Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Desember 2015

Kaji Dakwah Kontekstual, PCINU Sudan Hadirkan Ulama Mesir

Khartoum, PPQ Al-Amin Purwokerto. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan menyelenggarakan seminar nasional sebagai salah satu rangkaian acara peringatan hari lahir ke-90 NU ke-90 yang dimotori Lembaga Dakwah PCINU Sudan, Senin (22/2).

Dalam seminar yang bertema Kontekstualisasi Dakwah di Era Kebebasan Informasi dan Politik di Aula PCINU Sudan, Khartoum, Sudan, kali ini, hadir sebagai narasumber adalah Syekh Mahmud YasinAl-Azhari, salah satu ulama Mesir yang memiliki peran dakwah besar di negeri Dua Niel ini.

Kaji Dakwah Kontekstual, PCINU Sudan Hadirkan Ulama Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaji Dakwah Kontekstual, PCINU Sudan Hadirkan Ulama Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)


Kaji Dakwah Kontekstual, PCINU Sudan Hadirkan Ulama Mesir

Syekh Mahmud merupakan alumnus Universitas Al-Azhar Mesir yang memiliki majelis ilmu di Sudan. Dalam studinya di Universitas Al-Azhar ia mengambil jurusan usuluddin dan dakwah. Dan pada tingkat magister dan doktoral ia fokus studi di bidang hadist dan ilmu hadist.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Ia yang fokus studi hadits pada tingkat magister dan doktoral ini memaparkan mengenai pembaruan dalam dakwah islamiyah. Pembaruan yang dimaksud adalah pembaruan dalam masalah furu, bukan dalam masalah ushul. Menurutnya, syariat dan hukum yang sudah tetap dapat terpadu dengan kondisi umat saat ini. Sehingga umat mampu menerima penyampaian dakwah dan hukum sesuai tuntunan syariat meski dalam perubahan zaman.

Syekh Mahmud juga menegaskan pentingnya pemahaman yang mendalam bagi para dai dalam menyampaikan dakwahnya, agar materi yang disampaikan mencapai tujuan yang ditargetkan.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Seyogianya para dai lebih mendekatkan jalan dakwah untuk taqorrub ilallah, bukan hanya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan itu maka umat akan mampu menyerap hikmah ilmu yang disampaikannya tuturnya

Ia melanjutkan, bahwa seorang dai seharusnya memiliki tekat yang tinggi dalam misi dakwahnya, dibarengi dengan ilmu yang mumpuni yang didapat dari para perjuangan belajar dari para masyayikh. Pemanfaatan waktu juga menjadi hal utama dalam misi dakwah, sehingga para dai harus mampu memaksimalkan waktunya dalam belajar dan berdakwah.

Pemaparan materi dakwah ini pun berakhir pada pukul 13.20. Acara pun dilanjutkan dengansesi tanya jawab dari peserta seminar. Berkesembatan untuk bertanya kali ini Ust Taufiq dari Awan Syuriah, Muhammad Shiddiq; Wakil PPI Sudan, dan Abdul Muiz; anggota PCINU Sudan. Acara pun diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan oleh PCINU Sudan kepada pembicara DR Mahmud Yasin Al-Azhary.

Rais Syuriah H. Sidik Ismanto dalam kesempatan itu memperkenalkan dan menjelaskan peranan PCINU Sudan dan NU dalam berbagai sisi. Ia juga menyampaikan alasan pemilihan tema besar dalam seminar dakwah ini.

Tema besar dalam seminar kali ini dipilih karena pentingnya pembaharuan dalam menyampaikan dakwah kepada umat, mengingat tradisi, kebudayaan, dan zaman yang berubah, maka sistem dakwahpun harus menyesuaikan dengan polemik yang ada tuturnya.

Acara yang dimulai pukul 11.00 waktu Sudan tersebut dihadiri banyak peserta, di antaranya ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Sudan dan wakilnya, perwakilan Kekeluargaan Mahasiswa Indonesia di Sudan, perwakilan Persatuan Mahasiswa Thailand Selatan, serta mahasiswa dan mahasiswi asal Indonesia. (Muahammad Luqman Hambali/Mahbib)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65971/kaji-dakwah-kontekstual-pcinu-sudan-hadirkan-ulama-mesir

Jumat, 27 Desember 2013

Santri yang Menggendong Nabi Khidzir Itu Adalah Hasyim Asyari

PPQ Al-Amin Purwokerto - Hujan turun dengan begitu deras di Kabupaten Bangkalan saat itu, khususnya di Demangan, pondok pesantren asuhan Syaikhona Kholil al-Bangkalani. Meski hujan mengguyur dengan derasnya, ada saja orang yang bertamu kepada beliau.

Terlihat di antara rerintik hujan yang semakin deras, seorang tua lumpuh dengan susah payah hendak berkunjung menemui Syaikhona Kholil. Syaikhona segera tanggap, beliau lalu memerintahkan santrinya untuk menyusul.

“Adakah di antara kalian yang mau menggendong dan membawa tamuku di luar sana itu?”

Santri yang Menggendong Nabi Khidzir Itu Adalah Hasyim Asyari - PPQ Al-Amin Purwokerto
Santri yang Menggendong Nabi Khidzir Itu Adalah Hasyim Asyari - PPQ Al-Amin Purwokerto


Santri yang Menggendong Nabi Khidzir Itu Adalah Hasyim Asyari

PPQ Al-Amin Purwokerto

“Biar saya saja, Yai,” jawab seorang santri muda mendahului teman-temannya.

Santri muda itu bergegas meloncat menembus rerintik hujan yang semakin deras, menghampiri orang tua itu. Tanpa pikir panjang, ia menggendongnya untuk menemui Syaikhona Kholil.

Dengan sangat akrab, Syaikhona Kholil menyambut tamunya, dan di antara keduanya terjadi dialog empat mata. Tidak beberapa lama, rupanya percakapan mereka telah usai. Syaikhona Kholil mendatangi santri-santrinya untuk meminta bantuan lagi, “Siapakah di antara kalian yang mau membantu orang tua ini untuk kembali pulang?”

PPQ Al-Amin Purwokerto

“Biar saya Yai,” sahut santri yang tadi menggendong orang tua tersebut. lalu santri muda itu dengan penuh rasa takzim menggendongnya keluar pondok pesantren dengan hati-hati sesuai perintah Syaikhona Kholil.

Setelah santri dan tamu tua itu keluar dari kawasan pesantren, Syaikhona Kholil berkata kepada santri-santrinya yang lain, “Santri-santriku, saksikanlah bahwa ilmuku telah dibawa santri itu.”

Dan ternyata yang digendong oleh santri tersebut adalah Nabiyullah Khidir ‘alahis salam yang bersilaturahmi kepada Syaikhona Kholil dan santri yang menggendongnya adalah Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari muda (Pediri Nahdlatul Ulama), yang kemudian mewarisi keilmuan Syaikhona Kholil al-Bangkalani. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Keterangan: Cerita di atas disadur dari buku "Ngopi di Pesantren, Renungan dan Kisah Inspiratif Kiai dan Santri", diterbitkan oleh "TeTES Publishing", Balongjeruk, Kunjar, Kediri, Jawa Timur. Tt @zawiyyahaswaja

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/santri-yang-menggendong-nabi-khidzir-itu-adalah-hasyim-asyari.html

Jumat, 05 Juli 2013

Mantan Gubernur Jateng: Ini Waktu Tepat (Golden Time) Menunjukkan Nahdliyyin Cinta NKRI

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersalaman dengan KH Hanief Ismail Lc, Rois Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang usai mengikuti Silaturahmi Forum Mustasyar di kediaman Dr KH Muslihan Jalan Gondomono no-2 Kokrosono Semarang, belum lama ini PPQ Al-Amin Purwokerto - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang menegaskan akan terus bersinergi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melawan berkembangnya sikap dan perilaku intoleransi di masyarakat.

Apabila perilaku intoleransi dibiarkan membudaya akan membahayakan ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyarariyah. Pada akhirnya akan membahayakan persatuan dan kesatuan serta kedaulatan NKRI.

''Makanya di tahun 2017 ini kami akan memperkuat pengkaderan melalui pendidikan kader berbagai jenjang untuk mengembangkan sikap tasamuh atau toleran, menghargai perbedaan dan pluralisme dan menjadi garda terdepan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),'' tegas KH Hanief Ismail Lc, Rois Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang

Mantan Gubernur Jateng: Ini Waktu Tepat (Golden Time) Menunjukkan Nahdliyyin Cinta NKRI - PPQ Al-Amin Purwokerto
Mantan Gubernur Jateng: Ini Waktu Tepat (Golden Time) Menunjukkan Nahdliyyin Cinta NKRI - PPQ Al-Amin Purwokerto


Mantan Gubernur Jateng: Ini Waktu Tepat (Golden Time) Menunjukkan Nahdliyyin Cinta NKRI

Dia mengatakan hal itu dalam silaturahmi Forum Mustasyar di kediaman Dr KH Muslihan Jalan Gondomono no.2, Kokrosono Semarang belum lama ini.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Ketua Tanfidziyah KH Anasom M.Hum menjelaskan, Silaturahmi Mustasyar diselenggarakan untuk kali pertama dalam rangka mendengarkan masukan, saran dan kritik bagi pengurus agar dalam menjalankan roda organisasi makin terarah dan tepat sasaran.

''Kami sengaja hadirkan para sesepuh agar memberikan kritik dan masukan serta saran kepada pengurus. Dan alhamdulillah semua masukan itu sangat bermanfaat,'' kata dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo itu.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Hadir pada acara itu antara lain Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, mantan Gubernur Jateng Drs H Ali Mufiz MPA, Drs KH Ahmad Hadlor Ikhsan, pengusaha konfeksi KH Mustain, KH Samhudi dan tuan rumah Dr KH Muslihan.

Menurut Kiai Hanief Ismail, PCNU akan bicara ajaran Ahlussunnah Waljamaah yaitu perilaku tasamuh, (toleran), tawazun, dan i'tidal menjaga keseimbangan dan keadilan. ''Sungguh belakangan umat merasa risau dengan ucapan maupun sikap dan perilaku sejumlah orang yang mengabaikan toleransi (intoleran). Ini sangat berbahaya dalam rangka keutuhan NKRI. Sebab sejak awal NKRI dibangun dalam kebhinekaan dan kemajemukan,'' katanya.

Selain perilaku intoleransi yang harus dihadapi adalah faham radikal (tathorruf). Menurut Kiai Hanief, sikap radikal harus dilawan dengan ajaran Islam wasyatiyah atau moderat. ''Kita ini umat Islam yang hidup dan tumbuh di Indonesia. Jadi budaya dan adat istiadat harus dijaga dengan baik. Tidak usah memaksakan perilaku dan budaya impor untuk berkembang di Indonesia,'' tegasnya.

Golden Time

Anggota Mustasyar Drs H Ali Mufiz MPA meminta agar Nahdlatul Ulama jangan pernah berhenti menyuarakan Islam Rahmatan lil alamin. Ajaran Islam yang memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta.

''Jangan biarkan sikap intoleransi dan perilaku radikal berkembang di Indonesia khususnya di Semarang. Siapkan Ansor, Banser, Fatayat, IPNU dan IPPNU untuk berada di garis terdepan bicara soal Islam wasyathiyah atau moderat dan toleran (tasamuh). Dengan begitu otomatis mereka sudah menjaga kedaulatan NKRI,'' tegasnya.

Mantan Gubernur Jateng itu mengakui gerakan yang ingin menyeret ke arah perpecahan dan disintegrasi bangsa sangat jelas terlihat dan dirasakan baik dari arah kanan maupun kiri.

Menurut dia saat ini waktu yang paling tepat (golden time) bagi NU untuk menunjukkan kepada bangsa dan negara tentang kecintaan warga nahdliyyin kepada NKRI.

Sementara itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyampaikan terima kasih kepada para kiai dan alim ulama NU yang terus bersama-sama pemerintah membangun bangsa melalui berbagai kegiatan di masyarakat.

Dia memaparkan beberapa kegiatan besar yang akan dilakukan Pemkot Semarang yaitu Pembangunan Pasar Johar dan mengembalikan Pusat Alon-alon Kota Semarang, Kampung Bahari, Revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas, Bandara Ahmad Yani, Jalan Tol Batang-Semarang dan Semarang-Demak.

Dia meminta para alim ulama NU ikut mengawasi jalannya pemerintahan sehingga apabila terjadi kekeliruan bisa segera diatasi dengan segera tanpa menimbulkan kegaduhan seperti di daerah lain. [PPQ Al-Amin Purwokerto/ agus fathuddin yusuf]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/mantan-gubernur-jateng-ini-waktu-tepat-menunjukkan-nahdliyyin-cinta-nkri.html

Sabtu, 01 Juni 2013

Dosa-Dosa Buya Yahya

PPQ Al-Amin Purwokerto - Masyarakat muslim Cirebon terkenal sebagai warga yang secara kultural bisa hidup damai karena banyak melakukan akulturasi budaya dengan lainnya. Buktinya, hingga sekarang, yang ziarah ke makam Sunan Gunung Jati Cirebon bukan hanya muslim saja. Orang Cina, Konghuchu, Budha juga damai melakukan ritual ziarah ke sana. Jelas, Sunan Gunung Jati adalah simbol pluralisme, cerminan kultur Cirebon.

Dosa-Dosa Buya Yahya
Dosa-Dosa Buya Yahya


Hingga muncullah nama Yahya Arif Zainal, yang disiarkan oleh murid-murid atas pintanya, dipanggil Buya. Sebutan yang tidak lazim bagi seusianya. Kalangan muda NU Cirebon keberatan dengan kehadiran Yahya sejak tahun 2006. Bukan cara dakwahnya yang disoal, namun isi dakwahnya mengusik ketenangan warga, nahdliyyin khususnya.

Dia datang ke Cirebon tidak punya apa-apa. Hingga kemudian ia bertemu dengan salah satu pengurus PBNU yang kaya asal Cirebon. Ia bukan santri, namun melihat Yahya adalah santri yang dianggapnya santun, pintar, ia tertarik membantu.

Orang kaya inilah yang mengajak Yahya berkunjung ke masjid-masjid, komunitas pesantren dan lainnya hingga ia dikenalkan dengan seoarang relasi yang jadi pejabat di Pertamina Cirebon. Dari CSR Pertamina itulah Yahya membangun kekuatan. Sayangnya, Yahya menggunting jaringan langsung ke Pertamina, melupakan orang yang berjasa mengenalkannya hingga kerap menghardik NU di hadapan umum, tempat pengurus PBNU itu berkhidmah.

Di mata ulama Cirebon, ia dianggap telah merusak tatanan tradisi kiai-kiai Cirebon. Selama ini, kiai-kiai Cirebon sepakat tidak pernah mengadakan pengajian di hari Ahad. Tradisi tersebut sudah berjalan puluhan

tahun karena setiap Ahad ada pengajian di Jagastaru, Cirebon yang diasuh Habib Muhammad bin Syech bin Yahya (alm).

Guru Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan ini dianggap sesepuh, berkarakter toleran serta ditokohkan oleh para kiai di Cirebon. Kehadiran Ayib Muh, -panggilan Habib Muhammad bin Yahya-, sangat meneduhkan masyarakat lokal Cirebon.

Kiai-kiai pesantren di Cirebon, baik dari daerah Buntet, Gedongan, Ciwaringin, Ngempek, setiap hari Ahad selalu ngaji, datang langsung majelis ke Ayib Muh. Namun, tiba-tiba Yahya membuat pengajian tandingan di waktu dan hari yang sama.

Atas itu, para kiai muda mengingatkan dan mendatangi Yahya agar tidak mengadakan pengajian di hari tersebut. “Kita sama-sama dakwah, di sana ngaji, kita juga ngaji, kok ngaji saja harus diatur,” jawab Yahya congkak.

Tidak mau diingatkan, lama-lama banyak yang merasa kurang nyaman karena merekrut jama’ahya Ayib Muh. Cara yang dilakukan adalah membayari mobil-mobil rombongan ngaji dari jama’ah yang ada di desa-desa. Itu yang membuat marah kiai-kiai Cirebon pada awalnya.

Etika Yahya inilah yang dianggap para kiai-kiai di kampung tidak sesuai dengan kultur masyarakat muslim Cirebon yang dikenal menghargai dan menjunjung tinggi orang tua serta alim seperti Ayib Muh.

Yahya juga pernah dirangkul untuk masuk jadi pengurus NU struktural. Dijawab olehnya bahwa ia tidak butuh NU. “Saya muslim, silakan yang NU ya NU, saya ya saya, tapi saya Aswaja, sunni namun tidak berorganisasi,” jawabnya.

Bukan hanya oleh pengurus NU ia didatangi dan dirangkul. Menantu Ayib Muh bernama Habib Miqdad Baharun dan Quraish Baharun pun datang ikut menawari masuk jamiyyah NU, namun Yahya tetap menolak. Dalam tradisi santri, hal itu dianggap su’ul adab (tidak berkahlaq), apalagi dia seperti menantang.

Yahya kian gemar menghina NU sejak isu syiah dimunculkan kembali, utamanya disasarkan kepada Kiai Said, ketua PBNU sekarang.

Kejadian itu dimulai sejak keluarga besar NU (KBNU) yang terdiri atas unsur-unsur organisasi semacam IPNU, PMII, Ansor, Fatayat, Muslimat dan lainnya mengadakan peringatan 10 Muharram pada 2008. Di situlah Yahya mulai menyerang Kiai Said karena menghadiri acara yang disebut bermisi syiah tersebut.

Panitia sempat berpindah tempat dari rencana awal di Masjid Agung At-Taqwa Cirebon karena ditolak oleh kelompok Yahya. Mereka menyebut agenda acara itu bagian dari gerakan syiah. Karena tidak ingin terjadi konflik, lokasi kegiatan dipindah ke dalam Keraton.

Pasca kejadian itu, Yahya mulai berani menyerang dengan melontarkan tuduhan tak berdasar kepada publik bahwa NU itu organisasi Syiah. Pada titik ini, anak-anak muda NU di KBNU mulai sangat keberatan dengan kehadiran Yahya. Ia dengan mudah menyerang Kiai Said yang saat ini jadi simbol NU.

Yang kemudian membuat kemarahan anak muda NU itu bertambah adalah munculnya NU Garis Lurus, dimana ada nama Yahya bersedia diangkat sebagai Dewan Syuriah NUGL dengan Luthfi Bashori sebagai Imam Besar nya. Ditawari masuk NU menantang, tapi justru masuk ke barisan sakit hati semacam NUGL.

Celakanya lagi, saat NU sedang membangun dan mensosialisasikan pola ukhuwwah basyariyah dan ukhuwwah islamiyah lewat gerakan Islam Nusantara, Yahya semakin ringan menghina NU dengan menyebut bahwa Islam Nusantara itu seperti babi yang dikemas dalam bentuk kambing. Seorang alim, tapi bicaranya seperti anjing.

Gerakan Yahya ini cukup sistemik. Melalui kendaraan Al-Bahjah, Yahya tidak hanya melakukan gerakan di Cirebon saja, tapi di daerah lain. Ia tidak memusuhi NU secara frontal tapi gerakannya merusak tatanan dan tradisi muslimin di Indonesia. Khususnya NU dan adab santri. Dukungannya atas isu syiah-sunni saja sudah bisa dibaca arah gerakannya ada kaitan dengan Arab.

Sangat mudah jika menyebut Yahya punya jaringan Arab sekaligus misinya mengingat ia lulusan Universitas al-Ahqaf, Yaman Selatan, yang dikenal sebagai titik tumbuhnya Islam non wahabi garis keras dan radikal.

Atas ulahnya itu, Yahya pernah dipanggil 30-an kiai, namun tidak pernah direspon. Tercatat, agenda pemanggilan untuk klarifikasi pernah direncanakan dua kali oleh para kiai. Sebelumnya, sudah puluhan kiai

mendatangi. Hasilnya nihil.

Walau belum pernah menegur secara langsung, anak-anak muda NU di sana sudah puluhan kali mengundang Yahya dalam acara, namun tidak penah satu kali pun hadir. Gemesnya, dia justru sangat bangga diundang kelompok NUGL. Walau tidak pernah melakukan kekerasan fisik, tapi Gusti Allah ora sare.

Semoga setelah kecelakaan, dia sadar atas dosa-dosanya kepada kiai-kiai Cirebon yang cinta Ayib Muh. Penghinaan kepada NU dan Kiai Said juga diharapkan tidak dilanjutkan dalam acaranya yang disebut “ngaji” itu, serta tidak mudah melontarkan caci-maki karena benci.

Sepintar apapun santri, jika tidak tidak menggunakan adab sebagai baju, ia tidak lebih seperti dzubab (lalat). Ya Jabbar ya Qahhar! Menghina NU dan Kiai, fantadziris saa’ah. [PPQ Al-Amin Purwokerto/ luqman segaff]

Sumber: Transkip rekaman keterangan Anak Muda NU Cirebon.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/dosa-dosa-buya-yahya.html

Kamis, 04 Oktober 2012

5 Santri yang Studi ke Negeri Kincir Belanda

PPQ Al-Amin Purwokerto - Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan asli indonesia, telah berhasil menunjukkan posisi strategisnya dalam mencetak insan akademis yang heterogen. Dalam hal ini pesantren bukan lagi hanya mencetak agamawan yang mantap, namun juga ilmuwan-ilmuwan hebat dalam bidang keilmuan lainnya.

Transformasi pendidikan pesantren, dari murni salaf menjadi modern atau semi modern, memberikan kesempatan para santri untuk turut serta berkompetisi dalam banyak kajian-kajian keilmuan di luar keilmuan Islam.

5 Santri yang Studi ke Negeri Kincir Belanda - PPQ Al-Amin Purwokerto
5 Santri yang Studi ke Negeri Kincir Belanda - PPQ Al-Amin Purwokerto


5 Santri yang Studi ke Negeri Kincir Belanda

Sebagaimana yang dikatakan Dr. Mastuki, penulis buku "Kebangkitan Santri Cendikia", bahwa era kebangkitan santri cendikia dapat diukur berdasarkan pada persebaran santri di perguruan tinggi. Saat ini adalah era di mana santri, sebagai representasi muslim-terdidik, bangkit meraih kejayaan.

Dalam tulisan berseri ini kami ingin mengenalkan para santri cendikia baru yang saat ini masih aktif belajar di beberapa perguruan tinggi di eropa. Kita awali dari negeri kincir angin, Belanda.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Dito Alif Pratama. Pemuda asal Jakarta, yang menempuh pendidikan menengahnya di pondok pesantren Assalam Sukabumi. Sewaktu menempuh strata satu, ia memilih ilmu falak sebagai jurusannya. Kini, ia belajar di jurusan Peace, Trauma and Religion di Vrije Universiteit, Amsterdam.

Santri lain yang kebetulan ada di jurusan yang sama adalah M. Saiful Mujab. Ia merupakan alumnus PP Annur 2 Al Murtadlo, Malang, sebelum ia menyelesaikan studi strata satunya pada jurusan Tafsir Hadits.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Masih di seputaran VU, Amsterdam. Salah seorang santri Pondok Al-Itqon Bugen Semarang dan Pondok al-Bahroniyyah di pelosok Ngemplak, Mranggen, Demak, Nur Ahmad, sedang menyelesaikan magister sejarah di sana. Kebetulan ketiga mahasiswa yang disebutkan ini merupakan alumni dari UIN Walisongo, Semarang.

Dari Amsterdam, kita jalan-jalan ke Belanda bagian selatan, Maastricht. Dua santri: M. Syifaul Muntafi (asal Nganjuk, Jawa Timur) dan Sabiqotul Husna, asal Jogja, sedang melanjutkan studinya di Maastricht University, jurusan Psikologi.

Syifaul yang pernah nyantri di PP Al Falah ini mengambil konsentrasi Health and Social Psychology setelah ia merampungkan studi S1-nya di UIN Malang. Berbeda dengan Syifaul, Sabiq, yang pernah mondok di PP Almunawir Krapyak, Jogja ini, memilih menekuni Neuropsychology di Maastricht University setelah sebelumnya ia menyelesaikan sarjana psikologinya di UIN Sunan Kalijaga, Yogayakarta.

Kelima santri tersebut berkesempatan melanjutkan studi masternya di Belanda dengan beasiswa dari MoRA RI.

Santri lain yang tercatat sedang menempuh studi di negara kincir angin adalah Ardhy Dinata Sitepu. Setelah menyelesaikan program sarjana di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Hubungan Internasional sembari nyantri di Ma'had 'Aly UIN Syahid, pemuda asal Medan ini berkesempatan mencicipi studi luar negeri berbekal beasiswa dari Stuned. Ardhy kini tercatat sebagai mahasiswa ISS Erasmus university Rotterdam, jurusan economic development.

Demikian profil singkat para santri cendikia yang sedang berjuang di Belanda. Kita doakan semoga mereka sukses dalam studinya dan segera pulang untuk kembali mengabdi pada tanah air. Bagaimana dengan negara lain? Tunggu tulisan selanjutnya ya! [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/5-santri-yang-studi-ke-negeri-kincir-belanda.html

Rabu, 02 Mei 2012

Antara Tarekat Bela Negara dan HTI Munafik

PPQ Al-Amin Purwokerto - Jam’iyah Ahlith Thoriqah al-Muktabarah al-Nahdliyah (Jatman) dan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) adalah Badan Otonom (Banom) di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Kedua Banom NU ini dalam strukturnya ada lagi Badan Semi Otonom (Dansem) sebagai perangkat organisasi penggerak secara teknis.

Dansem Jatman, adalah Mahasiswa Ahlit Tarekat al-Muktabarah al-Nahdliyah (Matan), organisasi tarekat kepemudaan, mahasiswa S1, S2, S3 dan alumni yang diamanatkan untuk mengkader generasi muda yang bertarekat, melakukan kajian-kajian fokus pada penguatan spiritual.

Antara Tarekat Bela Negara dan HTI Munafik - PPQ Al-Amin Purwokerto
Antara Tarekat Bela Negara dan HTI Munafik - PPQ Al-Amin Purwokerto


Antara Tarekat Bela Negara dan HTI Munafik

Dansem GP Ansor, adalah Barisan Serbaguna (Banser), organiasi kepemudaan yang diamanatkan untuk fokus mengkader pemuda dalam rangka bela negara, mengawal ulama NU dan siap siaga melakukan pengamanan untuk kegiatan keagamaan, melakukan berbagai program ketahanan fisik dan mental yang tangguh.

Jatman telah menggelar hajatan akbar bela negara pada Senin-jumat (25-29/7) mengadakan Konferensi Bela Negara Ulama Tarekat se-Dunia di Convention Hall Hotel Santika dan di Aula Kanzus Shalawat Pekalongan Jawa Tengah. Sementara, pada Sabtu-Ahad (30-31/7) Banser mengadakan Apel Akbar Kesetiaan Pancasila dalam rangka bela Negara-NKRI di Kota Sengkang Wajo Sulawesi Selatan.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Konferensi Jatman dihadiri 26 ulama tarekat (mursyid/masyayikh) luar negeri dari berbagai negara dan puluhan ribu peserta dari dalam negeri termasuk TNI, Polri dan utusan Banser. Khusus kafilah ulama tarekat Sulawesi Selatan yang hadir sebanyak 25 orang dan saya salah satu seorang peserta di antaranya. Kafilah ini dipimpin oleh Habib A. Rahim Assegaf Puang Makka sebagaimana yang dirilis Tribun Timur.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Rais ‘Am Jatman, Maulana Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya sebagai keynote speaker pada konferensi tersebut menegaskan bahwa implementasi bela negara adalah menekan paham/aliran radikal yang secara massip dan aktif berusaha menegakkan khilafah. Munculnya geng radikal ekstrim dari segelintir umat Islam kenyataannya telah menebarkan propaganda dan kekerasan yang ujung-ujungnya dapat meronrong NKRI, sehingga perlu bagi ulama tarekat berada pada garis terdepan untuk bela Negara.

Ulama sebelum kemerdekaan telah berjihad dan berjuang maksimal untuk kemerdekaan bangsa ini, mereka menggunakan peralatan seadanya seperti bambu runcing melawan penjajah, namun yang lebih dahsyat adalah doa mereka.

Relahkah kita mengkhiati hasil jerih payah para ulama terdahulu dan tidak bisa dipungkiri bahwa leluhur kita pun ikut berjuang saat itu. Relahkah kita mengkhianti mereka sementara dipahami bersama bahwa pengkhiatan adalah dosa besar.

Sekarang kita telah merdeka dan menikmati hasil perjuangan mereka. Kita lahir dan hidup di negeri ini, kita belajar dan menuntut ilmu pertama kali di negeri ini, kita beribadah di negeri ini. Untuk itu membela tanah air merupukan kewajiban.

Jika ulama dan leluhur kita pada zamannya berjuang dengan bambu runcing, maka perjuangan sekarang bagi kita ulama tarekat sesuai proporsinya adalah lebih mengoptimalkan doa sebagai senjata yang ampuh untuk mempertahankan NKRI. Kita harus berusaha dan kontinyu berdoa agar negara ini tidak hancur, tercabik-cabik, terpecah berkeping-keping. Doa ulama tarekat diyakini maqbul dan diijabah, diterima, ampuh dan dapat menembus Arasy-Nya.

Seperti halnya ulama tarekat, Banser sesuai dengan proporsi dan bidangnya, jauh sebelum kemerdekan telah berjuang melawan penjajah dan bahkan Banser menjadi garda terdepan menumpas PKI pasca kemerdekaan, sehingga NKRI menjadi harga mati bagi Banser yang tidak bisa ditawar-tawar. Banser berani mati berjuang bela negara untuk mempertahankan NKRI.

Bela Negara bagi Banser merupakan kegiatan rutin.

Apel Banser di Sengkang yang dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat, Gus Yaqut dan ribuan personil anggota Banser se-Sulawesi Selatan sebagai momen ikrar untuk lebih mengukuhkan kesetiaan terhadap Pancasila dan NKRI.

Kota Sengkang sebagai pusat Apel Akbar Banser untuk bela negara, sengaja dipilih karena sebagai ikon kota santri, ulama-ulama NU banyak dicetak dari kota ini, mereka alumnus Pesantren As’adiyah Sengkang.

Sebagaimana konferensi Jatman di Pekalongan, Banser juga dalam rangkaian Apel Akbarnya, mengadakan zikir dan shalawatan di wisata Atakkae Sengkang. Hajatan ini, tiada lain sebagai bagian integral dari bela Negara.

Beda dengan ormas lain radikal, bukannya berjuang bela negara tetapi justru membelok dari perjuangan Jatman dan Banser untuk keutuhan NKRI. Mereka membelok karena tidak pernah merasakan pahit getirnya berjihad melawan penjajah yang belakangan baru muncul dengan idenya memperjuangkan khilafah.

Ormas radikal ini membelok dari prinsip hubbul wathan minal iman (cinta terhadap negara/NKRI bagian dari iman).

Bagi yang membelok dari prinsip tersebut, tentu HTI (harus tobat dan insaf) karena tergolong sebagai pengkhianat bangsa, maka HTI (hati-hatilah) karena khianat itu sendiri salah satu ciri kemunafikan. Orang yang munafik ditinjau dari asal kata nafaqa yang berarti dua lubang bagai lubang tikus, bagian atas (luar) dari liang tikus tertutup tanah sedangkan bagian bawahnya berlubang.

Demikianlah sifat kemunafikan yang bagian luarnya adalah Islam tetapi bagian dalamnya merupakan keingkaran serta penipuan. Secara tersurat mereka mengatakan beriman, tetapi secara tersirat ia tidak beriman sebagaimana ditegaskan dalam QS.al-Ma’idah/5: 41. Wallahul Muwaffiq Ila aqwamit Thariq [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Mahmud Suyuti, ketua Matan Sulsel, sekjend Jam’iyah Khalwatiyah dan Sekretaris Dewan Penasehat GP Ansor Sulsel

Keterangan: esai ini sudah pernah dimuat di Tribun Timur Makassar, Jumat (05/08/2016)

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/antara-tarekat-bela-negara-dan-hti-munafik.html

Minggu, 27 November 2011

Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Jafar

PPQ Al-Amin Purwokerto - Seiring bom tak jauh dari masjid Nabawi beserta pemberitaannya, ada tulisan yang menyangkal informasi umum yang beredar. Narasumbernya orang bernama Fathuddin Ja'far, yang saat kejadian mengatakan berada di dlm Masjid Nabawi. Kesaksian ini dimuat di sejumlah media, beredar di socmed, grup WA dan seterusnya, yang intinya berita bom Madinah tak sesuai fakta, berlebihan dan merupakan sebuah konspirasi untuk menyudutkan Islam.

Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Jafar
Bom Madinah Konspirasi Kafir? Menjawab Analisa Konyol Fathuddin Jafar


Menurut Ja'far, ia tidak mendengar ledakan, hanya melihat kepulan asap. "Kami hanya melihat kepulan asap seperti ada kebakaran di seberang Baki', makam para sahabat Rasulullah."

Di dalam masjid juga tak seorang pun yang membicarakan soal bom. Suasana di dalam masjid dan luar masjid juga seperti biasa, tak ada yang berubah dari malam-malam sebelumnya.

Dengan instingnya Ja'far merasa ada yang tidak benar dengan berita yang beredar. Ia merasa bahwa yang terjadi hanyalah konspirasi. "Naluri media dan konspirasi saya muncul," tulisnya.

Dan ia makin meyakini saat melihat televisi dan internet, di mana berita pemboman sudah menyebar luas. Ia memutar Al-Arabiya, televisi yang ia sebut milik Yahudi, dan ia menganggap beritanya terlalu dibesar-besarkan. Ia juga menganggap running-text Al-Arabiya sangat provokatif.

Ia pun mengecam Al-Arabiya, menyebut bahwa semua adalah kebohongan kaum kafir yang ingin menjatuhkan Islam. "Saya semakin yakin bahwa umat Islam sekarang sedang menghadapi fitnah dan konspirasi dari segala arah yang sangat luar biasa dari musuh-musuh Allah," tulisnya yang muncul di sejumlah media yang tidak begitu jelas kedudukannya.

Membaca tulisan Fathuddin Ja’far saya hanya melihat orang yang di kepalanya memang sudah diinapi pikiran bahwa Islam sedang diserang, bahwa selama ini ada konspirasi untuk menjatuhkan Islam oleh kaum kafir. Aku tidak tahu Islam yang mana yang dimaksud Ja’far, karena sebagai orang Islam aku tidak merasa. Lalu kafir yang mana juga tak jelas, apakah kafir Amerika, kafir Yahudi atau kafir dari planet Mars.

Kesaksian Ja’far, yang di-share banyak orang, tak menggugurkan berita yang ia bantah. Tak ada poin di berita yang beredar yang bisa ia tunjukkan kebohongannya. Tapi di ujung tulisan ia menyimpulkan bahwa semua adalah kebohongan.

Ja’far tampak sudah apriori dengan media dan apa pun yang diberitakan olehnya. Ia juga tendensius dan terlihat kurang wawasan ketika menyebut “Al-Rabiya” sebagai TV Yahudi, karena jika yang ia maksud adalah Al-Arabiya, televisi ini tak lain dimiliki oleh keluarga Kerajaan Arab Saudi. Entah dari mana Ja’far punya informasi bahwa Al-Arabiya milik Yahudi–dari sebuah sumber atau imajinasinya semata, kita tidak tahu. Mungkin dari intelijen atau alien galaksi Andromeda.

Dalam tulisannya Ja'far menyebut bahwa ledakan terjadi jauh dr Masjid Nabawi. "Kepulan asap di seberang Baki, makam sahabat-sahabat Rasullullah," jelasnya.

Jauh-dekat relatif. Berdasar standar keamanan ledakan di radius 3 km dari obyek atau lokasi vital bisa dikatakan dekat dan sudah berkategori sangat mengancam dan membahayakan. Apalagi berdasar penjelasan dari pejabat KJRI Saudi, Fadhly Achmad Hamid, lokasi ledakan hanya berjarak 500 meter dari masjid Nabawi, tepatnya di area parkir keamanan, bagian belakang masjid Nabawi. Aku tidak tahu apakah Ja’far mengecek area ini.

Justru sangat aneh jika Ja’far menganggap ledakan di tempat yang asapnya bisa disaksikan jelas dari Masjid Nabawi disebut jauh dan tak membahayakan. Bahwa Ja’far tidak mendengar ledakan dan jamaah di Masjid Nabawi masih anteng tarawih karena memang tak menyadarinya dan itu menunjukkan manajemen keamanan cukup bagus. Karena jika langsung dikabarkan kepada jamaah bahwa ada bom meledak di luar kawasan masjid, kepanikan dan kekacauan bisa terjadi–dan mungkin justru menimbulkan korban.

Persoalan bahwa Ja’far tidak mendengar ledakan tidak lantas ledakan tidak ada. Apa yang tidak kita ketahui tidak lantas tidak terjadi. Karena ada situasi-situasi yang membuat kita sering tidak mengetahui peristiwa yang terjadi tak jauh dari posisi kita. Orang yang berada di sekitar kejadian sebuah peristiwa tidak selalu mengetahui dan menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Jurnalis yang baru datang justru sering lebih tahu, karena ia mewawancarai banyak saksi mata dan mengecek tempat kejadian perkara.

Orang-orang yang ada di dalam Sarinah Thamrin saat terjadi bom di luarnya banyak yang tak tahu apa yang terjadi. Beberapa juga tak mendengar bom. Saya yang berkantor tak sampai 2 km dari lokasi bom Thamrin saat itu juga tak mendengar suara, meski beberapa orang di kawasan kantor saya bilang mendengar. Itu soal telinga, atau fokus dan konsentrasi yang berbeda.

Tapi pihak keamanan Arab Saudi sudah jelas mengonfirmasi ledakan itu, yang menewaskan 2 orang dan melukai 4 orang. Foto korban juga sudah dirilis media. Bukan hanya Al-Arabiya, tapi Al-Jazeera dan media-media Islam lain juga memberitakannya, selain ratusan media internasional. Media tak mungkin mengarang untuk informasi ini. Jadi aku tidak tahu dmn kebohongan media yang dibilang oleh Fathuddin Ja’far, dan lebih tidak tahu lagi media kafir mana yang berbohong.

Saya mengecek video Al-Arabiya di webnya dan Al-Arabiya tidak memberitakan bahwa ledakan terjadi di gerbang Masjid Nabawi. Lalu apa lantas itu tidak berbahaya dan tidak layak diberitakan besar-besaran oleh media? Jika kamu berpikir berpikir begitu maka kamu tidak tahu media, tidak tahu betapa pentingnya Madinah–apalagi masjid Nabawi. Jangankan bom, ada satu orang mati ditusuk di kawasan Masjid Nabawi bisa jadi berita besar. Karena Madinah dan Masjid Nabawi punya arti penting buat umat Islam.

Membaca tulisan Fathuddin Ja'far, aku tidak tahu media kafir mana yang ia tunjuk, karena Al-Arabiya dan Al-Jazeera yang memberitakan paling awal kejadian Madinah adalah milik negara Islam, yang wartawannya jg sebagian besar muslim. Atau Ja'far menganggap Al-Arabiya dan Al-Jazeera juga media kafir? Lalu yang bukan kafir yang mana? Mbuhlah....

Jika kamu punya dugaan simpanlah dugaanmu untuk dirimu sendiri sebelum menemukan bukti. Jika kamu meyakini adanya konspirasi telitilah dulu sebelum menuduh sana-sini. Bukan cuma keluar masjid, balik hotel ngecek internet dan nonton TV lalu berteriak ada konspirasi.

Maaf, tentu aku lebih percaya wartawan yang memang dididik untuk mengecek dan meliput peristiwa ketimbang orang yang ada di kawasan kejadian perkara tapi ke TKP pun tidak. Tak ada keterangan apakah Fathuddin Ja'far mengecek TKP, melihat korban atau benda yang terbakar akibat ledakan. [PPQ Al-Amin Purwokerto PPQ Al-Amin Purwokerto]

Oleh Savic Ali

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/bom-madinah-konspirasi-kafir-menjawab-analisa-konyol-fathuddin-jafar.html

Kamis, 28 Juli 2011

Ke Raja Negeri Palu Arit, Soekarno Minta Paksa Temukan Makam Imam Bukhari

PPQ Al-Amin Purwokerto - Pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet, sekaligus penguasa tertinggi Negeri Tirai Besi, Nikita Sergeyevich Khrushchev, merasa sudah menang psywar terhadap rivalnya dalam perang dingin, Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy.

Ia memiliki ide untuk mengundang Presiden Indonesia, Sukarno ke Moskow. Apalagi saat itu Indonesia berhasil menyandera pilot intelijen Negeri Paman Samuel, Allan Pope. Ia terbukti terlibat dalam pemberontakan mendukung gerakan Permesta, pada 1958.

Ke Raja Negeri Palu Arit, Soekarno Minta Paksa Temukan Makam Imam Bukhari - PPQ Al-Amin Purwokerto
Ke Raja Negeri Palu Arit, Soekarno Minta Paksa Temukan Makam Imam Bukhari - PPQ Al-Amin Purwokerto


Ke Raja Negeri Palu Arit, Soekarno Minta Paksa Temukan Makam Imam Bukhari

Soekarno tidak mau melepaskan pilot bayaran yang pesawatnya ditembak TNI di kawasan Maluku. Kondisi itu dimanfaatkan oleh Kamerad Khrushchev. Setidaknya ingin menunjukkan pada raja kapitalis itu bahwa Indonesia berdiri di belakang raja komunis, Uni Soviet.

"Paduka Yang Mulia, Bung Karno. Kami mengundang Yang Mulia untuk datang ke Moskow, menjadi tamu kehormatan negara dan bangsa kami," kata Khruschev, melalui sambungan telepon dalam bahasa Inggris, pada Januari 1961.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Dalam peristiwa yang terjadi pada 1956 tahun itu, Bung Karno memahami betul suasana batin Khruschev. Ia pun tidak mau begitu saja memenuhi undangan ke Moskow. Ia tidak ingin negeri Pancasila terjebak dalam perang dingin. Bung Besar tidak ingin membawa Indonesia ke dalam situasi yang tidak menguntungkan.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Tidak mau Indonesia dipermainkan oleh negara mana pun, maka putra dari Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai itu, mengajukan syarat, "saya mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi, Paduka. Tidak boleh tidak, Kamerad". Khrushchev balik bertanya, “Apa syarat yang Paduka Presiden ajukan?”

Bung Karno menjawab, "temukan makam Imam Al Bukhari. Saya sangat ingin menziarahinya." Si komunis ini terheran-heran. "Siapa pula Imam Al Bukhari?" katanya bersungut-sungut kepada ajudannya.

Tak mau membuang waktu, Khrushchev segera memerintahkan pasukan khususnya untuk menemukan makam tersebut. Setelah dicari ke sana ke mari, anak buah pemimpin negeri Beruang Merah itu mengaku tidak menemukan makam itu.

Selang beberapa hari, ia kembali menghubungi Bung Karno, "Maaf Paduka Presiden, kami tidak berhasil menemukan makam orang yang Paduka cari. Apa Anda berkenan mengganti syarat?" Di ujung telepon, Bung Karno tersenyum sinis, "Paduka, kalau tidak ditemukan, ya sudah. Saya lebih baik tidak usah datang ke negara Kamerad."

Jawaban ‘Putra Sang Fajar’ ini membuat telinga Khrushchev memerah. Khrushchev pun kembali memerintahkan orang-orang nomor satunya langsung menangani masalah ini. “Cari sampai dapat!”

Setelah mengumpulkan informasi dari orang-orang tua Muslim di sekitar Samarkand, anak buah Khrushchev menemukan makam Imam kelahiran Bukhara, tahun 810 Masehi itu. Makamnya dalam kondisi rusak tidak terawat. Imam Al Bukhari memiliki pengaruh besar bagi umat Islam di Indonesia. Ia dimakamkan di Samarkand tahun 870 M.

‘Raja komunis’ itu pun dengan riang kembali menelepon Soekarno dan mengabarkan bahwa makam yang dimaksud sudah ditemukan, namun dalam kondisi rusak parah. Presiden Sukarno meminta pemerintah Uni Soviet agar segera memperbaiki dan merawat makam tersebut.

Jika tidak, lanjut, Bung Karno, ia menawarkan agar makam tersebut dipindahkan ke Indonesia. Emas seberat makam Imam Bukhari akan diberikan sebagai gantinya.

Khrushchev pun memerintahkan agar makam itu dibersihkan dan dipugar secantik mungkin. Usai renovasi, ia kembali menghubungi Bung Karno. "Baik, saya akan datang ke negara Anda," jawab Seokarno.

Singkat cerita, setelah mengunjungi Moskow, pada 12 Juni 1961, Bung Karno tiba di Samarkand. Sehari sebelumnya, puluhan ribu orang menyambut kehadiran Pemimpin Besar Revolusi Indonesia ini di Kota Tashkent.

Kini, setelah Uni Soviet bubar, wilayah itu menjadi bagian dari Uzbekistan. Tidak banyak yang tahu kalau Bung Karno adalah penemu makam Imam Al Bukhari, seorang perawi hadist Nabi Muhammad SAW.

Tidak banyak yang tahu juga kalau Soekarno ke luar negeri, ia selalu menyebut dirinya sebagai muslim sejati kepada tuan atau puan rumahnya. Berbicara soal Keesaan Tuhan. Tuhan Yang Satu. Itulah tauhid di dalam kitab suci Al-Quran.

Ia kemukakan di depan pemimpin tertinggi Negara Komunis bahwa Tuhan kekal abadi, sehingga seorang muslim sejati tidak takut akan kematian. Sebab telah bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah yang disembah kaum Muslimin. Dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.

Soekarno tidak peduli apakah Presiden Uni Soviet itu mau mendengarkan tentang keyakinannya tentang Islam atau pun tidak. Yang jelas Si Bung sudah paham apa yang ada di kepala Kamerad Khruschev tentang ajaran Marxisme, tentang simbol palu arit.

Ya, ayah kandung dari Ketua Umum PDIP, Megawati, Sukmawati dan Rachmawati --yang dituduhkan makar oleh penguasa saat ini-- memang bung piawai berpidato soal tauhid di hadapan orang-orang yang tidak beragama. Yang meragukan keesaan Tuhan. [PPQ Al-Amin Purwokerto]

S. Ginting, senior jurnalis harian Republika

Ket: Judul asli: Sukarno, Imam Bukhari dan Islam di Negeri Palu Arit, dimuat Harian Republika pada Jumat 13 Januari 2017. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/ke-negeri-palu-arit-soekarno-minta-paksa-temukan-makam-imam-bukhari.html

Senin, 27 Desember 2010

Pesantren Salafiyah Parappe Wakil Sulbar di Putaran Final LSN

Polewali Mandar, PPQ Al-Amin Purwokerto. Kesebelasan Pondok Pesantren (PP) Salafiyah Parappe berhasil menjadi Juara Liga Santri Nasional (LSN) Zona Sulawesi Barat (Sulbar) setelah mengalahkan kesebelasan PP Al-Ihsan DDI Kanang di babak final yang berlangsung di Lapangan sepak bola Rajawali Panyampa kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Senin (22/9).

Laga final berlangsung seru dan menegangkan karena disaksikan oleh mayoritas suporter PP Salafiyah selaku tuan rumah LSN zona Sulbar. Kedua tim bermain terbuka sehingga banyak menghasilkan peluang. Pertandingan berakhir dengan skor 3-1 untuk keunggulan Salafiyah Parappe.

Pesantren Salafiyah Parappe Wakil Sulbar di Putaran Final LSN (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Salafiyah Parappe Wakil Sulbar di Putaran Final LSN (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Salafiyah Parappe Wakil Sulbar di Putaran Final LSN

Jalannya pertandingan

PPQ Al-Amin Purwokerto

Di babak pertama, pemain PP Salafiyah Parappe, Arif berhasil membuka skor dengan golnya di menit-menit awal pertandingan. Kemudian disamakan oleh kesebelasan PP Al-Ihsan DDI Kanang lewat gol Reza diakhir babak pertama. Babak pertama laga final berkesudahan dengan skor 1-1.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Di babak kedua, pertandingan semakin seru. Namun hasil akhir berpihak kepada kesebelasan PP Salafiyah Parappe. Dua gol pemain PP Salafiyah Parappe masing-masing dicetak oleh Aziz dan Arif (gol kedua) mengantarkan PP Salafiyah Parappe merebut gelar Juara LSN zona Sulbar.

Sebagai tuan rumah sekaligus menjadi juara, PP Salafiyah Parappe bertekad menampilkan hasil yang terbaik di babak selanjutnya di tingkat nasional. Sebagaimana diketahui, kemenangan di final LSN zona Sulbar mengantarkan PP Salafiyah Parappe mewakili Sulbar di babak 16 besar menghadapi pemenang LSN dari zona lainnya.

Setelah pertandingan selesai, Indah Maya Sari selaku Koordinator LSN zona Sulbar menutup secara resmi kompetisi yang melibatkan para santri Sulbar ini. Bibit unggul bakat sepak bola ternyata juga ada pada santri, mereka juga bermain sangat sportif dan saya yakin pesantren yang menjadi juara di zona Sulbar akan mengharumkan nama daerah di tingkat nasional, tutup Indah. (Sudianto/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62379/pesantren-salafiyah-parappe-wakil-sulbar-di-putaran-final-lsn

Rabu, 24 November 2010

Jika Kebhinnekaan Adalah Kodrat dan Agama Bukan Laknat

PPQ Al-Amin Purwokerto - Kafir adalah istilah keagamaan (Islam) dalam bahasa Arab, yang secara harfiah berarti “(orang) yang menutup diri”. Bentuk noun-nya adalah “kufur” yang berarti “penyangkalan atau pengingkaran”. Secara istilah (terminologis), “Kafir” berarti “orang yang menutup atau menyangkal atau mengingkari “Kebenaran” (dengan K besar yang berarti Tuhan), sekaligus menutupi atau mengingkari bukti-bukti tentang adanya Kebenaran Tuhan.

Jika Kebhinnekaan Adalah Kodrat dan Agama Bukan Laknat
Jika Kebhinnekaan Adalah Kodrat dan Agama Bukan Laknat


Inilah karena dalam keyakinan umat beragama, semua agama, tidak ada kebenaran yang lebih mutlak, absolut dan tidak terbantahkan selain “Tuhan” itu sendiri. Bagi umat beragama, Tuhan diyakini bukan hanya sebagai Kebenaran, tapi sekaligus sumber dan rujukan dari semua “kebenaran”. Karena itu lazim dikatakan bahwa penyangkal Kebenaran (dengan K besar yang berarti Tuhan), disebut si Kafir, si Penyangkal.

Dalam perkembangan sejarahnya, istilah “Kafir” dapat dibedakan menjadi dua tingkatan: kafir mutlakPPQ Al-Amin Purwokertosolut dan kafir nisbi/ relatif. Kafir absolut adalah orang yang sama sekali tidak percaya pada adanya “Tuhan” sebagai Pencipta segala yang ada, sekaligus sebagai yang maha mengatur jagat raya dan seisinya.

Bagi mereka, alam dan jagat seisinya, termasuk dirinya sendiri, menjadi ada bukan karena (diciptakan) Tuhan, melainkan meng”ada” dengan dirinya sendiri, atau mengada secara alami. Dalam istilah filsafat, orang yang seperti ini dikenal dengan sebutan “atheist”, orang yang menyangkal adanya Tuhan.

Di samping Kafir absolut (atheis) ada yang disebut “Kafir Relatif/ Nisbi”. Yakni orang yang percaya kepada Tuhan sebagai Pencipta alam semesta, tapi dengan konsep “ketuhanan dan keagamaan” yang berbeda antara yang dianut oleh satu agama dengan kelompok agama yang lain. Tuhan, sebagaimana dikonsepsikan dan diyakini umat agama A, bisa berbeda dengan Tuhan yang diyakini oleh umat penganut agama B, C, D dan seterusnya. Bahkan boleh jadi dalam satu rumpun umat agama yang sama, katakanlah agama A, bisa muncul konsep yang lebih detail perihal Tuhan yang berbeda-beda.

Karena itu bisa dikatakan bahwa dilihat dari konsep ketuhanan yang diimani umat lain, semua orang adalah kafir. Kekafiran seperti ini terkait dengan keyakinan pada satu doktrin ketuhanan tertentu yang diajarkan oleh agama tertentu. Atribut ke-kafir-an yang bersifat nisbi ini tertuju atau terlabelkan bukan pada orang yang sama sekali tidak percaya adanya Tuhan alias Atheis, melainkan terhadap orang atau komunitas yang tidak percaya kepada Tuhan yang dikonsepsikan dan diimani oleh penganut agama atau keyakinan yang berbeda.

Sebagaimana kita ketahui, semua agama bertumpu pada doktrin keimanan primer terhadap Tuhan. Bukan agama kalau tidak mendoktrinkan keimanan adanya Tuhan. Meskipun demikian harus diakui bahwa konsep Tuhan yang dirumuskan dan diyakini oleh masing-masing agama bisa berbeda antara yang satu dengan yang lain. Bahkan umat satu agama dengan mazhab atau aliran yang berbeda pun bisa memiliki konsep atau citra Tuhan yang berbeda pula.

Kenapa begitu? Sederhana saja jawabannya. Karena meskipun semua agama percaya pada Tuhan, dan mendoktrinkan umatnya untuk berserah diri kepada-Nya, tidak ada satu pun di antara mereka yang pernah bertemu, melihat sendiri secara kasat mata, dan berkomunikasi langsung dengan “Sosok” yang diklaim sebgai Tuhan itu. Toh mereka tetap percaya; itulah yang disebut “iman”; suatu “keberanian” luar biasa untuk mempercayai sekaligus mempertaruhkan “hidup” pada “Sosok” yang sama sekali belum dan tidak pernah dilihat dan disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Maka bisa dimengerti, jika dikatakan bahwa iman adalah “hidayah” atau “bimbingan” Tuhan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jika saja iman kepada Tuhan sepenuhnya merupakan hasil pencarian manusia dengan akal-budi atau nalarnya, niscaya hanya para filsuf sajalah yang bisa menjadi manusia beriman. Nyatanya tidak. Bahkan tidak sedikit filosof yang secara aktif mendakwahkan kekufuran atau penyangkalan kepada Tuhan, alias atheis. Iman adalah “anugerah” bimbingan dan uluran tangan Tuhan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Pemikir atau filosof ulung pun, jika tidak karena hidayah-Nya, niscaya akan tetap dalam penyangkalan (kekafiran) terhadap-Nya.

Memang sebagian orang, yang jumlahnya cukup banyak, besar kemungkinan menjadi beriman lebih karena keturunan, karena pengaruh lingkungan keluarga atau masyarakat sekitarnya. Itulah modal awal yang sangat berharga. Tapi tanpa refleksi yang lebih mendalam terhadap “keimanan” yang terberikan lewat lingkungan primernya, keimanan seperti itu akan mudah tergerus oleh pengaruh sekitar yang menafikannya. Keimanan seperti itu akan mudah goyang bahkan runtuh oleh ujian-ujian kehidupan sesaat.

Di sinilah letak urgensi dari aktivitas ritual berjamaah bersama komunitas seiman yang lazim dilakukan dalam tempat-tempat ibadah (masjid, gereja, vihara dsb) di bawah bimbingan para imam (tokoh-tokoh agama) lokal masing-masing. Khutbah para imam di sini memegang peranan penting untuk memelihara dan meneguhkan keimanan komunitas iman masing-masing. Tidak mudah dihindarkan karena adanya khutbah-khutbah pemupukan keimanan dalam bingkai fanatisme yang acapkali menyangkal atau merendahkan konsep keimanan pihak lain.

Di sinilah perlunya forum para pemimpin umat beragama sebagai kepala-kepala ‘suku’, untuk memupuk toleransi antar komunitas beriman/ beragama, minimal untuk menghindari konflik sesama; syukur-syukur bisa mendorong kerja sama bagi kemajuan sebangsa. Bagi bangsa Indonesia yang luar biasa plural, baik dalam keyakinan maupun etnik dan orientasi politiknya, dialog antar iman ini sangatlah dibutuhkan.

Kebinnekaan bangsa Indonesia adalah kodrat, yang jika kita bisa rawat dan syukuri akan menjadi anugerah yang sangat indah. Sebaliknya, jika gagal merawatnya, bahkan kita ingkari dan kufuri, maka seketika kebinnekaan itu akan berbalik menjadi musibah dan kutukan yang menghancurkan segalanya. Semua itu tergantung kita sendiri, terutama para pemimpin agama, untuk membuktikan bahwa agama itu rahmat, bukan laknat! [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/jika-kebhinnekaan-adalah-kodrat-dan-agama-bukan-laknat.html

Kamis, 23 September 2010

Hilal Tak Tampak, PBNU Ikhbarkan 1 Ramadhan 29 Juni

Jakarta, PPQ Al-Amin Purwokerto. Dalam rangka penentuan awal Ramadhan, 1435 H tim rukyatul hilal PBNU melalui Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama, telah melakukan rukyatul hilal di berbagai lokasi rukyat yang telah ditentukan pada Jumat 27 Juni. Tim rukyat tidak berhasil melihat hilal. Dengan demikian bulan Syaban berumur 30 hari atau istikmal.

Atas dasar istikmal tersebut dan sesuai dengan pendapat Imam Empat Madzhab (madzahibul arbaah), maka Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui surat keputusan 3257/C.I.55/06/2014 memberitahukan bahwa awal Ramadhan 1435 H jatuh pada hari Ahad, 29 Juni 2014.

Dengan demikian, keputusan PBNU selaras dengan pengumuman resmi pemerintah yang menetapkan hari Ahad sebagai permulaan Ramadhan, seusai mendengarkan berbagai pandangan dari para pakar astronomi dan utusan ormas-ormas Islam, termasuk NU, dalam sidang Itsbat di kantor Kemenag, sore tadi.

Hilal Tak Tampak, PBNU Ikhbarkan 1 Ramadhan 29 Juni (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Tak Tampak, PBNU Ikhbarkan 1 Ramadhan 29 Juni (Sumber Gambar : Nu Online)


Hilal Tak Tampak, PBNU Ikhbarkan 1 Ramadhan 29 Juni

Almanak PBNU sejak awal sudah memprediksi hasil rukyat ini. Hasil hisab Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) menyebutkan, tanggal 1 Ramadhan 1435 H jatuh pada Ahad Wage dengan tinggi hilal 00 25 47 selama 2 menit 33 detik di atas ufuk. Ijtima atau konjungsi berlangsung hari ini, Jumat Pahing, pukul 15:07:41 WIB.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Oleh karena itu, warga NU baru akan menunaikan shalat tarawih pada Sabtu (28) malam. Jadwal ini berbeda dengan Muhammadiyah yang memulai tarawih Jumat malam ini karena mereka akan memulai puasa Ramadhan Sabtu esok berdasarkan metode hisab (penghitungan astronomis).

Kepada warga NU dan umat Islam pada umumnya, PBNU menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan keyakinan, dan menjadikan bulan Ramadhan, sebagai momentum kerohanian untuk menyucikan diri dengan meningkatkan ketakwaan, dan memperbanyak membaca Al-Quran, berdzikir, serta beribadah dengan penuh kekhusyukan dan berbagai aktifitas sosial yang bermanfaat. (mukafi niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52917/hilal-tak-tampak-pbnu-ikhbarkan-1-ramadhan-29-juni

PPQ Al-Amin Purwokerto

PPQ Al-Amin Purwokerto

Minggu, 12 September 2010

Kesederhanaan: Ketika Ban Mobil Bocor di Tol, Ini yang Dilakukan Kiai Said

PPQ Al-Amin Purwokerto - Ini adalah kisah Kiai Kiai Said yang pada suatu hari di tengah Jalan Tol sepulang dari Surabaya harus istirahat agar tidak merepotkan orang lain.

Driver: "Wah Bocor nih kayaknya vidz"

Aku: "Minggir dulu mang, ganti ban"

Kesederhanaan: Ketika Ban Mobil Bocor di Tol, Ini yang Dilakukan Kiai Said - PPQ Al-Amin Purwokerto
Kesederhanaan: Ketika Ban Mobil Bocor di Tol, Ini yang Dilakukan Kiai Said - PPQ Al-Amin Purwokerto


Kesederhanaan: Ketika Ban Mobil Bocor di Tol, Ini yang Dilakukan Kiai Said

Kiai: "Ada apa vidz"

PPQ Al-Amin Purwokerto

Aku: "Maaf kiai, ban bocor, kiranya berkenan menunggu"

Kiai: "Oh ya," sembari memejamkan mata kembali untuk istirahat di dalam mobil.

Satu jam kemudian, keringat sudah mengucur, terik matahari makin menyengat, lalu lintas makin padat, bahkan sudah dua mobil patroli menawarkan bantuan, alat-alat sudah dicoba semua.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Driver: "Wah,,, kuncinya slek vidz, terlalu kecil, bautnya ada yang beda satu nih, gimana, harus panggil bengkel resmi?"

Aku: "Saya tawarkan dulu ke kiai ya, apa mau menunggu atau dijemput driver lainnya".

Aku: "Maaf kiai, ban tidak bisa dibuka, harus dipanggilkan bengkel resmi, berkenan kiai untuk saya panggil driver supaya jemput disini".

Kiai: "Tidak perlu, panggil bengkel saja, kita keluar tol terdekat dulu dan cari tempat yang rindang".

Aku: "Baik Kiai, laksanakan"

Sembari membereskan semua alat-alat.

Aku: "Mang, panggil bengkel resmi dan kita keluar tol dulu cari tempat yang rindang, ketemu bengkel di sana".

Driver: "Oke"

Keluarlah kami dari tol dengan kondisi ban bocor, tempat rindang tidak ditemukan, pintu tol merayap karena jam makan siang. Akhirnya kita berhenti di depan Minimarket arah jalan Antasari (bukan antasari Azhar lo yah).

Kiai: "Bagaimana vidz, bengkelnya sudah arah ke sini belum?"

Aku: "Belum Kiai, kena macet, berkenan untuk dijemput saja kiai daripada menunggu lama di sini kurang kondusif?"

Kiai: "Tidak perlu, kita tunggu saja di sini, belikan air minum saja, kopi atau air mineral".

Aku segera bergegas masuk ke Minimarket sembari melirik Kiai yang perlahan menuju tempat duduk kusam tempat bapak-bapak tukang parkir berjaga. Aku menghampiri kiai yang sudah duduk ditemani juru parkir. Terlihat keringat sudah bercucuran pertanda ia kepanasan. Akhirnya.

Kiai: "Vidz, kamu tunggu di sini saja, saya pulang dulu naik Taksi ya. Kita jalan ke seberang sana supaya Taksi tidak memutar balik, kasihan macet. Oh iya, jangan lupa, pak juru parkir dikasih rokok sebungkus dan minuman ya, ayo ke sana".

Aku: "Baik kiai, mari", sembari menggandeng tangan beliau menyeberang jalan, sambil tak peduli banyak sekali pengguna jalan yang "heran" dengan wajah familiar Kiai Said. (Maklum waktu itu masih hangat-hangatnya demo yang oleh beliau dilarang)

Tiba-tiba, sreeeetttt, sebuah mobil Harier ber-Plat Lemhannas berhenti. Muncul kemudian seorang kiai jendela mobil, "Kiai, kok jalan kaki, saya antar saja kiai ke rumah".

Tanpa bicara, kiai cuma mengatupkan kedua telapak tangan ke dada, pertanda maaf tidak perlu. Akhirnya, setelah lama menunggu Taksi datang, tergopoh driver Taksi akan membukakan pintu, tapi saya tahan.

Di tengah kesibukan sebagai Ketua Umum PBNU, akhirnya, Kiai Said tetap sudi naik Taksi tanpa harus merepotkan bengkel panggilan serta driver lain. Panjang umur dan barokah, nggeh kiai! [PPQ Al-Amin Purwokerto]

Kisah di atas dituturkan oleh Hafidz Ismail, asisten KH Said Aqil Siroj

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/ketika-ban-mobil-bocor-di-tol-ini-yang-dilakukan-kiai-said.html

Sabtu, 06 Juni 2009

Ini Tokoh Khawarij Pertama Sejak Rasul Diutus

PPQ Al-Amin Purwokerto - Firqah salaf (terdahulu) atau firqah pada zaman Rasulullah yang gemar menyalahkan dan bahkan mengkafirkan muslim lain yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka adalah orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, penduduk Najed dari bani Tamim

Ini Tokoh Khawarij Pertama Sejak Rasul Diutus - PPQ Al-Amin Purwokerto
Ini Tokoh Khawarij Pertama Sejak Rasul Diutus - PPQ Al-Amin Purwokerto


Ini Tokoh Khawarij Pertama Sejak Rasul Diutus

Dzul Khuwaishirah tokoh penduduk Najed dari bani Tamim juga termasuk salaf karena bertemu dengan Rasulullah namun tidak mendengarkan dan mengikuti Rasulullah melainkan mengikuti pemahaman atau akal pikirannya sendiri yang berakibat menjadikannya sombong dan durhaka kepada Rasulullah yakni merasa lebih pandai dari Rasulullah sehingga berani menyalahkan dan menghardik Rasulullah

Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian (harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu! Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil. (HR Bukhari 3341)

Abu Sa’id berkata; Orang-orang Quraisy marah dengan adanya pembagian itu. kata mereka, kenapa pemimpin-pemimpin Najd yang diberi pembagian oleh Rasulullah, dan kita tidak dibaginya? maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: Sesungguhnya aku lakukan yang demikian itu untuk membujuk hati mereka.

Sementara itu, datanglah laki-laki berjenggot tebal, pelipis menonjol, mata cekung, dahi menjorok dan kepalanya digundul. Ia berkata, Wahai Muhammad! Takutlah Anda kepada Allah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa pulakah lagi yang akan mentaati Allah, jika aku sendiri telah mendurhakai-Nya? Allah memberikan ketenangan bagiku atas semua penduduk bumi, maka apakah kamu tidak mau memberikan ketenangan bagiku? (HR Muslim 1762)

Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, penduduk Najed dari bani Tamim adalah orang-orang yang menyalahkan umat Islam lainnya yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka sehingga mereka menyempal keluar (kharaja) dari mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham) yang disebut dengan khawarij. Khawarij adalah bentuk jamak (plural) dari kharij (bentuk isim fail) artinya yang keluar.

Oleh karena orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, penduduk Najed dari bani Tamim salah memahami Al Qur’an dan As Sunnah sehingga mereka bersikap takfiri yakni mengkafirkan umat Islam yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka dan berujung menghalalkan darah atau membunuhnya.

Lihat saja sejarah kebengisan mulai dari perebutan dan perampasan kekuasaannya terhadap khalifah Utsmaniyah. Setelah kekuasaan di tangannya, mereka mulai mencari keturunan nabi dan membunuhinya. Maka timbul pertanyaan. Untuk apa mereka mumbunuh keturunan Rasul?

Jelas ini menyangkut banyak masalah. Di antaranya dendam keluarga, dendam kekuasaan, dendam kesukuan dan keturunan serta dendam dendam lainnya. Makanya mereka mencari cari kesalahan dan kelemahan yang sejak dulu kala sudah dianggap musuh oleh mereka.

Cuma saja para pengikutnya dan pembeonya di Indonesia ini tidak paham apa sesungguhnya yqng terjadi. Kebanyakan dari mereka hanya ikut ikutan. Kalau ustadznya sudah caci maki, mereka pun ikut seperti itu. Kalau ustadz nya membenci mereka pun ikut benci.

Inilah salah satu pemisah antara satu kelompok dan kelompok lainnya sampai akhir zaman.

Sampai turunnya imam mahdi, keturunan Rasulullah, yang kata mereka terputus-putus itu.

Kalau keturunan nabi terputus, tentulah Imam Mahdi tidak akan turun. Kalau Imam Mahdi tidak turun tentu hadits Nabi dianggap palsu oleh mereka. La haula wala quwwata illa billahil'aliyyil 'azim. Na'uzubillah. [PPQ Al-Amin Purwokerto/abd]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/ini-tokoh-khawarij-pertama-sejak-rasul-diutus.html

Jumat, 29 Mei 2009

Air Mustakmal dan Air Mutlak

PPQ Al-Amin Purwokerto - Pada dasarnya, air diciptakan dalam keadaan suci dan mensucikan. Kemudian ketika ia bersentuhan dengan manusia atau benda lain maka hukum air bisa berubah menjadi suci tapi tak mensucikan, air mutanajis, atau air mustakmal. Masing-masing memiliki ketentuan yang berbeda dengan konsekuensi hukum yang juga berbeda. Lalu apa pengertian air mustakmal?

Dalam pengertian etimologis, air mustakmal (maaul musta’mal) terdiri atas dua kata, yakni maaun (air) dan al-musta’malun (telah digunakan). Terdapat beberapa pendapat dari para ulama tentang pengertian air

mustakmal secara istilah. Di antaranya pengertian yang lazim digunakan adalah air yang secara kuantitas kurang dari dua kulah (kurang dari 216 liter) dan telah digunakan untuk menyucikan hadast, baik untuk wudlu atau mandi wajib. (Baca PPQ Al-Amin Purwokerto: Ini Alasan Laki-Laki Haram Memakai Emas)

Air Mustakmal dan Air Mutlak - PPQ Al-Amin Purwokerto
Air Mustakmal dan Air Mutlak - PPQ Al-Amin Purwokerto


Air Mustakmal dan Air Mutlak

Sebagian ulama mengemukakan pendapat bahwa air mustakmal adalah air yang kurang dari dua kulah yang telah digunakan untuk menyucikan hadast pada basuhan pertama. Mengapa basuhan pertama? Karena basuhan pertama adalah basuhan yang wajib, sedangkan basuhan kedua sampai ketiga adalah sunah.

Pada intinya, air mustakmal adalah air yang telah digunakan untuk bersuci atau menyucikan hadast tanpa tercampur sesuatu yang dihukumi najis dan kurang dari dua kulah. Contohnya, air wudlu yang menetes dari wajah. Artinya air tersebut telah digunakan untuk membasuh wajah dan jika air tetesan tersebut menetes pada air yang kita tadah untuk membasuh organ selanjutnya, maka air dalam tadahan itu bersifat mustakmal dan tidak dapat digunakan untuk bersuci lagi.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Menurut madzhab Imam Syafi’i dan Imam Hanbali, hukum dari air mustakmal adalah thahir ghoiru muthahhir atau suci tetapi tidak bisa menyucikan. Menurut madzhab Maliki, air mustakmal dapat menyucikan. Sedangkan menurut madzhab Hanafi, air musta’mal dihukumi najis. (Baca PPQ Al-Amin Purwokerto: Cara Samak Bangkai Kulit Binatang)

Kemudian, apakah air mustakmal selamanya tidak dapat dijadikan sebagai air yang thahir muthahhir? Jawabannya bisa, jika memenuhi keempat syarat ini: (i) Air tersebut sudah ada sebanyak dua kulah; (ii) jika kemasukan sesuatu yang najis, sifat-sifat air tidak berubah; (iii) jika tercampur dengan sesuatu yang suci, sifatnya tidak berubah dengan sangat; (iv) air tersebut dapat dikatakan sebagai air mutlak kembali.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Jika air bercampur dengan sesuatu yang suci dan dapat melebur dengan air seperti madu (‘asal) ataupun air tercampur dengan sesuatu yang tidak dapat melebur dengan air seperti minyak, kemudian terjadi perubahan yang sangat terlihat (taghyiiran faahisyan) pada sifat-sifat air (bau, rasa, warna), maka air tersebut tidak bisa digunakan untuk raf’ul hadast maupun izalatun najis, walaupun air tersebut sangat banyak.

Jika air tersebut kemasukan sesuatu yang najis yang menjadikan berubahnya salah satu sifat air walaupun perubahannya sedikit, hukum air tersebut adalah najis walaupun air dalam jumlah yang sangat banyak seperti lautan. Jika tidak mengubah sifat-sifat air, maka air tersebut tidak najis selama airnya lebih dari dua kulah.

Bila dalam air terdapat sesuatu yang secara alami ada di situ dan susah dihilangkan seperti lumpur atau ganggang sehingga sifat air berubah dengan sendirinya karena terlalu lama didiamkan maka hukum air tersebut adalah suci. Wallahu a’lam. [PPQ Al-Amin Purwokerto/ab]

Bacaan: Ibn Qasim, SyarahFath al-Qorib Al-Mujib Abu Syuja, Matn Ghoyatu wa Taqrib Riyadhul Badi’ah Terjemah Fiqih Empat Madzhab.  

Novianis Nur Mufidah, Mahasiswa STIQ An-Nur Yogyakarta.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/air-mustakmal-dan-air-mutlak.html

Sabtu, 28 April 2007

PMII Kutai Kartanegara Gelar Aksi Damai Pemilu Bersih

Kutai Kartanegara, PPQ Al-Amin Purwokerto. Puluhan mahasiswa PMII Kutai Kartanegara Kalimantan Timur berencana menggelar aksi damai menjelang pemilu di bundaran Jembatan Bongkok, Kamis (3/4). Aksi damai yang dimulai pukul 14.00 akan mengusung isu tentang pemilu bersih, jujur dan adil untuk Kutai Kartanegara.

Dalam aksi ini PMII Kutai Kartanegara berencana membagikan brosur yang berisi tentang masalah yang dihadapi dalam pemilu kali ini.

PMII Kutai Kartanegara Gelar Aksi Damai Pemilu Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kutai Kartanegara Gelar Aksi Damai Pemilu Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)


PMII Kutai Kartanegara Gelar Aksi Damai Pemilu Bersih

Koorlap aksi M Ali Akbar menjelaskan, apabila proses kampanye dan pencoblosan terdapat kecurangan atau tindakan buruk, maka pemilu akan menghasilkan anggota DPR yang hanya memikirkan kepentingan pribadi atau golongan saja.

Apabila ada caleg yang menjanjikan uang, tolak uangnya, jangan pilih orangnya, dan laporkan! tutur M Ali Akbar.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Sedangkan Ketua PC PMII Kutai Kartanegara Muhammad Sulaiman dalam orasi nanti akan memaparkan masalah-masalah pemilu yang dihadapi.

PPQ Al-Amin Purwokerto

Pemilu kali ini tidak akan jauh berbeda permasalahanya dari pemilu-pemilu sebelumnya, yakni masalah golput yang tinggi, kampanye hitam yang makin marak, jumlah DPT bermasalah dan politik uang yang seakan sudah melekat pada proses pemilu di Indonesia, kata Sulaiman dalam pers rilisnya.

PMII Kutai Kartanegara juga mengimbau warga untuk tidak golput, menolak politik uang, dan meminta KPU dan aparatur Negara (PNS) untuk tetap menjaga netralitas dalam pemilu kali ini.

Kita juga mengingatkan masyarakat, ketika sudah mencoblos dan mendapati wakil mereka duduk di kursi DPR untuk jangan melupakan janjijanji caleg saat kampanye. Kita tagih janji mereka ketika mereka terpilih! tegas Sulaiman.

PMII Kutai Kartenegara juga menegaskan akan mengawasi dan memantau pileg kali ini. (Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/51199/pmii-kutai-kartanegara-gelar-aksi-damai-pemilu-bersih

PPQ Al-Amin Purwokerto

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PPQ Al-Amin Purwokerto sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PPQ Al-Amin Purwokerto. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PPQ Al-Amin Purwokerto dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock