

Konon, kewalian KHR As’ad inilah yang melatarbelakangi beberapa tindakannya sehingga tidak mudah dimengerti khalayak awam. Satu di antaranya menyangkut kerenggangan KHR As’ad dan Gus Dur. Kala itu tentu saja tak sedikit nahdliyin di akar rumput yang kebingungan.

Meski tak sampai menciptakan kubu-kubu yang saling berseberangan, konflik panjang dua tokoh beda generasi ini memunculkan pertanyaan di banyak pihak. Tak terkecuali rombongan Kepala Sekolah SLTP dan SLTA Ma’arif Kotamadya Surabaya. Suatu hari, pada 15 April 1987, mereka serombongan sowan ke ndalem KHR As’ad di kompleks Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Sesampai di ndalem, rombongan diterima langsung oleh KHR As’ad yang kala itu didampingi KH Mudjib Ridwan. Rombongan pun mendapat penjelasan langsung bahwa beliau mufaraqah dengan Gus Dur karena Gus Dur kiai ketoprak. Dengan menjadi juri FFI di Bali, Gus Dur dinilai sudah tidak sesuai dengan kakeknya KH Hasyim Asy’ari, dan penjelasan lain-lain seterusnya sebagaimana yang sudah beredar di media massa. (Baca lengkap kisah ini: Alasan Kiai As'ad Memusuhi Gus Dur)

Dari Situbondo, rombongan meneruskan silaturahim berikutnya ke Jember kendalem KH Ahmad Shiddiq. Di hadapan Rais ‘Aam PBNU ini, disampaikanlah panjang lebar kebingungan-kebingungan mereka mengenai hubungan KHR As’ad dengan Gus Dur.

Dan beginilah dawuh KH Ahmad Shiddiq. “Kulo, dan sampean-sampean semua—seraya menunjuk satu persatu rombongan yang hadir—bukan levelnya. Bukan kelasnya menilai Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin.”

Demikianlah yang pada intinya, nahdliyin yang belum masuk levelnya, tidak pantas menilai sikap mufaraqah KHR As’ad dengan Gus Dur. Keduanya memiliki maqom (tingkatan spiritual) yang tinggi di atas kebanyakan.

Menyikapi friksi di tingkatan elit NU yang kian membingungkan ini, suatu ketika beberapa anggota Dewan Khas IPSNU Pagar Nusa dipimpin H. Suharbillah memutuskan sowan ke KH Khotib Umar, Pengasuh Pesantren Raudhatul Ulum Sumberwiringin, Sukowono, Jember. IPSNU Pagar Nusa kebetulan saat itu baru saja dideklarasikan. KH Khotib Umar adalah salah seorang ulama pejuang yangwara’ yang sangat disegani di kalangan Nahdliyin.

Kepada para pendekar Pencak Silat NU ini, KH Khotib Umar bertutur bahwa suatu waktu beliau menghadap pada KHR As’ad Syamsul Arifin bermaksud meminta penjelasan mengenai masalah dengan Gus Dur.

Dan KHR As’ad dawuh bahwa memusuhi Gus Dur merupakan strategi menghadapi rezim Orde Baru. Supaya Gus Dur tidak dihabisi maka beliau memusuhi Gus Dur. Untuk menyelamatkan beliau. “Saya dengan Gus Dur hanya berbeda dalam siyasi, politik! Mufaraqah bukan berarti benci Gus Dur. Malah saya sangat mengasihi Gus Dur. Saya khawatir kalau Gus Dur dipenjara oleh penguasa—karena sikap kritisnya­—lalu siapa yang akan membela? Demikian dawuh sang wali quthub. [PPQ Al-Amin Purwokerto] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/khr-asad-syamsul-arifin-wali-yang-menyayangi-gus-dur-dengan-cara-musuhan.html

Sabtu, 12 Oktober 2013

Benarkah Pakaian Dibawah Mata Kaki Hukumnya Haram?

Pertanyaan: Benarkah Isbal Haram? Dan benarkah pula ancamannya adalah neraka?

Amir Hamdi, Surabaya.

Jawaban: Berdasarkan pengertian dari Hadisi, Isbal adalah memanjangkan pakaian (sarung/celana) di bawah mata kaki hingga menyentuh tanah. Hadist-hadistnya sangat banyak sekali, diantaranya:

Benarkah Pakaian Dibawah Mata Kaki Hukumnya Haram? - PPQ Al-Amin Purwokerto
Benarkah Pakaian Dibawah Mata Kaki Hukumnya Haram? - PPQ Al-Amin Purwokerto


Benarkah Pakaian Dibawah Mata Kaki Hukumnya Haram?

ثَلاَثٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ الْمُسْبِلُ إِزَارَهُ وَالْمَنَّانُ الَّذِى لاَ يُعْطِى شَيْئًا إِلاَّ مِنَّةً وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ باِلْحَلَفِ الْكَاذِبِ(رواه مسلم رقم 106)

PPQ Al-Amin Purwokerto

“Ada 3 orang yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari kiamat dan tidak dibersihkan oleh Allah, serta mereka mendapat adzab yang pedih yaitu orang yang melakukan Isbal (memanjangkan pakaiannya), orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya dan orang yang bersumpah palsu atas dagangannya”(HR Muslim No 106). Dan hadis:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ (رواه البخاري رقم 5787)

“Pakaian yang di bawah mata kaki maka ada di neraka” (HR Bukhari No 5787)

PPQ Al-Amin Purwokerto

Namun hadist-hadist di atas masih umum, dan terdapat sekian banyak hadis yang mentakhsis (membatasi) keumumannya. Diantaranya:

لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا (رواه البخاري رقم 5451 ) لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ (رواه مسلم رقم 2085)

“Allah tidak akan melihat seseorang di hari kiamat yang memanjangkan pakaiannya (Isbal) secara sombong”(HR Bukhari No 5451 dan Muslim No 2085).

Ketika Rasulullah bersabda demikian, kemudian Abu Bakar bertanya:

فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ gإِنَّكَ لَنْ تَصْنَعَ ذَلِكَ خُيَلاَءَ (رواه البخاري رقم 3465)

“Sesungguhnya salah satu sisi pakaian saya memanjang ke bawah kecuali kalau saya menjaganya? Rasulullah saw menjawab: “Kamu melakukan itu tidak karena sombong” (HR Bukhari No 3465).

Artinya Rasulullah memberi keringanan bahwa jika Isbal dilakukan tidak bertujuan sombong adalah diperbolehkan. Dengan demikian hukumnya Isbal tidak haram dan faktor keharamannya adalah “Sombong”. Maka mengangkat pakaian diatas mata kaki adalah sunah, bukan wajib. Penjelasan ini diulas oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muslim 1/128. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Oleh Ma'ruf Khozin

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/benarkah-isbal-hukumnya-haram.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PPQ Al-Amin Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PPQ Al-Amin Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PPQ Al-Amin Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock